Kom Fitria : Tekuni Usaha Bermodal Kejujuran

62

Hidup terkadang mirip sinetron. Ceritanya banyak yang mengharu biru dan dipenuhi dengan adegan kesedihan yang dialami oleh tokoh utamanya. Seperti yang ditebak banyak orang, bahwa perlakuan kasar penuh penghinaan itu selalu diakibatkan oleh keadaan sehari-hari yang kurang menguntungkan.

Dalam dunia nyata, masih banyak yang mengalami kondisi yang hampir sama seperti cerita sinetron. Adalah Kom Fitria, perempuan kelahiran Surabaya, 26 Agustus 1979 yang mengalami liku-liku hidup bak adegan telenovela. Perempuan anak kelima dari tujuh bersaudara ini tergolong orang yang kurang beruntung.

Dimasa anak-anak, dia menjalankan aktifitas sekolah sambil berjualan sayuran,  kemudian setelah  masa dewasa, dia bekerja di pabrik sepatu Fortune yang berada di kawasan Tambak Sawah Sidoarjo. Setiap hari, dia diantar suami berangkat kerja  dengan menggunakan sepeda pancal.

“Kemudian saya memberanikan diri mengangsur sepeda motor bekas milik saudara. Sejak saat itu, saya lebih giat bekerja karena punya tanggungan menghidupi keluarga termasuk ibu dan mertua,” kata owner keripik Tempe Az Zahra Kom Fitria, kepada Bisnis Surabaya, belum lama ini.

Nasib baik rupanya tidak senang berlama-lama kepada alumni SMEA Yos Sudarso ini. Setelah 12 tahun bekerja di Pabrik box kardus, dia harus menerima kenyataan terkena Pemutusan Hbungan kerja (PHK). Kemudian uang pesangonnya dibuat modal membuka usaha pembuatan peyek.

Setelah itu, dia bekerja di pabrik cat sambil mengembangkan usaha pembuatan keripik tempe yang di pasarkan secara bersama-sama dengan  teman –temannya ke berbagai tempat. ”Usaha keripik tempe sudah saya anggap seperti anak sendiri yang harus dijaga kualitas produk maupun kemasannya,”  ujar istri Eko Suyanto ini.

Karena produk keripik tempenya menggunakan bahan bumbu celup dan minyak khusus, maka memiliki kelebihan kering, renyah, dan gurih. Sehingga sering dipesan orang untuk digunakan sebagai souvenir acara pernikahan. Bahkan, produknya dibawa pelanggan sebagai buah tangan sampai ke Bandung dan Jakarta.

“Namun, sekali waktu saya pernah merasa sedih karena mengalami gagal produksi. Sehingga tempe sebanyak 5 kg terpaksa dibuang karena hancur saat digoreng,” kenang Kom Fitria. Sejak saat itu, kehidupannya mulai merangkak baik. Setiap bulan omzetnya sekitar Rp 2,5 juta.

Dengan pendapat itu, Kom Fitria, bisa membantu suaminya memenuhi kebutuhan rumah tangga dan mampu membeli mesin perajang dan pengiris tempe (spiner). Bahkan, setiap Jumat dia bisa melakukan sedekah berbagi nasi.

Kom Fitria, selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mengutamakan nilai kejujuran dalam berbisnis dan menjalankan aktivitas hidup lainnya. Bagi dia kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana- mana. (nanang)