Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Indonesia dikenal sebagai paru-paru dunia. Namun, keberadaan hutan di berbagai pulau di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua banyak mengalami penyusutan. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2 persen dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya.

Saat ini ada 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang. Menyikapi keadaan tersebut, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 24 Tahun 20018, tertanggal 28 November telah ditetapkan sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Desember ini sebagai bulan Menanam Nasional.

GM Ayola La Lisa, Weni Kristanti (tengah kaos biru). (Foto/ist)

Pencanangannya telah dilakukan presiden di Pusat Penelitian Limnologi, Cibinong Science Center, LIPI, Jalan Raya Bogor KM 46, Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat/Jabar 28 November lalu. Sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, sekaligus menyambut Hari Menanam Pohon Indonesia, Ayola La Lisa Surabaya dengan staff melakukan kegiatan menanam pohon bakau di Ekowisata Mangrove Wonorejo dengan harapan dapat bermanfaat untuk lingkungan.

Seperti diketahui jika tanaman bakau berfungsi untuk melindungi daratan dari gelombang laut dan mengurangi abrasi atau pengikisan tanah oleh air laut yang memiliki peranan sangat penting terhadap keseimbangan ekosistem terhadap kawasan yang ada di Surabaya.

“Selain turut serta merayakan Hari Menanam Pohon Indonesia, tujuan utama kegiatan menanam pohon adalah bentuk support dalam mencintai lingkungan. Terutama kepedulian terhadap pohon bakau atau pohon mangrove yang mempunyai banyak manfaat,” kata General Manager/GM Ayola La Lisa Surabaya, Weni Kristanti, kepada bisnissurabaya.com Selasa (4/12) kemarin.

Ayola La Lisa Surabaya juga mengusung tema eco green sebagai bentuk upaya dalam mencintai lingkungan. Contohnya, meminimalisir penggunaan plastik di lingkungan hotel memasang tanda di setiap kamar hotel untuk menyarankan tamu agar turut serta, meminimalisir penggantian handuk ataupun seprai, dan beberapa contoh lainnya.

“Kami berharap semoga dengan hal kecil yang kita lakukan seperti kegiatan menanam pohon, bisa menjadi contoh dan diikuti oleh hotel-hotel yang lain untuk berpartisipasi dalam mencintai lingkungan,” jelas salah satu manager hotel perempuan di Surabaya ini.

Dengan adanya kegiatan menanam pohon, Ayola La Lisa berharap agar Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau Green City di Surabaya semakin luas. Hal tersebut sebagai bentuk aspek dukungan yang harus dicapai untuk menjadikan Surabaya sebagai Kota Hijau.

Manfaat nyata dari RTH adalah menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota), penyerap air hujan yang dapat meminimalisir terjadinya banjir, penyerap polutan media udara, air, dan tanah, serta menjadi produsen oksigen. Jadi, dapat disimpulkan bahwa RTH memiliki banyak manfaat dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengurangi kadar polusi di Surabaya. (nanang)