Korban Investasi Kondotel di Kuta Apresiasi Langkah Polda Jatim Tetapkan Tersangka SS Dirut PT PUI

41

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Setelah berjuang selama 5 (Lima) tahun lamanya untuk mencari keadilan atas kasus dugaan penipuan berkedok investasi apartemen kondominium, di sebuah hotel yang berlokasi di Kuta, Bali dengan modus mendapat keuntungan tinggi itu.

Kini, para korban kebanyakan berasal dari Surabaya saat sedikit bernafas lega. Pasalnya, Ditreskrimsus Polda Jatim telah menetapkan tersangka ‘SS’ Dirut Papan Utana Indonesia (PUI) tertanggal 02 Februari 2019 atas kasus dugaan penipuan berkedok investasi apartemen dengan modus mendapat keuntungan tinggi tersebut.

Mereka mengapresiasi langkah polisi mengusut dugaan penipuan yang merugikan konsumen. Dari tiga orang terlapor yakni, SS yang menjabat sebagai Direktur Utama PT PUI telah ditetap tersangka atas kasus itu.

Erik Ibrahim kuasa hukum dari para korban Investasi apartemen Kondotel di Kuta, Bali saat memberikan keterangan pers nya di Surabaya, Jum’at (22/02).

Theng Chandra Tendian, salah satu pelapor mengapresiasi langkah polisip menaikan status kasus tersebut yang telah menetap salah tersangka yang dijerat dengan Undang-undang Perlindungan Konsumen.

Theng Chandra juga berharap, dalam kasus ini yang mereka laporkan sejak 7 Juni 2018 itu sebagai pintu masuk bagi polisi untuk mengusut keterlibatan dua orang lainya yakni SFS selaku kuasa dari PT PUI dalam PPJB dan PBS selaku kuasa dari PT PUI dalam AJB.

Kasus ini berawal dari mendapat penawaran penjualan unit apartemen tersebut pada April 2010 laku. Saat itu penawaran dilakukan PT PUI selaku pengembang dengan iming-iming konsumen mendapat keuntungan menjanjikan atas investasi.

Dia pun tertarik dan memutuskan membeli seharga Rp 750 juta. “Saat itu saya memesan apartemen seluas 30 meter persegi. Namun, setelah realisasi ternyata hanya 25 meter persegi. Saya sudah dirugikan dan ditipu,” beber Chandra.

Menurut Chandra, sesuai janji saat promosi bakal menerima ROI (rerurn of invesment) sebesar Rp 8,1 juta per bulan atas pengelolaan apartemen. Tapi kenyataanya hanya menerima ROI Rp 2 juta per bulan. “Saya sudah dirugikan sampai Rp 303 juta. Saya tidak sendirian, tapi banyak konsumen lainnya juga mengalami seperti saya,” imbuh Chandra.

Korban lain, Magdalena mengambil apartemen senilai Rp 600 juta. Selanjutnya pengelolaan dilakukan pengembang dengan janji dapat keuntungan tinggi. “Mulanya apartemen ini disebutkan setara hotel bintang empat. Kenyataanya tidak. Sertifikasi hotel di bawah level bintang empat, ini kan sudah penipuan,” jelas Magdalena.

Sementara Erik Ibrahim, kuasa hukum para korban mengatakan, kejadian ini menunjukkan adanya tindak pidana perlindungan konsumen dan penipuan. Polisi harus mengusut kasus ini secara tuntas. “Dari laporan kami sebelumnya, polisi telah menetapkan salah satu tersangka berinisial ‘SS’ berkat dari keterangan korban yang sudah diperiksa untuk dimintai keterangan,” terang Erik.

Dari beberapa korban, lanjut Erik, yang ikut melapor ke Mapolda Jatim itu disebutkan ada sekitar 278 orang pemilik unit apartemen kondominium yang menjadi korban dengan modus menginvestasikan unit apartemen mereka untuk disewakan.

Pengembang berjanji akan memberikan uang sewa sebanyak Rp 90 juta tiap tahunnya. Namun sayang, yang diterima para pemilik apartemen yang sudah melakukan investasi hanya Rp 20 juta. Hal ini sudah berjalan selama empat tahun dan menginjak di tahun kelima kerugian ditaksir mencapai Rp 55 Miliar.

Erik juga berharap, agar polisi turut mengusut keterlibatan tersangka lainnya yang diduga terlibat dalam kasus ini, yakni RA dari PT EKM (terlapor 2)  turut ia laporkan juga di Polda Jatim. ” Kami berharap polisi lebih serius lagi dalam menangani kasus ini, untuk dilimpahkan ke Pengadilan agar terang benderang dalam persoalan ini,” tandas Erik.(ton)