Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Dunia maritim merupakan kekayaan sumber daya alam.Karena itu, harus dikelola untuk pemenuhan kebutuhan termasuk pangan danenergi. Membahas teknologi maritim untuk kedaulatan pangan dan energi, FakultasTeknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghelat Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi (SENTA) di Gedung Riset Center,Rabu (5/12) lalu.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Harris ST MT menerangkan, sektor maritim, pemerintah melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM telah melakukan beberapa upaya pengembangan pilot project energi laut.

Pilot project yang merupakan kegiatan proyek pengujian dalam rangka menunjukkan keefektifan dan dampak program yang dilakukan Ditjen EBTKE ini juga menggandeng beberapa pihak agar dapat berjalan lancer,” imbuhnya.

Diantaranya, yakni kerjasama studi potensi pembangunan pilot project pembangkit listrik tenaga arus dengan Agence Francaise de Development (AFD) dari Perancis. Kemudian juga adanya kerjasama dengan Pemerintah Austria untuk membangun pilot project pembangkit listrik tenaga arus laut yang sedang dalam tahap diskusi terkait pendanaan.

Sedangkan, dengan instansi dalam negeri, lanjut Harris, Kementerian ESDM dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berencana mengembangkan Pembangkit Listrik Energi Arus Laut yang berintegrasi dengan Jembatan Pancasila Palmerah di Selat Larantuka dengan kapasitas 30 Mega Watt dan investasi kurang lebih 215 juta USD.

Menurut dia, untuk sektor kelautan ini Indonesia memang masih kurang dikembangkan dibanding sektor energi yang lain. Hal ini disebabkan karena pemanfaatan sektor kelautan sebagai sumber energi masih pada tahap pengembangan riset. Riset terkait juga sudah banyak dilakukan oleh banyak lembaga.

Hanya saja, kolaborasi antarlembaga riset yang masih kurang optimal dikembangkan, sehingga hasilnya masih kurang maksimal. “Suatu saat kita perlu pertemukan lembaga-lembaga ini, bahkan dengan pihak luar yang memiliki teknologi canggih,” ungkapnya. Dalam sektor pangan dan kelautan, pemerintah telah banyak menerapkan teknologi terkini untuk menunjang program-programnya.

Sementara, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Prof Ir Syarif Widaja PhD, menerangkan, kini data perikanan dapat diperbarui setiap harinya melalui pantauan satelit untuk produksi Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI). Data ini yang selanjutnya akan digunakan oleh para nelayan tradisional melalui aplikasi Laut Nusantara.

“Dengan begitu, nelayan akan dengan mudah mendapat informasi kawasan padat ikan sehingga memaksimalkan jumlah ikan tangkapannya,” ujarnya. Selain itu, lanjut guru besar Teknik Kelautan ITS ini, ada juga sistem pemantauan laut menggunakan Radar Wakatobi yang merupakan sebuah sistem pengawasan laut terintegrasi yang berlokasi di Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Fungsi radar ini adalah mendeteksi elemen terapung yang dalam hal ini adalah kapal-kapal yang beroperasi disekitar radar sejauh radius 55,5 km.

Dengan mendeteksi material logam minimal 4 m2 di atas air serta memiliki pergerakan, data yang didapat adalah koordinat posisi, arah pergerakan, kecepatan target serta perkiraan ukuran target. “Sistem ini yang digunakan untuk mendeteksi kapal asing yang beroperasi di perairan Indonesia,” pungkasnya. (bw)