Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Perempuan penggerak Usaha Menengah Kecil Mikro/UMKM. Perempuan itu bernama Sri Indah Widayati. Walau usianya sudah terbilang tidak muda lagi, namun, dia masih terlihat energik. Berbagai kegiatan UMKM mulai dari pameran, pelatihan, maupun seminar selalu diikutinya.

Yaa….., tokoh UMKM yang akrab disapa Yayuk, ini tergolong wanita hebat yang mandiri. Sejak Zaman, suaminya yang berprofesi sebagai fotografer senior itu sakit keras dan dirawat di rumah sakit selama ber bulan bulan hingga menghabiskan tiga rumah dan dua mobil kemudian meninggal dunia. Maka, dia segera berpikir untuk mencari cara untuk menggantikan peran suaminya dalam mencari nafkah bagi keluarganya.

Salah satu contoh sepatu tenun buatan Yayuk. (Foto/ist)

Akhirnya, ibu tiga anak ini, menjalankan profesi sebagai marketing asuransi di perusahaan asuransi Axa dan Simas. Karena prestasinya yang bisa mencapai target penjualan, dia diberangkatkan tour ke luar negeri. Seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

“Pernah suatu ketika kami rombongan 26 orang mau tour ke Lombok, tapi seorang teman kami terlambat datang. Akhirnya kami 25 orang sepakat tidak mau naik pesawat dulu supaya teman kami tidak ditinggal,” kata pengusaha tas suspeco dan sepatu tenun Sri Indah Widayati, kepada bisnissurabaya Minggu (18/11) lalu.

Sebenarnya, sebelum bekerja sebagai marketing asuransi, perempuan berhijab ini juga pernah menjalankan profesi sebagai marketing, costumer service, dan desain grafis di sebuah media cetak ternama dan penerbitan.

Kini, nenek tiga cucu yang punya hobby keluyuran ini, mencoba merintis usaha dari nol dengan menjalankan bisnis jualan makanan frozen/beku. Sehingga, bakso, siomay, kebab, empek-empek, dan pisang jala. Usahanya laris manis, karena banyak pelanggan yang suka rasa produknya.

Ditengah menjalankan bisnis makanan beku olahan tersebut, wanita energik ini sering mengikuti pelatihan pembuatan produk. Suatu ketika dia ikut pelatihan decopic/penempelan tisu di Koperasi Setia Bakti Wanita.

Berbekal ilmu yang didapat di pelatihan tersebut, hanya bermodal Rp 500.000 dia nekat mempraktekkan pembuatan tas. “Tas buatan saya pernah dibeli Ummu Fatma istri Wakil Gubernur Syaifulloh Yusuf, Ibu Khofifah Indar Parawansa, dan Ibu Nani Wijaya,” jelas perempuan kelahiran 1957 ini.

Semakin hari Yayuk, makin mengerti seluk beluk teknik pembuatan tas yang baik. Dia mulai mengganti teknik decopik menjadi suspeco/ penempelan batik, dan menggunakan teknologi penempelan mika dengan menggunakan lem tembak kemudian di embos.

“Alhamdulilah, tas buatan saya sudah dikirim sampai seluruh Jawa Timur, Jakarta, Bontang, Kendari, hingga Papua,” tambah wanita yang juga berprofesi makelar tanah ini.

Tak puas hanya menjalankan bisnis penjualan makanan frozen dan pembuatan tas, Kini Yayuk, mulai merambah bisnis sepatu. Dia bersama mitranya di Mojokerto bekerjasama membuat sepatu berbahan tenun. Harga sepatu produknya antara Rp 175.000 hingga Rp 200.000.

Bagi ibu yang satu ini, dengan bergabung di kelompok UMKM seperti IWAPI, Asosiasi Kraft, dan Klinik Koperasi dia merasa senang karena bertemu dengan banyak teman- teman yang hebat. Dan satu lagi disana dia merasa hidupnya berguna bagi banyak orang. (nanang)