Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Kisruh pedagang Hi Tech Mall belum menunjukkan titik terang. Walau mereka sudah tiga kali bersurat ke Pemerintah Kota/Pemkot Surabaya dan empat kali berunjuk rasa  di depan Balai Pemuda.

Keresahan pedagang bermula dari berakhirnya kerjasama Build Operatie and Transfer (BOT) antara Pemkot Surabaya dengan PT Sasana  Boga yang dibuat pada 28 Mei 1984. Dalam perjanjian dinyatakan kerjasama berakhir 31 Maret ini.

Sebagai konsekuensi berakhirnya perjanjian, Hi Tech Mall harus dikembalikan ke Pemkot Surabaya dalam kondisi baik, bersih, dan kosong. Kata kosong inilah yang memicu keresahan para pedagang. Apalagi sampai hari ini belum ada rencana yang jelas untuk mengakomodir kembali 400-an pedagang.

Salah satu pedagang Heru, mengatakan, Pemkot Surabaya, yang saat itu diwakili Kepala Bappeko, Agus Imam Sonhaji, setahun yang lalu menyatakan, Hi Tech Mall akan disempurnakan fungsinya untuk arena kesenian tanpa menghilangkan fungsinya sebagai pusat IT. Sehingga tidak ada pengosongan.

Hal ini membuat pedagang sedikit bisa tenang. Namun, ketenangan tersebut tak berlangsung lama. Karena pada akhir 2018 banyak pedagang yang menjadi bingung  karena ketidakjelasan pembayaran stand untuk Maret ini harus diserahkan kepada siapa. Kepada Pemkot Surabaya ataukah kepada PT Sasana Boga.

Berawal dari kegelisahan tersebut, akhirnya sebagian besar pedagang ancang-ancang mencari tempat alternative berjualan untuk mengatisipasi dikosongkannya Hi Tech Mall sebagaimana bunyi perjanjian tersebut diatas. Beberapa waktu yang lalu, sekitar 200 pedagang mendatangi Maspion Square untuk menjajaki peluang buka lapak disana.

Mengingat disana ada  space Maspion Technology (Mastech) yang selama ini dikenal sebagai pusat penjualan alat teknologi seperti handphone, laptop, dan komputer. “Beberapa hari yang lalu perwakilan pedagang sudah melakukan survey untuk persiapan mereka yang mau pindah kesini. Dan kami  managemen Maspion Square sudah mempersiapkan eksodus tersebut,” kata Direktur Utama Maspion Square Yudi Kristanto kepada Bisnis Surabaya belum lama ini.

Banyaknya pedagang Hi Tech Mall yang memutuskan untuk pindah ke Maspion Square karena mall ini memiliki lahan yang luas dengan area parkir yang memadai, serta dikenal sebagai sentra teknologi. Hal ini terbukti dengan adanya pusat otomodif terpadu. Yaitu, pusat variasi dan asesoris mobil di tempat tersebut.

Selain itu Maspion Square dikenal sebagai mall yang memiliki komitmen yang kuat untuk memanjakan pelanggannya. Setiap bulan di tempat ini diundi puluhan hadiah alat electronik  seperti TV, lemari es, mesin cuci, setrika, dan juga sepeda motor, setiap tahun dalam 1 periode juga diundi unit mobil Suzuki.

“ Awalnya kami mengundi Suzuki Karimun, kemudian Ertiga, selanjutnya  New Ertiga, dan tahun depan sesuai permintaan pelanggan kami berencana mengundi Pajero,” jelas Direktur Utama yang juga Rohaniawan ini.

Pelanggan setia Maspion Square tidak hanya terbatas dari Surabaya saja, tetapi juga dari Sidoarjo, Mojokerto, dan Banyuwangi. Dan setiap dilaksanakan pengundian biasanya mereka sudah hadir 2 jam sebelum pelaksanaan. Mereka  yang datang membawa beberapa kupon,  namun ada juga  yang hanya membawa 1 kupon saja. Untuk  pengundian Maspion Vaganza periode 19 ini, hadiah 1 unit sepeda motor Yamaha S 2017 dimenangkan oleh Nurul S.

“  Hadiah mobil Suzuki Karimun beberapa waktu yang lalu, pemenangnya adalah seorang ibu yang hanya memiliki 1 kupon undian yang diterimanya setelah membeli 1 unit mesin jahit di Singer,” tambah pria yang selalu berpenampilan rapi ini.

Saat ini Maspion Square juga sedang mempersiapkan diri untuk menjadi mall lifestyle yang digandrungi kaum milineal, dengan menata ulang stand dan tenant yang ada dengan komposisi  kuliner sebanyak 60  persen dari stan yang ada. Selain itu juga akan menghadirkan bioskop CGV yang dikenal sebagai jaringan bioskop kekinian yang digandrungi anak muda karena konsep vintage yang dimilikinya. (nanang)