Sidoarjo, (bisnissurabaya.com) – Perjuangan Bernadine Hendrika dalam menuntut hak atas tanahnya sangat luar biasa. Pejuang veteran ini berusia 83 tahun tetap kekeh minta keadilan atas tanahnya di Desa Banyu Urip, Kecamatan Kedamean, Gresik yang sudah bersertifikat milik PT Kasih Jatim.
Wanita yang akrab disapa Betty ini datang ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya di Sedati, Senin (18/2) lalu untuk bersumpah. Dia didampingi sejumlah keluarga dan simpatisan memberikan bukti baru (novum) terkait Peninjaun Kembali (PK) yang diajukannya.
Meski duduk di kursi roda, Betty, mengaku masih kuat dan terus berjuang mendapatkan haknya. Dalam sidang yang dipimpin Ni Nyoman Vidiayu Purbasari, Betty, memberikan sejumlah berkas novum yang diharapkan bisa merubah hasil dari kasasi. “Ini bukti baru yang belum disampaikan dalam sidang sebelumnya,” tanya Ni Nyoman yang langsung diiyakan oleh Betty.
Betty, mengaku sudah 40 tahun berjuang untuk mendapatkan kembali tanahnya. Padahal, tanah seluas 29,190 hektar itu awalnya pabrik yodium milik neneknya Rasmani. Selain itu, bangunan yang ada disana juga dijadikan benteng perjuangan tentara Mastrip melawan penjajah. Peristiwa itu jadi saksi sejarah bahwa kondisi lahan yang saat ini hanya berupa tanah tersebut merupakan hak dari keluarga nenek Betty.
Sebelumnya, dalam sidang awal di PTUN sebenarnya hakim sudah memenangkan Betty, sebagai pemilik sah tanah tersebut. Namun, pihak termohon yakni Badan Pertanahan Nasional (BPN) Gresik dan PT Kasih Jatim melakukan banding di tingkat Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung yang akhirnya dimenangkannya. “Ini langkah hukum terakhir dan kami harap Presiden Jokowi mau mendengar perjuangan kami,” ujar Betty, yang sempat menitikkan air mata itu.
Anak ketiga Betty, yang ikut mendampingi Ricky Gusnanto, mengatakan, pihaknya menemukan lima novum baru dalam pengajuan PK tersebut. Diantaranya, surat bukti kepemilikian mutlak eigendom atas nama Rasmani. Surat tersebut dikeluarkan oleh kantor pendaftaran tanah pemerintah Hindia Belanda tangal 24 Juli 1933. “Ini surat bukti yang asli,” katanya.
Selain itu, juga diserahkan akte van eigendom verpondings nummer 148 atas nama Rasmani. Surat itu dikeluarkan oleh Dewan Kehakiman Pemerintah Hindia Belanda tanggal 15 Juli 1938. ‘Kami harap dengan bukti yang baru ini rasa keadilan bisa berpihak pada Bu Betty,” ucapnya. Anggota Lembaga Bantuan Hukum/LBH Wong Cilik, Eko Purnomo, mengatakan, pihaknya mendampingi Betty karena merasa prihatin dengan kasus tanah yang dialaminya. Apalagi sejumlah bukti yang ada sudah menguatkan Betty, sebagai ahli waris tanah itu. “Sudah diurus tahun 1994 tapi tahun 1997 malah keluar sertifikat milik perusahaan,” ujarnya.
Dia berharap, dengan PK bisa mengembalikan hak tanah Betty. “Kami hanya memperjuangkan hak atas tanah pemiliknya agar tidak disewenang-wenangkan. Apalagi jasanya luar biasa untuk bangsa ini,” pungkasnya. (ttk)