Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Pengusaha optimis Pelaksanaan Pemilihan Umum/Pemilu 17 April mendatang berjalan lancar. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena itu, hajat politik lima tahunan yang akan memilih lima kotak/surat suara yakni, Presiden & Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI).

Keberadaan event politik ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi sebagian orang. Karena di media sosial sering terjadi perdebatan yang mengarah pada perang pernyataan antar pendukung calon presiden/capres. Fanatisme berlebihan antar pendukung capres ini dapat mengakibatkan kerawanan yang mengarah pada konflik horisontal di masyarakat.

Apabila hal ini sampai terjadi, tentu saja menimbulkan kegelisahan di kalangan pelaku ekonomi. Bagi mereka keseimbangan dan kestabilan nasional adalah hal penting yang mendasar. Pemerintah melalui Kementerian perdagangan memberikan jaminan kepada para pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya untuk tidak panik menyambut tahun politik 2019.

(foto/patrik)

Karena pemilu tahun ini bukanlah pemilu yang pertama yang digelar di Indonesia. Sebelumnya mereka pernah menggelar event lima tahunan tersebut yaitu 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, 2009, 2014, dan 2019 ini. Jadi Indonesia sudah berpengalaman melaksanakan pemilu secara aman, tertib, dan damai.

“2019 ini adalah tahun pesta demokrasi. Tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran secara berlebihan,” kata Menteri Perdagangan/Mendag Republik Indonesia Enggartiasto Lukito, saat mejadi pembicara di acara Bincang Bisnis yang mengambil thema ‘Optimisme Perdagangan & Ekonomi 2019’ di Spazio Hall Surabaya Selasa (26/2) sore.

Menurut dia, hasil referendum 23 Juni 2016 yang menghasilkan keputusan keluarnya Inggris dari Uni Eropah (Brexit) ditambah lagi perang dagang antara Amerika Serikat/AS melawan Tiongkok membawa dampak dan pengaruh tidak hanya untuk kawasan Uni Eropa, tetapi juga pada dunia global.

Tantangan global ini akan mempengaruhi perekonomian dan keuangan domestik. Yaitu, ketidakpastian global, resiko ekonomi, perang dagang dan proteksionisme, normalisasi suku bunga dollar Amerika, dan volantilitas harga komoditas. “Pernah ekspor komoditi nanas dan sarang burung Indonesia dihambat ekspornya oleh pemerintah Tiongkok. Maka saya juga membalas dengan melarang masuknya jeruk Mandarin asal RRC jelang Imlek,” tegas Politisi Partai Nasionalis Demokrat (Nasdem) yang berambut putih ini.

Akibat kebijakan tersebut, kata dia, banyak eksportir di Tiongkok yang merasa terimbas keputusan tersebut. Akhirnya, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang menemui Presiden Joko Widodo, dan membahas hal tersebut. Akhirnya, disepakati Tiongkok mencabut kebijakan larangan impor nanas dan sarang burung dari Indonesia, serta ditambah lagi kuota ekspor jutaan ton komiditi virginat coconut oil (VCO) dan Mendag kemudian mencabut kebijakan pelarangan jeruk Mandarin.

“Indonesia selaku pemain utama perdagangan di kawasan Asia walaupun juga merasakan dampak dari fenomena tersebut, namun masih bisa menunjukkan performance ekonomi yang stabil.

Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi 2019 yang mencapai 3,9 persen dengan kinerja impor yang meningkat 20,9 persen menjadi 180,6 persen,” tambah Mendag yang enerjik ini.

Kementerian Perdagangan yang dipimpinnya memfasilitasi pelaku Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) untuk bisa memasukkan produknya di pasar ritel modern, juga mendorong produk frozen yang dihasilkan UMKM seperti sate, rawon, sayur asem, sayur lodeh, dan lain-lain untuk bisa diekspor ke negara- negara yang banyak Tenaga kerja Indonesia (TKI). Sehingga mereka bisa mengobati rasa rindu terhadap makanan di tanah air. (nanang)