Kurang bisa Menangguk Ikan di Air Keruh

13

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – ARTIKEL Opini ini cuma untuk diketahui saja. Meski barangkali menimbulkan tanda tanya, mengapa pada kenyataannnya kok sektor manufaktur Indonesia tidak kuat “mencuil” peluang-peluang dagang dalam arena “perang dagang” antara Amerika Serikat lawan RRT. Meskipun perang dagang menjadikan tekanan-tekanan perekonomian, namun menyediakan beberapa kesempatan atau peluang meningkatkan ekspor komoditas manufaktur, akan tetapi para penjgusaha manfaktur yang biasanya menjual dagangannya melalui ekspor, kurang berhasil “menangguk ikan di air keruh”. Sang “ikan” adalah kesempatan itu, sedangkan “air keruhnya” adalah situasi perdagangan dalam kondisi perang dagang tersebut. Diibaratkan air keruh, karena sesuai apa yang dikatakan oleh pengusaha besar asal Tiongkok dalam dagangan global produk digital, Jack Ma, bahwa perang dagang itu adalah “langkah yang bodoh”.

Kisah selanjutnya, akhir tahun ini kabarnya Presiden AS, Donald Trump, bakal bertemu dengan Presiden RRT, Xi Jin-ping. Kabarnya, masing-masing bakal membahas untuk mengakhiri “perang dagang” antar keduanya, karena ternyata terjadi pukulan pada sektor pertumbuhan dan perkembangan perekonomian masing-masing negaranya. Dampak perang dagang bagaikan “keruhnya air di kolam”. Pengertian “kolam” itu adalah situasi dan kondisi suram dari pertikaian dagang antara dua raksasa ekonomi dunia. Imbasnya sangat luas, melanda perekonomian dan khususnya perputaran keuangan dan perdagangan negara-negara lain. Terutama terhadap negara-negara berkembang dan khususnya di negara-negara Pasifik. Kedua kepala negara itu berniat untuk ‘menutup tahun ini’ pada sekitar 29 November mendatang demi untuk perbaikan hubungan dagang. Sebagaimana diketahui, pertemuan mereka terakhir pada akhir 2017, yang kelanjutannya bukannya perbaikan hubungan dagang masing-masing, tetapi malahan diawali kebijakan Trump untuk melakukan perang-dagang. Sekarang,kedua negara itu sadar untuk menjadikan “air kolam itu jernih kembali”. Atau kalau keduanya lebih tidak bersesuaikan faham, perang dagang bakal lebih parah. Sekurang-kurangnya Trump akan menerapkan pajak lebih tinggi pada semua barang impor dari Cina.udah pasti, Xi Jin-ping akan membalasnya.

Sebenarnya, menurut para pengamat politik perekonomian, tidak semua dampak ‘perang-dagang AS-Tiongkok itu menjadikan jeleknya beberapa sektor perekonomian/perdagangan. Akibat kebijakan tersebut, terjadilah pergeseran matarantai pemasokan dagang pada 3 sektor. Yakni teknologi informasi dan komunikasi (ICT), otomotif dan suku cadang otomotif, serta sektor pakaian siap jadi (ready made garment/RMG). Sekarang, yakni sebelum dua presiden itu bertemu menjelang akhir November ini, tarif impor produk Cina yang masuk AS dikenakan pajak US 250 miliar dolar. Sedangkan Tiongkok mengenakan tarif barang impor masal AS sebesar US$ 110 miliar.

Nah, yang kita kisahkan ini khusus mengenai RMG itu, karena Indonesia juga dikenal sebagai salah satu negara pengekspor produk tersebut.

Namun, ketika ekspor garment Cina yang terkenal itu agak melemah akibat perang dagang dan ekspornya terkena kenaikan pajak ketika memasuki kawasan AS, justru secara cepat diisi oleh eksportir saingan manufaktur kita, yakni Vietnam, Bangladesh dan India. Pengskpor produknya ke AS yang tidak terkenal kenaikan pajak akibat perang-dagang itu.

Karena apa yang disebut Jack Ma sebagai “kebodohan” itu dialami dan disadari oleh masing-masing kepala negara yang bersaing tersebut, maka kalaulah pertemuan akhir November nanti berhasil menghentikan “perang dagang” itu, sudah tentu produk ekspor asal Tiongkok membanjuir lagi ke AS. Produk ekspor ,manufaktur kita tetap tertekan.

Kita tidak tahu, di mana sebenarnya letak “hambatan” penjualan ekspor manufaktur, terutama dalam produk pakaian setengah jadi atau pakaian jadi itu. Apakah karena produsen kita tidak bisa memenuhi target kebutuhan pasar, kualitasnya, corak seninya kurang mengena atau jalan lapang penjualannya tertahan-tahan? Ataukah ada unsur masalah perijinan ekspornya, kurangnya promosi atau hambatan-hambatan yang disebabkan birokrasi pemerintahan? Ataukah ada hubungan antara finansial mereka dengan tenaga kerjanya?

Naga-naganya, Trump dan Xi Jin-ping dalam pertemuan mendatang itu kok bisa menyelesaikan permasalahannya, membuat hubungan dagang mereka normal kembali. Ataupun ada beberapa autran pajak impor, namun dianggap wajar. Akhirnya, tangan keduanya bersalaman demi kesepakatan, sementara jari-tangan para eksportir manufaktur kita tetap di mulut. (amak syariffudin)