Sidoarjo, (bisnissurabaya.com) – Rapat koordinasi antara perwakilan warga Pondok Jati, pejabat Pemkab Sidoarjo serta PDAM Delta Tirta Sidoarjo soal Distribution Center (DC) air umbulan menemui jalan buntu. Warga bersikeras menolak kehadiran proyek tersebut.

Rencana Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Delta Tirta Sidoarjo untuk membangun Distribution Center (DC) di lahan Fasilitas Umum (Fasum) Perum Pondok Jati, Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran, Sidoarjo tetap menuai pro kontra. Ini menyusul, pasca pertemuan antara Komisi A DPRD Sidoarjo, PDAM dan warga yang menolak rencana pembangunan.
Hasil rekomendasinya tak digubris PDAM Delta Tirta.

Hal ini dibuktikan PDAM Delta Tirta tetap ngotot membangun DC itu di selatan masjid di lampu merah Jalan Ponti. Selain itu, tak ada upaya PDAM Delta Tirta untuk menggeser lokasi rencana awal pembangunan itu. Alasannya, karena lahan Fasum Perum Pondok Jati dianggap paling strategis untuk pembangunan DC atau transmisi air umbulan itu.

“Seharusnya dari pada tarik ulur pro kontra seperti ini, harus dirapatkan lagi. Rapat bukan hanya melibatkan pengurus RT maupun RW saja, tetapi harus ada perwakilan warga per RT minimal 5 orang. Agar tidak ada dusta atau yang ditutup-tutupi dalam pembangunan DC ini,” jelas Ny Juwanto, Jumat (1/3) lalu.

Perempuan ini mengaku warga banyak yang merasa ketakutan saat dibangun DC dengan ketinggian 15 meter itu. Apalagi, pembangunanya menggunakan tiang pancang besi. Warga ketakutan rumah mereka retak saat proses pembangunan.
“Belum lagi, lalu lalang truk pengangkut urukan dan material bangunan. Kalau jalan ditutup karena dianggap mengganggu, warga perumahan. Apa diperbolehkan warga menutup jalan ke pemukimannya sendiri,” paparnya.

Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Sidoarjo, Benny Airlangga, menyatakan, dalam rapat ketiga warga belum mendapatkan hasil maksimal. Karena ada yang mengusulkan dirapatkan ditingkatan RT maka semua diserahkan ke pihak RT dan RW setempat.
“Yang penting warga mengusulkan unek-uneknya. Jangan sampai ada pokoknya menolak. Pro dan kontra itu biasa karena melibatkan banyak warga. Yang jelas lokasi pembangunan DC itu sudah bukan Fasum Perumahan Pondok Jati lantaran sejak 2017 sudah diserahkan ke Pemkab Sidoarjo.

Untuk desain bangunan 15 meter kan bisa diredesain asal warga sepakat atas pembangunan itu,” katanya.
Sedangkan Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesejahteraan Sosial Pemkab Sidoarjo, Heri Soesanto, menegaskan, jika warga tetap ngotot keberatan atas pembangunan DC itu bisa mengajukan berbagai bentuk keberatan melalui jalur hukum. Apalagi pembangunan DC itu untuk kepentingan masyarakat umum bukan untuk kepentingan pribadi.

“Langkah yang dilakukan Pemkab Sidoarjo ini sudah sesuai Permendagri Nomor 9 Tahun 2009 dan Perda Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Fasum. Tapi karena ada yang pro dan kontra maka harus sama-sama dihormati. Kalau tak ada jalan maka bisa ditempuh jalan lainnya. Karena Fasum sudah diserahkan ke Pemkab oleh pengembangnya maka menjadi aset Pemkab Sidoarjo bukan aset perumahan lagi,” pungkasnya.

Sebelumnya 29 perwakilan warga Pondok Jati mendatangi kantor DPRD Sidoarjo, Senin (14/1). Perwakilan warga RT 35, RT 36, dan RT37, RW 09, Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran, Sidoarjo ini menolak rencana pembangunan Tower PDAM Delta Tirta Sidoarjo senilai Rp 189 miliar di sekitar lingkungan Fasum mereka.
Penolakan warga ini disampaikan dalam hearing yang digelar antara perwakilan warga, Komisi A DPRD Sidoarjo. (ttk)