Menhub Budi Karya Sumadi, saat akan menjajal mobil hybrid Toyota Prius yang sedang diuji coba di ITS. (Foto/ist)

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Mobil listrik aebentar lagi beroperasi. Sebab, InstitutTeknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bersama lima perguruan tinggi lainnyadipercaya PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) untuk menguji mobil hybrid produknya. Proyek ini menggandengKementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sertaKementerian Perindustrian (Kemenperin) RI.

Dr Tri Arief Sardjono ST MT, salah satu penelitiyang turut serta dalam mengelola uji coba ini menerangkan, ITS menerima enam mobiluntuk melakukan pengujian. Rinciannya, dua unit Toyota Prius Plug-in HybridElectric Vehicle (PHEV), dua Toyota Prius Hybrid, dan dua Toyota Altis.

Menhub, Budi Karya Sumadi (baju putih) didampingi Tri Arief Sardjono, mencoba mengendarai mobil hybrid Toyota Prius di Kampus ITS. (Foto/ist)

Bahkan, mobil Toyota Prius jenis PHEV yang menurutnya belum ada di pasaran ini, juga sempat dijajal Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi, dalam kunjungannya ke kampus ITS, pada 30 November lalu. Tri, sapaan akrab pria ini, mengatakan, akan dilakukan beberapa pengujian terhadap mobil ini.

“Pengujian mengenai tingkat hemat daya, bahan bakar, serta cuaca, dan lain-lain bertujuan untuk mengetahui respon mobil terhadap penggunaan dalam berbagai kondisi geografis dan ritme pengguna yang beragam,” jelas Dekan Fakultas Teknologi Elektro (FTE) ITS ini.

Untuk menangani hal tersebut, kata dia, ITS membentuk tim khusus dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS yang terdiri dari dosen dan mahasiswa, dari Departemen Teknik Elektro dan Departemen Teknik Mesin. Setidaknya ada enam dosen yang bergantian menguji mobil tersebut selama dua minggu sampai tiga bulan ke depan.

“Setiap pekan, mahasiswa akan mengambil data yang terekam dalam data logger untuk dianalisis dan dikirim ke pihak yang membutuhkan,” ujarnya. Mobil ini, papar Tri, diuji dalam berbagai kondisi medan dengan harapan dapat menempuh jarak rata-rata 50 km per hari. “Walaupun mobil biasa, Toyota Altis yang dipinjamkan digunakan sebagai pembanding dua mobil lainnya yang bertenaga ganda, listrik dan bahan bakar fosil,” tuturnya.

Sistem kerja mobil hybrid sendiri, menurut dosen Teknik Biomedik, bukanlah mobil yang sepenuhnya berbahan bakar listrik meskipun listrik digunakan sebagai sumber energi utama dalam pengoperasiannya. “Namun saat pasokan listrik habis, mobil akan secara otomatis menggunakan bensin yang tersedia,” tukasnya.

Meskipun demikian, Tri menilai sistem mobil hybrid lebih cocok diterapkan di Indonesia daripada kendaraan dengan sumber energi listrik penuh. “Kita tidak bisa memungkiri, bahwa Indonesia masih memerlukan peningkatan fasilitas pendukung untuk kendaraan listrik,” sambungnya.

Ditanya mengenai pengaruh pengujian mobil ini terhadap riset kendaraan listrik ITS, Tri mengaku banyak teknologi yang bisa dipelajari lewat pengujian mobil ini oleh ITS. Ia memberi contoh, dua mobil hybrid Toyota ini sudah dapat menerapkan artificial intelegence (AI) dalam sistemnya. “Walaupun kami masih mengembangkan sistem hybrid, namun pengujian ini akan membantu meningkatkan riset kendaraan listrik kami nantinya,” pungkasnya. (bw)