Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Banyak rumah sakit mengalami gagal claim. Penyebabnya, karena penarikan verifikasi claim yang biasanya dilakukan sendiri oleh rumah sakit sekarang dilakukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial/BPJS Kesehatan. Akibatnya, banyak claim yang dicoret karena tidak memenuhi ketentuan. Padahal, staf BPJS yang melakukan verifikasi claim tidak mengerti persoalan medis.

Penegasan itu dikemukakan salah satu peserta Seminar Jaminan Kesehatan Nasional/JKN, dr Heru, SpM., yang diselenggarakan di kampus Fakultas Kedokteran/FK Universitas Airlangga/Unair, dalam rangka Dies Natalis FK Unair ke-105 Jum’at (9/11) siang. Seminar JKN menghadirkan Dirut BPJS,  Prof Dr Fahmi Idris, dr., M.Kes., serta diikuti sekitar 60 kepala rumah sakit se-Surabaya.

Dirut BPJS, Prof Dr Fahmi Idris, dr., M.Kes., (no 2 dari kanan) saat tanya jawab disela Seminar JKN di Kampus FK Unair Jum’at (9/11). (foto/bw)

‘’Terus terang, karena verifikasi claim diambil-alih BPJS akhirnya banyak rumah sakit yang mengalami gagal claim,’’ kata dr Heru, SpM., engan nada tinggi.  Menjawab pertanyaan itu, Dirut BPJS,  Prof Dr Fahmi Idris, dr., M.Kes., menyatakan, kalau verifikasi claim dari rumah sakit dilakukan oleh mesin. ‘’Ini untuk membatasi tenaga administrasi. Jadi, saya harus mengajak dr Heru, SpM., ke kantor BPJS untuk melihat langsung proses verifikasi,’’ kilahnya.

Menurut dia, untuk memproses claim dari rumah sakit membutuhkan waktu paling lama 15 hari. Dan bila tidak menepati, pencairan claim pihak BPJS terkena denda 1 persen. Karena itu, sejak proses verifikasi dilakukan di BPJS semuanya dengan menggunakan mesin. ‘’Tidak benar, kalau BPJS main coret claim yang diajukan pihak rumah sakit, karena verifikasi dilakukan oleh mesin,’’ ujarnya. (bw)