Produk Macaroni Bajang. Foto/nanang

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Sebuah buku karya Sindhunata yang berjudul Anak Bajang Menggiring Angin adalah novel yang menceritakan tentang sosok Kera Putih Hanoman dalam membantu Prabu Rama merebut kembali Dewi Sinta istrinya yang diculik Raja Rahwana dari Negeri Alengka.  Novel tersebut adalah salah satu  dari sekian buku yang sudah dibaca oleh Fifi Meister owner Macaroni Bajang, sebagai seorang yang menyukai sastra, dia juga sudah membaca buku karya Khalil Qibran, Jalludin Ruhmi, dan Pipiet Senja.

Nama Bajang yang  dalam bahasa melayu berarti muda, menjadi inspirasi tersendiri bagi Fifi dalam memberi nama produk  macaroni yang dihasilkannya.Macaroni  tersebut kemudian dipasarkan  di beberapa warung, supermarket, resaler, dan online.

“ Alhamdulilah, macaroni Bajang sudah masuk di Sakinah, Satumart, dan Rek Ayo Rek,” kata Owner macaroni Bajang kepada Bisnis Surabaya beberapa hari yang lalu.

Sebelumnya Fifi Meister, adalah mahasiswi Universitas Islam Negeri Malang  Fakultas Keguruan yang lulus tahun 2010, kemudian ia melanjutkan kursus di Kampung Inggris Pare Kediri. Terus bekerja sebagai guru TK, karyawan  Borneo TV, call center Telkomsel,  dan front office Hotel Swiss Bell Inn Palangkaraya.

Tahun 2016, wanita kelahiran Sampang 9 April 1988 menikah dengan Bintang Fajar, dan kembali tinggal di Surabaya setelah sekian lama tinggal di Palangkaraya. Setelah menikah, Fifi tidak lagi bekerja. Dia hanya ibu rumah tangga yang mengasuh anaknya Abraham Kareem Ben arfa, karena itu dia mengambil kesibukan membuat boneka flannel dan  memproduksi macaroni Bajang.

”Saat ini kemampuan produksi macaroni Bajang perbulan mencapai 50 kg,  dengan omzet sekitar Rp 10 juta” jelas  perempuan manis berhijab ini.

Macaroni Bajang tidak hanya beredar di Surabaya dan Sidoarjo saja, tetapi juga  pernah dibawa sampai Banjarmasin, Palngkaraya,, Maluku, hingga Papua. Hal ini disebabkan oleh fenomena maraknya makanan milenial yang ngehit dan dan kekinian, termasuk basreng dan macaroni.

Sudah banyak suka dan duka yang dialami oleh Fifi dalam menjalankan bisnis ini. Termasuk produknya pernah dicampakkan dan dibuang oleh orang yang hendak dititipi produknya itu. Namun dia menerimanya dengan senang hati. Kedepan fifi ingin usahanya maju berkembang pesat, dan produk macaroninya dikenal banyak orang.

“ Saya ingin  tetap mengerjakan bisnis ini sembari mengajar. Nggak papa walaupun mengajar honornya kecil. Karena saya memang tidak bertujuan cari uang dari mengajar,” tambah Fifi. (nanang)