Tahun 2020-2030, Indonesia Diprediksi Alami Masa Bonus Demografi

4504

(bisnissurabaya.com) – Revolusi teknologi menyebabkan perubahan gaya hidup masyarakat. Sehingga lahir yang lebih modern, digital dan serba instan. Merebaknya gaya hidup yang serba digital baik di kalangan masyarakat urban maupun sub-urban ini, mendorong pertumbuhan bisnis dengan model start up yang berbasis inovasi teknologi termasuk teknologi digital. Pertumbuhan industri start up ini-pun direspon positif masyarakat, dan berhasil menciptakan potensi pasar yang besar bagi perekonomian di Indonesia.

Dukungan dari pemerintah untuk mengembangkan start up berbasis teknologi digital diwujudkan melalui Gerakan 1.000 Start Up Digital dari Kemenkominfo. Melalui gerakan tersebut, Indonesia diharapkan dapat menjadi negara terbesar di ASEAN dalam bidang digital ekonomi pada 2020.

Wakil Ketua Pembina Yayasan Prasetiya Mulya (Prasmul), Jusuf Wanandi, menjelaskan, pesatnya perkembangan teknologi digital memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk bergegas menjadi negara maju. Dalam hal ini, generasi muda memegang peranan penting, karena merekalah yang akan menjadi pilar bangsa di masa depan.

“Pengusaha muda bertalenta, kreatif dan inovatif akan diuntungkan dengan hadirnya gelombang revolusi industri keempat ini, karena gaya hidup yang serba digital, sangat dekat dengan generasi muda. Hal ini memberikan keuntungan bagi mereka untuk meraih kesuksesan di era kehidupan 3.0, revolusi quantum 2.0 dan industri 4.0,” kata Jusuf Wanandi.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi tahun 2020 hingga 2030-an. Ini berarti jumlah penduduk usia produktif (berusia 15 – 64 tahun) akan lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif (berusia dibawah 15 tahun dan diatas 64 tahun).

Fenomena bonus demografi ini memberikan peluang yang positif bagi kemajuan perekonomian Indonesia dan membuat Indonesia selangkah lebih dekat untuk menjadi negara maju.

Sementara itu, Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Prof Dr Djisman Simandjuntak, menjelaskan, Prasmul memahami pentingnya peran institusi pendidikan pada umumnya dan pendidikan tinggi khususnya dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju.

Upaya Prasmul dalam menjawab tantangan di era disrupsi ini salah satunya dengan mengedepankan kolaborasi antara bisnis, sains dan kewirausahaan. “Karena itulah dibentuk School of Applied STEM yang memberikan beragam pilihan bagi peserta didik untuk mengembangkan minat mereka dalam bidang teknologi dan bisnis.

Melalui kolaborasi ini Pramul memasuki suatu era baru dan era ini sangat penting, karena kalau terus mempertahankan model yang tak berbasis pada sains dan teknologi, upaya kita mengejar kecepatan lepas (escape velocity) akan terundur lagi, terundur lagi. Dengan adanya kolaborasi tersebut, suatu bisnis akan menjadi semakin kompleks, berkelanjutan dan inklusif. Kita harus terus bergegas hingga tiba ke status sebagai negara maju,” kata Prof Djisman.

Ia menambahkan, selain itu Universitas Prasmul juga menghadirkan program MM NVI (New Ventures Innovation) untuk mendidik dan melatih orang-orang yang ingin memiliki kemampuan membangun dan mengembangkan bisnis start up. Program ini merupakan pondasi untuk membentuk pola pikir terstruktur yang dibutuhkan, khususnya untuk mengambil keputusan strategis yang cepat dan inovatif dalam bisnis start up, sehingga dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.

“Hadirnya start up perlu membawa dampak positif bagi masyarakat dengan memberikan solusi bagi berbagai permasalahan yang ada. Contohnya, seperti start up Crowde yang dirintis oleh salah satu alumni kami. Crowde memiliki misi untuk membantu pemodalan petani sehingga tidak hanya memberi opsi lain bagi masyarakat untuk berinvestasi tetapi di sisi lain juga membantu pengembangan ekonomi di berbagai daerah” tutup Prof Djisman. (bw)