Jatim Menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) 

35

Oleh : Sulistyo Budi Utomo, B.BA, MA.Ec, Ph.D.
(Sie. Penelitian LP2M, STIESIA Surabaya)

 

(bisnissurabaya.com) – Masyarakat Jawa Timur baru saja mempunyai Gubernur dan Wakil Gubernur baru untuk periode lima tahun mendatang (2019-2024). Gubernur Jawa Timur dibawah pimpinan Khofifah Indar Parawangsa dan Wakil Gubernur, Emil Dardak, resmi dilantik pada tanggal 13 Februari 2019. Kedua pasangan ini mempunyai visi

“Terwujudnya masyarakat Jawa Timur yang sejahtera, seimbang, unggul dan berakhlak dengan tata kelola pemerintahan yang partisipatoris, inklusif, dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan”. Selanjutnya salah satu dari total lima poin misi dari kedua pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur ini adalah

“Membangun insan Jawa Timur secara utuh dengan mendayagunakan seluruh potensi melalui pembangunan sektor kebudayaan, pendidikan dan kesehatan dengan dilandasi oleh kearifan lokal yang berbasis pada nilai-nilai kesantrian, keagamaan dan kebudayaan”

Tujuan dari artikel ini adalah untuk memberikan masukan dari misi tersebut agar terjadinya pemerataan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur dan siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) pada lima tahun mendatang.

Di dalam misi tersebut diatas terkandung makna bahwa pasangan Gubernur Khofifah dan Emil Dardak akan melakukan pembangunan secara menyeluruh dengan memanfaatkan potensi yang ada di Jawa Timur. Luas daerah Jawa Timur sebesar 47,922 km2 dengan jumlah penduduknya 42,030,633 (sensus 2017), maka Jawa Timur memiliki wilayah terluas di antara 6 propinsi di Pulau Jawa. Selain itu Jawa Timur memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Kontribusi Jawa Timur terhadap perekonomian Indonesia cukup tinggi yakni sekitar 14.85% terhadap Produk Domestik Bruto nasional. Dari data yang ada diketahui bahwa Jawa Timur memiliki potensi yang sangat besar di dalam bidang kesenian dan kebudayaan. Apabila kesenian dan kebudayaan tersebut dikemas dengan menarik maka akan menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Saat ini pariwisata Jawa Timur di dominasi oleh kota Malang. Berbagai macam atraksi ada di kota dingin tersebut. Daerah yang sangat terkenal yaitu Kota Wisata Batu. Di kota wisata Batu terdapat berbagai macam tujuan wisata seperti Batu Night Spectacular, musium angkut, lalu Jatim Park 1, 2 dan 3. Pengunjung Jatim Park berasal dari seluruh Indonesia dan juga beberapa turis manca negara. Kesuksesan Jatim Park ini berhasil mendongkrak nama Jawa Timur. Kunjungan wisatawan sangat meningkat pada musim liburan nasional atau sekolah. Kota Batu yang tadinya lengang di musim liburan jadi padat dan macet dimana-mana. Banyak sekali wilayah Jawa Timur yang seharusnya bisa dibuat alternatif tujuan wisata baru. Namun, permasalahannya adalah tidak semua kota tujuan wisata di Jawa Timur sudah siap secara infrastruktur untuk menyambut para wisatawan.

Salah satu contoh nya adalah Gunung Kelud di Kediri. Namun Gunung Kelud di Kediri kurang mendapatkan kunjungan dari wisatawan manca negara dibandingkan dengan Gunung Bromo yang relatif dekat dengan Bali. Penyebabnya adalah kurangnya promosi dan juga jarak yang jauh dari airport (lebih kurang 160km). Namun, jarak ini bisa di siasati dengan dibangunnya infrastruktur dan beberapa atraksi wisata yang menarik di sepanjang jalan menuju Gunung Kelud. Tujuannya adalah agar wisatawan yang akan berkunjung ke Gunung Kelud terhibur dengan adanya beberapa tempat wisata yang sejalan untuk menuju ke Gunung Kelud. Itulah salah satu alasan mengapa pemerintah saat ini sedang menggalakkan pembangunan desa wisata. Konsep dari desa wisata ini adalah untuk menyajikan hiburan wisata yang terintegrasi (atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang lainnya).

Namun terwujudnya desa wisata harus diimbangi dengan persiapan-persiapan yang tidak mudah oleh pemerintah (propinsi dan daerah) dan juga dukungan masyarakat lokal. Persiapan tersebut antara lain adalah infrastruktur yang memadai dan juga kesiapan penduduk lokal dalam melayani para wisatawan. Pemerintah daerah harus bekerjasama dengan pemerintah propinsi untuk bisa mendidik masyarakat yang berada di dalam desa wisata guna mendapatkan Skill yang diinginkan. Beberapa kemampuan yang harus ditingkatkan antara lain adalah kemampuan berbahasa asing seperti Inggris, Mandarin dan lainnya. Kemampuan bahasa asing ini tujuannya agar bisa menjadi guide yang baik apabila terdapat kunjungan dari wisatawan asing. Kemampuan berbahasa Mandarin juga diperlukan karena kunjungan dari wisawatan yang berasal dari China ke Indonesia juga terus meningkat. Oleh karena itu penting untuk memberikan bekal kemampuan bahasa Mandarin selain bahasa Inggris yang wajib dikuasai oleh masyarakat desa wisata tersebut.