Bila Terminal Bus Tol itu Terwujud

18
Amak Syariffudin

Surabaya,(bisnissurabaya.com). CALON penumpang bus antar kota akan berjubel, kalaulah Kementerian Perhubungan, membuka trayek untuk bus dari daerah menuju Jakarta dan sebaliknya, melalui jalan tol Trans Jawa. Masyarakat berharap, menjadikan wacana agar pemerintah mengadakan bus trayek jalan tol Trans Jawa dan pengadaan terminal bus di jalan tol. Wacana ini sudah sampai di Kementerian Perhubungan. Sehingga sedang dibahas Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan sebagaimana menurut Dirjen Perhubungan Darat, Budi Setiadji (26/2). Dengan harapan dapat terwujud. Kesan macam itu bermunculan sebagai wacana masyarakat yang mengetahui manfaat jalan tol sebagaimana yang dinyatakan Presiden Jokowi. Bayangkan, nantinya dari Banyuwangi hingga Jakarta sampai Merak, hanya memakan waktu barangkali selama dua hari dengan waktu istirahat di jalan. Sewaktu PT KAI menjadikan trayek Jakarta-Surabaya pp. dengan KA Anggrek lewat Pantura, dari sekitar 13 jam menjadi cuma 8 jam, boleh dikata kereta api itu tak pernah kosong dan dapat memberi kesan yang baik karena terjaga keamanan, kebersihan dan rata-rata ketepatan waktunya.

Kalaulah kita menggunakan bus antar-kota dari Jakarta-Surabaya saja, bisa lewat tol, tetapi harus memasuki boleh dikata di setiap kota untuk menurunkan/menaikkan penumpang. Terkadang harus masuk terminal bus di kota bersangkutan. Habislah waktu dengan cara itu. Begitu pula beaya tol menjadi lebih tinggi. Tidak salah muncul wacana, apakah pemerintah tidak bisa mengadakan terminal-terminal bus di lokasi yang ditentukan dan izin trayek umpama Banyuwangi-Surabaya-Jakarta-Merak. Tentu saja dilayani bus khusus trayek jalan-tol. Dengan begitu, kalaulah sekarang orang yang tinggal di Banyuwangi atau Probolinggo, harus ke Surabaya dulu untuk kemudian naik kereta api ataupun pesawat terbang menuju Jakarta. Meskipun sekarang PT KAI membuat trayek Jakarta-Malang dan lain-lain. Sedangkan kelebihan fasilitas bus-tol demikian jadwal waktu keberangkatan tidak terbatas seperti lewat kereta api. Bisa saja setiap 2-3 jam sekali ada bus-tol itu yang diberangkatkan.

Namun demi waktu tempuh yang pendek, tidak setiap kota diadakan terminal bus-tol itu. Mungkin, pada kota-kota besar saja, serta waktu berhenti pun dibatasi. Demikian pula bila berhenti di tempat istirahat makan. Sekaligus membiasakan para penumpang bertindak disiplin dan praktis.

Tentu saja setiap warga negara boleh berwacana dengan usulan.
Bisnis Surabaya mengusulkan, bahwa terminal bus itu terletak di areal agak luas untuk tempat parkir mobil dan sepeda motor. Karena akan banyak orang-orang yang bepergian ke Jakarta hanya butuh waktu setengah hari atau sehari karena urusan pekerjaan. Jadi, dia menitipkan mobil/sepeda motor di terminal itu, untuk menaiki bus-tol dan kembali di hari kedua atau ketiga. Juga dijaga, jangan sampai calon penumpang atau orang-orang yang ada di terminal itu keluyuran memasuki jalan tol. Sangat mengganggu dan berbahaya. Kemudian, bagaimana pihak Dinas Perhubungan Darat di masing-masing provinsi tempat bus-bus lewat tol itu dijaga kondisinya. Sebab jelas, bahwa bus-bus lewat tol itu bakal melaju, yang sering melebihi aturan kecepatan mobil yang ditentukan.

Khusus dalam hal ini, justru kecelakaan bus yang bukan hanya karena ulah pengemudinya, juga karena kondisi bus itu tidak memenuhi syarat untuk dioperasikan. Terbanyak justru yang celaka itu adalah bus-bus berlabel “Pariwisata”. Bentuk, cat dan lukisan pada bus-bus demikian sangat bervariasi dan menarik minat. Melihat perwujudannya adalah bus yang memenuhi syarat dan hebat. Tetapi ternyata, banyak bus-bus itu adalah bus bekas yang dijual oleh perusahaan-otobus (PO) lalu dibeli perorangan. Diperbaiki sedikit disana-sini, dan body bus itu dicat yang gambar, warna dan tulisan-tulisan menarik. Muncullah “bus baru” untuk berwisata, yang sebenarnya adalah bus bekas. Bagaimana dengan tempat dan petugas-petigas untuk melakukan pengujian (kir) mobil angkutan umum? Banyak yang cukup masuk areal tempat kir, menunggu sebentar, keluar dari lokasi tersebut sambil membawa tanda sah kir busnya. Prosesnya? Itu urusan wakil dari bus itu atau ada calo. Urusannya jadi beres tanpa checking fisik kondisi bus itu. Fisiknya terletak pada berapa duit yang disediakan. Itu bukan rahasia khusus lagi. Sudah rahasia umum. Tinggal siapa yang bertindak menertibkannya?

Disitulah usulan kami, sebaiknya suap-menyuap dalam pelaksanaan kir kendaraan angkutan umum itu juga diawasi petugas KPK. Sebab duitnya jelas bukan dimakan oleh yang sedang bertugas di tempat kir maupun jembatan-jembatan timbangan kendaraan, akan tetapi ada aliran “keatas”. Akibatnya, banyak kecelakaan (terutama bus ataupun truk) yang mogok, patah as, rem blong dan macam-macam. Yang selalu menekan perasaan para penumpang korban kecelakaan bus atau kerabatnya akibat keteledoran pengemudi bus. Belum pernah mendengar berita dari ruang sidang pengadilan, tentang hukuman yang dijatuhkan hakim kepada mereka itu. Padahal, pemerintah pun harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk memberikan uang santunan bagi yang meninggal, cacat seumur hidup dan lain-lain akibat kecelakaan itu. Kalau perlu, dikeluarkan peraturan, semua bus-bus jalur tol Trans Jawa itu harus bus-bus baru. Tak peduli keluaran pabrik Eropa Barat ataupun Jepang.

Lewat jalan tol Trans Jawa yang panjang itu pasti pengemudi menyukai kecepatan cukup tinggi. Terkadang lupa daratan, termasuk menjadi bosan dan mengantuk. Jadi, pembuatan terminal bus tol itu penting, namun beberapa faktor mengenai bus yang melewati jalan tol tersebut perlu diperhatikan. (amak syariffudin)