Tantangan IA-CEPA bagi UKM-UMKM Jatim

3

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – MESKIPUN ‘tetangga jauh’ di tenggara kita, nyatanya kehidupan masyarakat Australia bagi masyarakat Jatim kurang begitu dikenal. Termasuk bagi para pengusaha menengah dan kecil (UKM), terutama yang tergolong UMKM. Meskipun ada juga produk para pelaku UKM kita juga menjadi barang dagangan yang disukai oleh wisman asal Australia ketika berwisata ke Bali. Mungkin pemasaran jenis tertentu komoditas buatan kita ke negara itu bukan dilakukan sendiri oleh produsennya, akan tetapi oleh pengusaha eksportir yang mempunyai hubungan bisnis dengan rekannya pengusaha di Australia. Dengan sendirinya, volume produk yang diekspor ke sana sering tidak maksimal. Maklum, dalam perdagangan antara Indonesia dengan Australia, seolah terdapat hambatan. Negara itu seolah hanya punya  pintu kecil saja untuk dijadikan pasar produk kita.

Pada Senin, 4 Maret lalu, di Jakarta dilakukan penanda tanganan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA-CEPA (Perjanjian Kemitraan Komprehensif) yang dilakukan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan, Pariwisata &  Investasi Australia Simon Birmingham, disaksikan Wapres Jusuf Kalla. Inti dari perjanjian itu adalah pembebasan bea ekspor kita ke negara Kangguru itu dan pengurangan tarif antara lain otomotif, tekstil, alas kaki, agrobisnis, makanan-minuman dan furnitur. “IA-CEPA mendorong integrasi kedua negara ke dalam rantai nilai global” kata Menteri Simon Birmingham.

Rencana perjanjian itu sebenarnya dirancang sejak 10 tahun lalu. Yakni di tahun 2010. Namun banyak halangan politik yang menyebabkan tertunda-tunda. Terakhir ketika tahun lalu, Australia saat menetapkan kantor Kedubesnya di Israel dipindah dari Tel Aviv ke Yerusalem barat yang diprotes Indonesia. Akhirnya berbagai hambatan bersifat politis yang tidak langsung mengenai negara kita itu bisa disingkirkan. Terlebih lagi, sejak “perang dagang” AS-Tiongkok, Australia juga ikut mengguncang politik perdagangan Cina dalam masalah produk-produk Cina yang memasuki negara itu dan sebaliknya.  Pada hal. impor ke Australia terbesar berasal dari Cina. Apabila anda ke kota-kota besar negara itu, semua produk untuk souvenier atau kebutuhan kelengkapan pakaian perorangan, perlengkapan/alat kesehatan dan lain-lain adalah “Made in China”. Dari topi ke pakaian,tas, sabuk, kaos kaki, alas kaki, kursi-roda, tongkat  sampai dengan pernik-pernik model dan tujuan-tujuan wisata seperti kota-kota besar Sydney, Melbourne, Brisbane, Perth dan lain-lain serta beberapa obyek wisata Australia yang juga dibuat di Cina. Juga sebagian produk makanan-minuman yang mengisi supermarkets, namun yang disukai masyarakat.

Baik pemerintah maupun pengamat ekonomi kita selain menganjurkan kepada para pengusaha yang produksinya sesuai untuk konsumen Australia guna berupaya memanfaatkan sebesar-besarnya hasil IA-CEPA. Tetapi, bagaimana caranya?

Sebab bukan hal baru, kalau sangat sedikit produk untuk ekspor UKM asal Jatim yang dipasarkan di negara tetangga itu. Sedikit sekali yang dapat “meraba” apa sebenarnya produk usaha-usaha UKM (syukur kalau juga produk UMKM) yang bisa dijual di sana. Kecuali produk-produk bahan makanan (seperti mi, ikan/udang kering, beberapa bumbu masak, kacang-kacangan, sigaret) yang sudah memasuki supermarkets di kota-kota besar di sana. Namun kecilnya volume pasar produk kita itu antara lain karena tingginya bea impor kita ke sana.

Di sinilah sebenarnya peran dari pihak Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian dan lain-lain memberikan informasi dan teknologi/kiat yang wajib dijabarkan oleh Dinas-dinas  Perdagangan, Perindustrian, Pertanian, Kesehatan (seluk beluk karantina), Bea Cukai  dan lain-lain di   tingkat provinsi untuk para pengusaha itu. Di Jatim khususnya, sedikit sekali pengusaha UKM (apalagi UMKM) yang memahami produk-produk apa yang bisa “marketable” di masyarakat negara itu. Juga diperkenalkan seluk-beluk dan teknologi produksi, kemasan sampaipun cara mengekspornya. Mungkin dapat ditinjau dari gejala saat produksi UKM yang memasarkan produknya di Bali dan ternyata disukai turis-turis asal Australia. Upaya yang dilakukan semacam itulah antara lain fungsi dan peran dinas-dinas tersebut. Harus dijelaskan  selain dapat “merebut” minat/selera orang Australia , juga bagaimana menjaga kualitas produksinya. Seperti untuk jenis makanan, maka bukan hanya produknya yang diperhatikan, akan tetapi bagaimana kemasannya. Karena Australia ketat dalam melakukan karantina jenis tanaman dan makanan yang dianggap bisa membawa kuman/hama/penyakit bagi manusia dan tanaman di sana. Demikian pula bisa dipelajari, apakah pasar komoditas itu hanya untuk orang-orang Australiia berkulit putih? Masalahnya, penduduk negara itu kini diisi kira-kira seperempatnya adalah orang-orang asal Asia (Cina, Vietnam, India, Pakistan, Filipina, Thailand dan Indonesia), dari Timur Tengah dan asal negara-negara Pasifik. Adalah bijaksana kalau pihak-pihak pengusaha yang sudah terbiasa mengekspor dagangannya ke sana untuk ikut aktif bersama dinas-dinas itu dalam sosialisasi mengenai produk dan tatacara ekspor tersebut. Tentu saja tidak dilupakan peranan asosiasi-asosiasi perdagangan termasuk Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur yang bisa dan mau menyumbangkan pengetahuan masing-masing  tentang seluk beluk ekspor tersebut guna memanfaatkan IA-CEPA.

Mengapa kita harus aktif memanfaatkan hasil perjanjian itu? Kalaulah sudah ada kesempatan macam itu, akan tetapi kita tidak mampu menafaatkannya, maka apa yang dikawatirkan pengamat ekonomi Lana Soelistianingsih (5/3), yakni “Jangan sampai terulang kejadian perjanjian perdagangan bebas, setelah naskah kerja sama ditanda tangani, justru aliran barang impor lebih kencang daripada ekspor.” Sedangkan Ahmad Heri Firdaus, peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyatakan  kalaulah kita lebih kompetitif, berarti bisa meningkatkan ekspor yang cukup signifikan. Katanya, selain harus kompetititf, juga ada tantangan lain berupa persyaratan Non Tariff Measure (NTM) atau aturan-aturan non-tarif yang ditetapkan Australia guna melindungi produk dalam negerinya.

Jadi, Indonesia harus bisa mengangkat total volume ekspor kita ke negara tetangga itu.. Tahun 2018, total volume perdagangan kedua negara USD 8,6 miliar.”Dari posisi neraca perdagangan, Indonesia berada di posisi yang lebih tertantang karena saat ini mencatatkan defisit terhadap Australia sebesar USD 3,02 miliar!’ kata Mendag Enggartiasto Lukita. Inisiatif, kreativitas dan kinerja diperlukan demi memajukan perdagangan kita memanfaatkan pengurangan tarif hingga 100 persen bagi produk kita, dan 94 persen bagi produk Australia ke negeri kita itu. (amak syariffudin)

,