Ikan Tradisional ‘Bisa’ Seharga Ekspor

15

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – PERTAMA-TAMA apa itu “ikan tradisional”? Apa urusannya dengan jenis ikan-ikan itu? Maksudnya, untuk memudahkan pemilahan jenis-jenis ikan air tawar atau air laut yang paling banyak dibeli dan dikonsumsi masyarakat di pasar-pasar ikan tradisional. Kalau di kota Surabaya bisa dilihat di pasar-pasar Pabean, Genteng, Keputran, Wonokromo, Kapasan, Pucang dan lain-lain . Meskipun hampir semua supermarkets juga ,menjual jenis ikan-ikan tersebut, yaitu kakap, udang, gurame, bandeng, nila, lele, mujair dan sebagian ikan gabus. Yang lazim dijual pada restoran/warung lesehan di kota atau sepanjang jalan raya di daerah, adalah jenis gurami, udang, bandeng, nila dan lele.

Selain jenis-jenis ikan “tradisional” karena diproduksi dan jadi andalan termasuk harganya yang lazim dikonsumsi oleh masyarakat, juga ketersediaannya selalu tercukupi, meskipun bisa saja harganya bergelombang naik turunsesuai hari-hari besar tradisi masyarakat. Lalu, apa permasalahannya? Indikasi yang kini muncul, bahwa kalau dulu ekspor jenis ikan konsumsi terbanyak dari air laut seperti jenis udang, kakap, kerapu, baronang dan lain-lain, ternyata kini permintaan konsumen luar negeri mengarah juga pada banyak ikan-ikan air tawar yang umumnya hasil budi daya peternak ikan. Jenis-jenisnya seperti udang, gurame, bandeng, nilai sampaipun ikan lele. Yang belum punya pasaran ekspor adalah mujair, ikan gabus, ikan bethik, sepat. bader, wader, gathul! Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebijakto (19/2) menyatakan, bahwa kini menjadi tantangan internal di mana peningkatan permintaan terhadap produksi perikanan budidaya.

Terlebih produk perikanan budidaya yang biasa digunakan sebagai pemenuhan ketahanan pangan kita, kini malahan diekspor. “Jadi,pemenuhan produksi dalam negeri harus ditingkatkan,begitu juga untuk ekspor, karena sekarang bukan hanya udang dan rumput laut saja yang diekspor. Ikan-ikan penopang seperti nila, lele, patin, bandeng sebagai ikan ketahanan pangan itu jadi potensi ekspor. Gurame juga ekspor. Mau tidak mau, kita harus memacu produksi untuk memenuhi makan kita.” katanya. Dalam kurun waktu 2015-2018, volume perikanan budidaya pangan itu meningkat rata-rata sebesar 3,36 %. Komoditas yang meningkat signifikan adalah udang (32,68 persen), gurame (35,04 persen), lele (24,66 persen), kakap(19,26 persen) dan nila (12,85 persen). Sedangkan Nilai Tukar Pembudidayaan Ikan (NTPI) naik menjadi 0,38 % per tahun. Nilai Tukar Usaha Pertanian Budidaya Ikan (NTUPBI) naik rata-rata 2,02 persen per tahun. Dengan meningkatnya NTUPI dan NTPBI, berarti meningkat pula rata-rata pendapatan para pembudidaya ikan sebesar 4,21 persen. Kalau memperhatikan angka-angka kenaikan produksi budidaya ikan dan pendapatan para pembudidayanya, dihubungkan dengan kecenderungan kenaikan ekspor berbagai jenis ikan (termausk semula yang tidak diminati di luar negeri), maka dapat diperkirakan, bahwa kenaikan-kenaikan tersebut

selain pengkonsumsi ikan di masyarakat kita meningkat, juga dorongan banyaknya jenis ikan yang termasuk untuk ketahanan pangan rakyat Indonesia itu kini sebagian sudah dijadikan komoditas ekspor. Apa artinya? Pembudidaya ikan (terutama air tawar) secara naluriah tentu lebih tertarik ikan-ikan produk budidayanyadapat terjual sebagai komoditas ekspor. Selain harganya lebih tinggi, juga kepastian dalam proses penjualannya. Sudah jelas berapa jumlah kuintal atau ton ikan yang dijualnya, juga kepastian harga tanpa dilakukan tawar-menawar lagi. Tinggal memikirkan bagaimana meningkatkan budidaya ikannya. Tentu untuk memenuhi kuota ekspornya. Dampak dari usaha peningkatan demikian, dengan sendirinya kepentingan untuk pasar ikan di dalam negeri di-nomor duakan. Harga pun kemudian bisa distandarkan dengan harga ikan untuk ekspor. Atau harga menurut kekuatan pasar domestik, namun kualitas ikannya yang nomor dua! Peningkatan budidaya ikan memang bisa dilakukan. Akan tetapi, namanya satwa, tentu bisa terjadi beberapa kemungkinan seperti terkena penyakit, kondisi cuaca, bencana alam dan lain-lain. Apa artinya? Para pedagang ikan tradisional harus siap diri, bagaimana agar jangan sampai terjadi kekurangan bahan jualannya untuk konsumennya. Sebab, pemerintah tidak bisa melarang mengekspor ikan budidaya selama aturan-aturan yang diberlakukan sekarang dipenuhi pengekspor dan pembudidaya ikan itu.

Sebab, bagaimana pun juga, program pemerintah adalah termasuk meningkatkan produk dan pendapatan para petani/pembudidaya ikan. Caranya, adalah antara lain ekspor tersebut. Pembudidaya ikan juga ingin produknya terjual dengan harga tinggi. Kalau di dalam negeri sulit didapat harga tinggi, jelas lirikannya ke arah dijadikan komoditas ekspor. Bisa saja terjadi “ikan tradisional” berharga ikan untuk ekspor. Di luar negeri, konsumen nampaknya mulai mengurangi makan daging (sapi, kerbau, kambing, babi) dan menggantikannya dengan ikan laut dan air tawar. Sedangkan di dalam negeri, jumlah konsumen makan ikan juga meningkat.

Jadi, perlu dipersiapkan solusi, bagaimana memenuhi kedua kebutuhan ikan untuk ketahanan pangan kita dan untuk perdagangan ekspor. Mudah-mudahan kecenderungan peningkatan ekspor ikan air tawar itu tidak seperti yang kita alami sekarang. Yakni jenis-jenis ikan air laut yang sanqat disukai di luar negeri dan jelas pedagang ikan mengekspornya, menjadikan daging ikan itu sendiri dijual dengan harga mahal dan langka. Seperti ikan tuna. Seorang kenalan pemilik tambak (empang) di desa utara kota Lamongan (Jatim) mengatakan, bahwasekarang tidak ditemukan lagi ikan gabus (kuthuk). Padahal, dulu kawasan Lamongan dikenal sebagai ikan konsumsi penduduknya. Maklum, ikan itu seklarang diburu-buru untuk diambil minyaknya sebagai bahan obat yang mahal. Kita bisa kawatir, jangan-jangan kelak restoran lesehan yang bermunculan di mana-mana itu nantinya kekurangan stok ikan tawar yang baik atau “sulit jual” karena mahal. Akhirnya cuma ikan mujair dan ikan gathul! Ikan wader saja,–terutama wader-pari yang dulu ditemui di banyak persawahan, kini hanya ditemui di beberapa daerah karena sawah tercemar racun pupuk-kimiawi atau insektisida,– jadi “ikan mewah” karena langka. Kalau Presiden Jokowi memerintahkan membangun ribuan ‘embung’ (waduk air ukuran kecil untuk persediaan air/irigasi) di pedesaan yang dimungkinkan, kiranya penduduk pedesaan yang memungkinkan membangun empang-empang budidaya ikan air tawar seperti kebiasaan rakyat di Jabar. Siap-siap kalau ternyata benar terjadi ikan-ikan ketahanan pangan kita disedot untuk ekspor. Kemajuan segala sektor kehidupan dan perkembangan jumlah manusia memang sering membawa korban kerugian di pihak lain.Terutama terhadap materi untuk kehidupan manusia itu sendiri. (amak syarifudin)