Jaga-jaga Anjloknya Perdagangan China

41

Surabaya,(bisnissurabaya.com) – PARA pengusaha besar sekaligus eksportir produk/komditas jualannya dan para pengamat ekonomi kita ditingkat nasional kini memperhitungkan besarnya kemungkinan dari dampak anjloknya proses perdagangan ekspor dan impor China.

Apa ada urusan bagi pebisnis kita yang beroperasi di Jawa Timur/Jatim? Terutama di kota Surabaya?

Dalam perekonomian global era kini, suatu guncangan terhadap salah satu sektor perekonomian yang terjadi di sesuatu negara yang punya potensi perekonomian dunia,– di mana China menjadi salah satu negara yang memegang potensi perdagangan/perekonomian global,– menjadikan guncangan itu bagaikan tepukan permukaan air di belanga. Seluruh permukaan air itu akan bergelombang sebagai imbas dari tepukan itu.

Cobalah kita baca catatan Bea Cukai, bagaimana ekspor China turun 20,7 persen dalam Februari lalu, anjlok terbesar sejak Februari 2016, 3 tahun lalu. Malahan Kantorberita Reuters memperkirakan penurunan 4,8 persen setelah Januari yang tiba-tiba melonjak 9,1 persen diperhitungakn dari Desember 2018, meski naik sedikit dalam Januari, tetapi kenaikan itu tidak dapat diandalkan. Sementara impomya turun untuk tahun bulan ketiga secara berturut-turut. Perkembangannya menunjukkan perlambatan lebih lanjut dalam perekonomian China ,meskipun negara itu telah menggelar serangkaian langkah dukungan untuk mencoba laju perlambatan itu. Pertumbuhan ekonomi tersebut melambat dari tahun lalu yang merupakan tingkat terendah dalam kurun waktu 28 tahuh terakhir. Impor ke China juga menurun 5 persen dari tahun sebelumnya. Lebih buruk dari perkiraan (target) analisis sebesar 1,4 – 1,5 persen dalam Januari 2019. Dalam impor komoditas utama menunjukkan penurunan, sehingga China mencatat surplus perdagangan (berbanding dari ekspornya) USD 4,12 miliar bulan itu,namun jauh lebih kecil dari perkiraan USD 26,38 miliar.

Apa imbas dari catatan-catatan di atas? Dalam lalu-lintas perdagangan global,– termasuk terhadap negara kita,– adalah terjadinya apa yang disebut sebagai “resesi perdagangan” yang bisa cepat atau lambat “menular” ke negara-negara lain. Terutama yang mempunyai hubungan perdagangan dengan China. Padahal, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang produk ekspornya terbanyak ke negara itu. Dari minyak kelapa sawit , bahan tambang, sampaipun bahan makanan dan bahan obat-obatan. Kalaulah terjadi penurunan ekspor dan impor di negara itu, berarti juga volume ekspor kita ke China juga menurun. Dikarenakan kita tidak ingin terjadi defisit ekspor dibandingkan impor, dengan sendirinya volume impor kita ex-China harus diturunkan. Menurut informasi, penurunan ekspor China itu bukan hanya karena atas kemauan pebisnis yang membeli produk mereka, akan tetapi juga disebabkan para produsen China (terutama sektor industri) mulai kekurangan bahan baku. Terutama yang didatangkan dari Amerika akibat “perang dagang” sekarang. “Resesi perdagangan” yang mulai bergelombang itu bukan hanya menimpa Cina, akan tetapi juga di AS, termasuk melemahnya tenaga kerja. Berdampak pula pada bursa keuangan di berbagai negara ekonomi besar sering turun dan sesekali saja naik sedikit.

Dengan demikian, bagi para pebisnis di Jawa Timur yang tidak sedikit terlibat dalam ekspor dan impor
dengan China, benar-benar bisa berjaga-jaga terhadap keguncangan “resesi perdagangan” yang sedang terjadi. Nampaknya, tarik-ulur soal kenaikan tarif/bea impor, pajak, pembatasan dan larangan produk-produk tertentu memasuki negara masing-masing, AS dan China, diikuti beberapa negara seperti Kanada dan beberapa negara Eropa, nampaknya dalam tahun ini urusan “perang dagang” itu tidak tuntas terselesaikan. Alias terus terjadi. Tidak salah apabila kalangan pemerintah dan pengamat ekonomi, menganjurkan pada para pengusaha dan sekaligus mencari terobosan-terobosan baru guna membuka pasar ekspor kita ke negara-negara lain yang semula belum terjamah perdagangan kita. Atau bagaimana cara meningkatkan penjualan komoditas ekspor kita ke pasar yang sudah ada.

Banyaknya produk China ke negara kita dalam bentuk keperluan sehari-hari sampaipun produk-produk elektronik dan canggih, memang tidak terhindarkan,karena politik dagang China adalah memproduksi barang-barang yang diperlukan,– terutama kebutuhan di negara-negara Pasifik dan Asia,– dengan harga bersaing lawan produksi asal AS atau Eropa dan malahan ex-negara-negara Asia sendiri seperti dari India, Jepang dan Korea Selatan. Setiap pemerintahan dari negara-negara yang bersaing dagangannya dengan China mengetahui, murahnya produk negara itu karena biaya tenaga kerja yang dibayar murah. Pada hal, sebagian bahan baku produksinya didatangkan dari luar negeri.Terbanyak untuk produk teknologi tinggi dan baja dari AS. Dengan guncangan “perang dagang” sekarang, bahan baku itu sangat berkurang atau harganya meninkat. Jadi, masa depan “produk murah” itu mungkin terguncang di pasaran. Termasuk yang ke negeri kita. Itulah antara lain sikap berjaga-jaga hendaknya dilakukan oleh para pengusaha kita. Juga masyarakat yang barangkali tergantung pada produk-produk China. (amak syariffudin)