Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Siapa tak kenal Hotel Moscha? Hotel baru bintang tiga yang terletak di tepi Kali Mas, tepatnya di Jalan Irian Barat Surabaya. Lokasinya tak jauh dari bekas Kolam Renang Brantas yang sekarang hanya tinggal cerita saja. Disamping itu, juga dekat Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Ferina. Sehingga banyak keluarga pasien yang memanfaatkan hotel ini selama mendampingi keluarganya menjalani perawatan di rumah sakit.

Ya…, Jalan Irian Barat adalah sepenggal jalan di daerah Gubeng yang terletak di sisi Timur Kali Mas, berseberangan dengan Pasar Keputran Utara. Dulu jalan ini ramai sekali, karena setiap malam pedagang ikan hias yang mangkal disana. Sehingga Jalan Irian Barat menjadi macet oleh penjual dan pembeli ikan hias parkir di sembarang tempat.

Seiring dengan kebijakan Pemerintah Kota/Pemkot Surabaya yang mengembalikan fungsi jalan untuk kendaraan dengan melakukan relokasi pedagang ikan hias ke Sentra Ikan Hias Gunungsari, maka Jalan Irian Barat menjadi lengang. Bahkan sepi bila malam hari.

(foto/patrik)

Kehadiran Hotel Moscha yang merupakan satu-satunya hotel yang ada di jalan tersebut  mampu merubah keadaan yang semula sepi menjadi ramai seperti sedia kala. Sebagai hotel yang terletak di kawasan Surabaya Pusat, keberadaan Hotel Moscha dekat dengan Stasiun Gubeng, Grand City, Monumen Kapal Selam, Surabaya Plaza, World Trade Centre, Gedung Balai Kota, Gedung DPRD, Monumen Bambu Runcing, Monumen Kanker, Pasar bunga Kayoon, dan Pasar  Keputran.

Hotel Moscha memiliki ruang pertemuan/ballroom dengan kapasitas besar yang mencapai 600 orang. Hotel ini, kerap digunakan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai acara besar. Seperti, launching produk atau acara lain. Instansi pemerintah dan swasta yang sudah memanfaatkan ballroom ini antara lain, Tony Q Rastafara, Wakil Bupati Trenggalek M Arifin, SKK Migas Cepu, Unair, BMD Street Training, Yayasan Visi Misi,IHGMA, IHGM, Bisnis Surabaya,  Enagic Kangen Water, MLM Mylea, HP Oppo, HP Vivo, HP Samsung, dan Laptop MSI.

“Sebagai hotel berkelas bintang 3, Moscha menyediakan fasilitas saluran TV anak,  akses Wi-Fi gratis, surat kabar, lift, penitipan bagasi, parkir difabel,parkir valet, restoran prasmanan, area lounge/TV bersama, ruang rapat/perjamuan, pusat bisnis yang dilengkapi faks/fotokopi, ruangan khusus merokok karena semua ruang umum dan pribadi bebas rokok, resepsionis 24 Jam, layanan kebersihan harian, jasa cuci kering, layanan kamar, dan fasilitas penyetrikaan/ laundry,” kata Hotel Manager/HM Moscha, Raharjo Artiono, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Hotel Moscha juga merupakan galeri serta showroom Moscha Living yang memproduksi linen. Seperti tirai, kelambu, bed cover, sprei, dan sarung bantal yang melayani kebutuhan hotel yang ada di seluruh Indonesia. Dan juga melayani ekspor sampai ke Amerika dan Eropa. “Linen produksi Moscha, banyak digunakan untuk hotel dan kantor di Surabaya,” jelas alumni Unair ini.

(foto/patrik)

Sebagai tanggung jawab moral, pelaku usaha terhadap Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) yang ada di Surabaya, Hotel Moscha mengajak pelaku UMKM untuk display produk di mini market yang ada di hotel tersebut. Melalui Pusat Oleh-oleh UMKM Surabaya, banyak pelaku UMKM yang memanfaatkan program yang menarik ini.

Diantaranya, Mega UMKM Bronchips, Nyzma UMKM Miss Kribow, Renny UMKM Mojito Uno dan Kopi Lemon, Kumaiyah UMKM minuman herbal Simo, Sheila UMKM Kacang Bilioner, Sudarwi Yuliningsih UMKM egg roll, Satomah UKM Kacang Sengon, Reza UKM Kacang Ampyang Retno UKM Aruma, Heftin Abon Tewel, Irsyad UKM Camilan MK, dan lain lain.

“Hotel Moscha memfasilitasi produk teman-teman UMKM yang ada di Surabaya untuk display dan jual produk disini. Sebelum produk di pasarkan, para pelaku UMKM menyerahkan contoh produk untuk dikurator kelayakannya oleh pihak hotel,” jelas Rahajo, yang juga menjabat Wakil Ketua IHGMA Jatim ini.

Selain menggandeng pelaku UMKM, Hotel Moscha juga menaruh kepedulian yang tinggi pada penyandang disabilitas. Hotel ini bekerjasama dengan Sekolah Luar Biasa Karya Mulya yang berada di bilangan Wonokromo untuk menempatkan alumninya sebagai pekerja.

Pada awalnya, alumni yang di tempatkan disana mengalami kesulitan komunikasi. Namun, seiring perkembangan waktu mereka menjadi terbiasa karena dibimbing senior yang lebih dulu bekerja di sana. Selain bahasa bibir dan tulis, mereka juga komunikasi menggunakan bahasa isyarat.

“Managemen Hotel Moscha memperlakukan sama semua karyawan yang bekerja di hotel ini,” tambah alumni Unair ini.

Misalnya, Ando adalah warga Perak Utara, salah satu alumni siswa difabel yang bekerja di Hotel Moscha mulai 28 Juli 2018 sebagai tenaga housekeeping yang bertugas membersihkan kamar. Laki-laki kelahiran Surabaya 6 November 1990 ini merasa sangat senang bekerja disana, karena dia mendapat hak dan kewajiban yang sama layaknya karyawan normal. (nanang)