(bisnissurabaya.com) – Jawa Timur/Jatim memiliki pemimpin baru. Yakni, Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan  Wakil Gubernur/Wagub Emil Elestianto Dardak, yang dilantik Presiden Joko Widodo di Jakarta, Rabu (13/2). Sejumlah janji kampanye gubernur wanita pertama ini telah menanti segera diwujudkan daripada ditagih arek Jatim.

Saat itu, Khofifah menyodorkan visi ‘Terwujudnya masyarakat Jatim yang sejahtera, seimbang, unggul, dan berahklak dengan tata kelola pemerintahan yang partisipatoris, inklusif, dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan’ ditopang dengan enam misi. Sementara misi dan program Khofifah-Emil diantaranya, membangun Jatim secara utuh dengan mendayagunakan seluruh potensi melalui pembangunan sektor kebudayaan, pendidikan, dan kesehatan dengan dilandasi oleh kearifan lokal yang berbasis pada nilai-nilai kesantrian, keagamaan, dan kebudayaan.

Membangun ekonomi berbasis gotong royong sehingga tercapai keadilan dan kesejahteraan yang menjangkau semua lapisan serta mendorong keberpihakan terhadap sektor ekonomi kecil dan menengah yang sinergis dengan kekuatan ekonomi yang lebih besar. Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, terbuka, dan partisipatoris sehingga terwujud kebijakan yang inklusif, di atas landasan kepemimpinan yang meritokratik, inovatif, tegas, dan mengayomi.

Memperkuat demokrasi kewargaan untuk menghadirkan ruang sosial yang menghargai prinsip kebhinekaan. Serta ingin mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan untuk menjamin keselarasan ruang ekologi, sosial, ekonomi, dan budaya. Selain visi dan misi, ada 11 program dibidang ekonomi yang dijanjikan akan direalisir setelah menjabat gubernur.

Pakar ekonomi politik dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Slamet Riyadi, mengatakan, mengatakan, dengan modal pengalaman Khofifah, sebagai mantan mensos serta program PKH, dia optimistis Khofifah, tentunya punya informasi yang detail terkait daerah mana yang perlu disejahterakan hingga ke tingkat desa.

Sehingga, pelaksanaan program itu tidak rumit. Terlebih jika ditambah dengan konsep peningkatan kesejahteraan yang mereka usung. “Gubernur Khofifah bukan teknokrat, jadi memang harus dibantu. Yang bisa membantu itu Emil Dardak, yang seorang teknokrat,” ujarnya. Ia menambahkan, tingkat optimistis dari perkembangan ekonomi di Jatim untuk mengentaskan kemiskinan juga ketimpangan, harus diuji terlebih dahulu, dari paket Khofifah – Emil.

Ia menilai waktu kerja selama setahun pertama nantinya akan mampu menjadi uji coba keberhasilan program. “Kalau 100 hari saya rasa kurang. Idealnya setahun, mereka bisa merencanakan program sosialisasi hingga implementasi dalam penerapannya,” pungkasnya. sementara Janji Gubernur Khofifah Indah Parawansa dibidang perekonomian adalah merestrukturisasi mata rantai produksi dan distribusi produk pertanian dan memperkuat ekonomi kerakyatan koperasi, modernisasi pasar tradisional, dan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk beraktivitas di ritel modern.

Ketua Kadin Surabaya Dr Ir Jamhadi MBA, menyampaikan, beberapa masukan yang penting tentang kondisi perekonomian dari sudut pandang pengusaha. Yaitu kurangnya sosialisasi peraturan tentang  selisih harga kebutuhan pokok dari hulu hingga hilir. Hal ini menyebabkan pedagang mendapat harga tinggi yang menyebabkan  high cost economy (ekonomi berbiaya tinggi).

“Karena ini berkaitan dengan janji Gubernur Jatim, Khofifah, untuk merestrukturisasi mata rantai produksi dan distribusi produk pertanian, utamanya produk makanan. Maka langkah ini bisa menjadikan competitiveness yang bagus,” kata Ketua Kadin Surabaya Dr.Ir Jamhadi, MBA kepada Bisnis Surabaya, belum lama ini.

Jamhadi, yang juga CEO PT Bumi Raya ini, menyatakan, di Jatim saat ini terdapat sekitar 27 juta angkatan kerja. Sedangkan lapangan kerja yang tersedia hanya bisa tampung 2,5 juta orang. Karena itu sisanya banyak yang bergerak di sektor Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM).

“Kadin saat ini fokus bersama pemerintah Jatim mendorong UMKM untuk bisa masuk pasar ritel modern dan menembus pasar ekspor ke berbagai negara” tambah pria yang selalu berpenampilan rapi ini.

Sekadar diketahui, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak diusung Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai NasDem, Partai Hanura, PAN dan PKPI, saat Pilgub Jatim 2018 lalu. Khofifah-Emil terpilih sebagai pemenang usai memperoleh 10.465.218 suara atau 53,55 persen dalam Pilkada Jatim.

Lawannya, pasangan calon gubernur Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno, yang diusung PDIP, PKB, PKS dan Gerindra, memperoleh 9.076.014 suara atau 46,5 persen. Total suara yang masuk sebanyak 20.323.259 suara dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Dari jumlah itu, suara yang dinyatakan sah sebanyak 19.541.232, sedangkan 782.027 suara dinyatakan tidak sah.

Khofifah-Emi menggantikan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf yang menjabat sebagai Gubernur-Wagub Jatim dua periode 2008-2018. Khofifah Indar Parawangsa, sebelumnya menjabat Menteri Sosial sejak 27 Oktober 2014-17 Januari 2018. Ia juga adalah Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada 1999-2001.

Pada Januari 2018, Khofifah mengundurkan diri dari jabatan Menteri Sosial sebab menjadi peserta Pemilihan umum Gubernur Jawa Timur 2018. Sebelumnya, di 2008 dan 2013, Khofifah pernah mencalonkan diri sebagai Gubernur Jatim tapi kalah dari pasangan Soekarwo-Saiffulah Yusuf. Sedangkan Emil Dardak adalah Bupati Trenggalek sejak 17 Februari 2016 hingga 12 Februari 2019.  (ton/nanang)