Awas Politik Genderuwo untuk Menakut-nakuti

538

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Jangan takut berpolitik. Politik dan pesta demokrasi sudah semestinya disambut rasa gembira masyarakat Indonesia. Dengan kegembiraan itu, masyarakat dapat memberikan suaranya secara jernih dan rasional bagi pemimpin yang dirasa tepat memimpin Indonesia.
Pandangan dan harapan itu disampaikan Presiden Joko Widodo terkait pesta demokrasi pemilu 2019 di Indonesia.

Kegembiraan demokrasi ini tentu hanya dapat dicapai dengan cara-cara yang sesuai dengan kesantunan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Politik yang dibiarkan berjalan dengan menihilkan etika sudah sewajarnya kita hindari.

“Menurut Pak Jokowi, kita harus mengedepankan kematangan dan kedewasaan berpolitik dan menggunakan cara-cara yang santun. Dan beliau sering meyampaikan agar hijrah dari ujaran kebencian menuju ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme kepada optimisme, hijrah dari kegaduhan ke kerukunan dan persatuan,” kata Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya Taru Sasmita kepada bisnissurabaya.com Jum’at (9/11) siang.

Menurut dia, pernyataan presiden disampaikan selepas meresmikan jalan tol Pejagan-Pemalang dan Pemalang-Batang di Kabupaten Tegal Jumat, 9 November siang. Dalam acara sebelumnya di Gelanggang Olahraga Tri Sanja, Kepala Negara juga sempat menyinggung soal kesantunan yang dirasa menghilang dari sejumlah perilaku berpolitik.

Presiden Jokowi melihat bahwa sekarang ini banyak politikus yang pandai mempengaruhi masyarakat. Namun, yang amat disayangkan, pelaku politik cenderung tak memandang etika berpolitik dan keberadaban.

“Benar kata Pak Jokowi, kita lihat manuver politik sekarang dilakukan dengan propaganda menakutkan. Sehingga membuat ketakutan dan kekhawatiran di masyarakat. Setelah takut, mereka kemudian membuat sebuah ketidakpastian. Masyarakat sedang digiring untuk menuju kesana. Dan yang ketiga, masyarakat dibuat menjadi ragu-ragu,” jelas Taru Sasmita.

Presiden memiliki satu istilah khusus untuk menggambarkan perilaku berpolitik tak beretika yang menebar ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat. Berangkat dari mitos Jawa mengenai makhluk halus, dirinya menyebut hal itu sebagai “politik genderuwo”, politik yang menakut-nakuti.

“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Itu namanya politik genderuwo, menakut-nakuti,” tambah Taru Sasmita.

Presiden berharap agar cara-cara berpolitik serupa itu segera ditanggalkan. Sudah selayaknya bagi masyarakat kita untuk memperoleh contoh politik yang baik dan menghadirkan kegembiraan pesta demokrasi di negara kita. (nanang)