Fintech yang Masuk Lapak Pasar Tradisional

9

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – PRAKTIK fintech tiba-tiba saja mengejutkan pedagang maupun pembelanja yang terbiasa berbelanja di pasar-pasar tradisional Ibukota. Di daerah, istilah fintech saja barangkali baru mendengarnya. Apalagi memahami ataupun mempraktekkan dua kata bahasa Inggeris itu, yakni “financial” dan “technology”. Apakah bapak atau lebih khususnya ibu-ibu yang setiap hari berbelanja dan terutama yang berdagang di pasar-pasar seperti Pabean, Kapasan, Genteng, Keputran, Pucang, Wonokromo (Surabaya), di Pasar Larangan Sidoarjo,  Gresik, Mojokerto dan lain-lain pasar tradisional di kota-kota besar di Jawa Timur sudah ada yang “ber-fintech”? Sekurang-kurangnya sudah pernah mendengarnya? Padahal, praktek itu mulai menjamur di negara kita sejak 2015.

     Ada dua jenis fintech, yakni Fintech 2.0 dan 3.0. Yang 2.0 dilakukan oleh usaha-usaha jasa keuangan, pasar modal, perbankan dan industri keuangan non-bank. Mungkin model Fintech-3.0 yang dilakukan perusahaan-perusahaan jasa keuangan non-bank “start-up” yang masih terus dikaji oleh pemerintah. Pola kerjanya ada yang dengan cara menawarkan “kredit mudah” sebesar Rp 2 juta  – Rp 4 juta, tanpa agunan. Namun hampir kesemua peminjamnya mengeluh dan marah-marah, karena ternyata tidak bedanya seperti berhadapan dengan pelaku praktek “rentenir” (tukang riba uang) alias “lintah darat” alias pemberi-hutang dengan pola pemerasan. Semua “dicekik” oleh angsuran/pengembalian kredit, yang seumpama pinjam Rp. 3,5 juta, bisa mengembalikannya  plus bunga jadi Rp 5 juta! Cuma dalam satu bulan lebih sedikit. Banyak kasus demikian yang jadi urusan kepolisian, karena merasa tertipu, atau menerima ancaman kekerasan karena terlambat mengangsur plus bunganya,  dan lain-lain.

     Pola teknologi pembayaran untuk  jual-beli lewat saluran internet itu adalah sama dengan kalau kita membayar pembelian itu dengan kartu-kredit (credit card). Bedanya, uang simpanan itu tidak lewat perbankan, akan tetapi perusahaan-perusahaan jasa-keuangan lewat online yang juga diakses oleh penjual bersangkutan. Pembeli tidak lagi ber-credit card, tetapi cukup membawa telepon genggam (hand-phone) di mana tercatat jumlah uang yang diberikan/dibayarkan kepada perusahaan jasa-keuangan itu. Khusus dalam jula-beli barang jualan di pasar tradisional, pola fintech itu hanya dalam soal pembayarannya. Bukan berikut pengirimannya. Sebab, kalau dilakukan pembelian dengan online atau fintech pada perusahaan/pertokoan yang melakukan layanan online, maka barang yang kita pesan itu juga akan dikirimkan melalui sarana transportasi berbeda-beda menurut besar-kecilnya barang yang kita beli. Sedangkan di pasar tradisional, penjualan berpola fintech juga (hingga kini) masih sekitar di  bawah 10 persen. Meskipun seolah menular, penggunaan fintech oleh pedagang di pasar itu merembet kepada para penjual yang mempunyai lapak. Penjual-penjual kecil seperti penjula jajanan, peralatan dapur rumah dan lain-lain, yang terbanyak pedagang-pedagang kecil dan sering tidak punya lapak tetap di pasar itu, sampai kini tidak bakal menggunakan pola jual-beli berfintech.  Di Jakarta, kedai-kedai makanan (dikenal dengan   “Warteg”/Warung Tegal) sudah banyak yang menggunakan sistem pembayaran melalui fintech. Para penjualnya merasa mendapatkan cara praktis, tetapi juga “punya gaya jadi modern”. Terutama apabila para penjualnya terdiri dari anak-anak muda. Demikian pula usia para pelanggannya.

     Memang tak pernah terpikirkan, saluran online dalam bentuk fintech memasuki lapak-lapak di dalam pasar-pasar tradisional. Proses pembayaran jual-beli yang harus buka dompet, lalu terjadi menunggu uang pengembalian, serta kalau pasar itu berjubel pengunjungnya, dompet harus dipegang erat-erat agar tidak dicopet, sudah mulai ditinggalkan. Dengan model fintech, cuma bawa dan pegang erat-erat HP-nya, sebab di situlah data uang yang telah disimpankan (lewat ATM) ke perusahaan jasa-keuangan yang menjalankan praktik fintech, seperti Ovo oleh Lippo dan Gopay oleh Gojek dan lain-lain.

     Dalam sistem fintech tersebut, sebenarnya disitulah letak sikap saling percaya. Orang-orang menitipkan uangnya pada perusahaan jasa-keuangan yang dipilihnya, dan penjual komoditi yang dilakukan dengan sistem tersebut, juga percaya terhadap perusahaan jasa keuangan tersebut.  Penjual percaya menerima pembayarannya lewat data uang yang ada di dalam HP tersebut.

     Yang bisa terjadi adanya perubahan cara dan kebiasaan dalam berbelanja di pasar tradisional, ialah terjadinya percepatan waktu dalam transaksi jual-beli, sehingga bisa berkurangnya jumlah pengunjung di dalam pasar. Bisa juga karena proses pembayaran berjalan cepat, tidak terjadi pembicaraan lama antara pembeli. Mungkin bakal berbeda jauh waktunya dengan praktik jual-beli yang tidak menggunakan sistem fintech.

     Akan tetapi, ada faktor lain yang bisa terjadi dalam proses antar-manusia di pasar-pasr tradisional. Meskipun telah digunakan sistem pembayaran fintech. Mungkin tidak sedikit para ibu menjadi “kesepian” untuk saling menyapa atau bertutur-kata dengan kawan-kawannya yang sesama pembelanja atau dengan beberapa penjual di pasar tradisional. Sebab, dalam disiplin ilmu sosial dan komunikasi, pasar merupakan salah satu dari lokasi untuk hubungan manusiawi (human relations). Berbagai moda komunikasi,– meskipun terbanyak berbentuk komunikasi antar manusia/tatap muka  (face to face communications),– bisa berlangsung di dalam pasar tradisional.

    Sebenarnya, dengan menyaksikan kondisi dan situasi yang terjadi dalam pasar-pasar tradisional kita, — termasuk yang ada di kota-kota besar,– tradisi berkomunikasi tatap muka (face to face communications) yang terjadi dalam proses transaksi jual-beli, tidak akan tergantikan seluruhnya. Sekurang-kurangnya selama pedagang-pedagang kecil boleh berjualan di situ. Tidak mungkin orang yang mau beli jajanan lalu menggunakan pola fintech, karena mau beli dua tiga serabi atau onde-onde. Atau beli nasi pecel, sayur semanggi dan sejenisnya cuma dua tiga bungkus, lalu menggunakan model fintech.

     Konklusinya, bagi bapak dan ibu-ibu yang berjualan di lapak-lapak pasar tradisional yang dagangannya bukan besar, tak perlu kawatir tergeser oleh pola fintech. Meskipun di pasar itu beberapa pedagang,– terutama penjual pemilik pertokoan di dalam pasar itu,–  yang berjualan dengan fintech, karena usahanya cukup mampu dan perlu jualan dengan sistem online.  Para pedagang kecil dan para calon pembeli dagangannya tidak perlu buru-buru kawatir. Sedikitnya sekitar satu dasa warsa ke depan, barangkali  baru terjadi perubahan drastis penggunaan fintech secara lebih luas di pasar-pasar demikian. Itupun apabila kondisinya memungkinkan. (amak syariffudin)