Demi Anak, Kaki Pernah Tersiram Kacang Hijau

105

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – “Sejak ibu jualan kita bisa sering jalan-jalan yaaa” demikian kata Sekar Ayu Ramadhani dan Aisyah Nur Rahmania kepada ibu mereka Anik Setiyani. Mendengar perkataan anak-anaknya itu, hati perempuan kelahiran Trenggalek, 24 Agustus 1975 menjadi trenyuh dan tak terasa menitikkan air mata. Yaaaaa….., hati ibu mana yang tak tersentuh mendengar suara hati anak-anaknya yang tulus dan polos seperti itu.

Anik Setiyani, warga Jalan Gundih yang akrab disapa Anik ini, adalah warga perantauan asal Trenggalek. Setelah lulus dari SMA Negeri 2 Trenggalek, gadis ini melanjutkan di Akademi Gizi Malang, dan bekerja sebagai tenaga honorer daerah di Dinas Kesehatan Kabupaten yang dipimpin oleh Bupati Emil Dardak.

Produk minuman. (Foto/nanang)

Setelah 5 tahun bekerja disana dan belum ada tanda-tanda pengangkatan sebagai pegawai negeri, dia memutuskan untuk hijrah ke Surabaya menyusul suaminya yang lebih dulu tinggal disana. Suaminya, Bambang Hermanto, bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi.

Di Kota Pahlawan, Anik mengadu peruntungan dengan berjualan nasi kuning dan nasi camour keliling kampung dengan naik sepeda pancal, daerah sekitar Demak. Seperti Gundih, Margodadi, dan Margorukun adalah rutenya sehari-hari. Dalam sehari dia bisa menjual sampai 50 bungkus nasi. Namun, pernah juga dalam sehari tak laku sama sekali.

Setelah itu, ibu dua anak ini, banting setir berubah haluan berjualan jus buah dan kacang hijau kemasan plastik dan botol. Minumannya laris manis karena selain dijual keliling juga dijual secara online di media sosial. Seperti facebook, whatssap dan instagram.

“Pernah suatu ketika saat memasukkan kacang hijau dalam kemasan plastik, kemasan itu pecah dan mengenai kaki saya dan kaki sayapun melepuh,” kata Anik Setiyani Owner Minuman Serbuk Instant kepada Bisnis Surabaya. Sambil berjualan jus dan kacang hijau, Anik juga melayani pesanan lauk-pauk.

Seperti dendeng ragi, gudeg, sayur tahu, sambal goreng, dan lain-lain. Pesananan lauk pauknya semakin meningkat pada saat bulan puasa. Tak hanya itu, dia juga mencoba memproduksi produk ekstrak temu lawak dan jahe. Produknya laris manis, pernah dikirim sampai Pacitan, Banyuwangi, dan Semarang.

“Alhamdulilah, omzet saya cukup untuk memenuhi kebutuhan anak-anak saya”, jelas perempuan cantik berhijab ini. Perjalanan bisnis Anik, tak selamanya mulus. Karena persaingan usaha dia pernah dikerjai oleh pesaingnya. Dia dibuat menjadi malas berjualan, tengkuk, pundak, dan kakinya terasa berat untuk digerakkan.

Bahkan, tanpa sadar buah bahan jus dibuang ke tempat sampah. Akhirnya, masalah itu selesai, setelah dia dibawa ke sebuah pesantren untuk diobati dengan metode islami. Anik, tidak pernah patah semangat walaupun mengalami hal seperti itu. Dia merasa sudah menemukan passion di bisnis ini. Selain bisa menyalurkan hobi masak, dia bisa menghilangkan stress dengan berjualan keliling dan menambah banyak teman-teman baru.

“Yang terpenting, saya bisa membantu suaminya yang untuk menyenangkan anak-anak. Bagi saya anak-anak adalah segalanya,” tambah  wanita paruh baya ini. Keinginan Anik, sangat sedehana. Dia ingin usahanya bisa berkembang pesat. Sehingga dia dan seluruh  keluarganya bisa pergi beribadah bersama-sama di tanah suci dari usahanya tersebut. (nanang)