Iklim yang Berpengaruh pada Investasi

14

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – KALAULAH Menkeu Sri Mulyani Indrawati minta agar momentum perbaikan iklim investasi yang telah berjalan harus terus dijaga, kiranya peran investasi dan perkembangannya sudah termasuk indikator pertumbuhan perekonomian kita. Pernyataannya itu dikarenakan realisasi investasi pada triwulan III tahun ini tidaklah begitu menggembirakan. Atau terjadinya penurunan jumlah investor dalam segala bentuk produk selama 2018. “Pemerintah harus menjaga momentum perbaikan iklim invetasi kita, tidak hanya di pusat, tetapi juga di daerah,” ujar Menkeu (20/10).

Menurut dia, sektor investasi memiliki dampak poisitif untuk menciptakan kesempatan kerja dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menambah jumlah modal dan mendorong nilai tambah industri di Indonesia agar makin produktif. Karenanya, untuk menjaga iklim investasi yang dilakukan dengan menyediakan sistem pelayanan terintegrasi (OSS) dan memberikan insentif perpajakan. Seperti tax holiday maupun tax allowance harus terus dilakukan. “Mengenai, sektor yang menjadi prioritas, apakah itu pariwisata, apakah sektor ekspor manufaktur atau sektor yang sifatnya hulu, kami akan menggunakan instrument dan menyiapkan agar keuangan negara selalu siap dan bisa digunakan secara tepat,” tambahnya.

Sebelumnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan realisasi investasi penanaman modal kita di triwulan III-2018 mencapai Rp 173,8 triliun. Menurun 1,6 persen dibanding realisasi invetasi pada periode yang sama sebelumnya sebesar Rp 176,6 triliun. “Tren, investasi di Indonesia tahun 2018 masih kurang menggembirakan. Terus terang trennya agak soft,” kata Kepala BKPM Thomas Lembong.

Indikasi penurunan jumlah investasi ke negara kita itu kira-kira bisa dimaklumi. Mengapa bisa terjadi pada tahun ini. Malahan mungkin juga diawal tahun depan. Apa sebenarnya yang terjadi?

Pertama, sudah banyak investasi yang ditanamkan, namun, investor masih melihat-lihat, bagaimana produk dan jasa mereka bisa meraih pasaran yang menguntungkan. Meskipun tidak mungkin mendapatkan hasil pada awal investasinya, karena harus menyiapkan dan melengkapi prasarana dan sarana industri yang dibentuknya. Sementara calon investor justru banyak yang memperhatikan perkembangan situasi dan kondisi di Indonesia. Sektor politik! Tahun ini kita memasuki apa yang dinyatakan sendiri oleh pemerintah dan kaum politisi sebagai “Tahun Politik”. Tahun menghadapi tahun 2019, saat Pemilihan Presiden dalam April 2019. Dimana pun di dunia, saat-saat macam itu,– terutama saat kampanye pemilihan umum tersebut,– selalu muncul banyak “suara panas” dari para pesaing politik. Malahan tidak bisa dibantah, dibeberapa negara muncul bukan hanya “suara panas”, akan tetapi situasi panas yang diikuti dengan pertikaian fisik antara para pengikut pesaing politik tersebut.

Jadi, mungkin juga ada para calon investor ke Indonesia memperhitungkan hal-hal seperti itu. Sehingga bakal merugikan investasi yang ditanamnya. Salah satu contoh, lawan politik calon presiden nomor satu, Jokowi — Amin Ma’ruf, dituduhkan, bahwa Jokowi sebagai “antek asing dan aseng” (Aseng = nama Cina). Tuduhan yang dibantah keras Jokowi. Maksud menarik investasi asing oleh Jokowi adalah perputaran dana dan peningkatan produk ekspor, serta terpenting adalah pembukaan lapangan kerja. Kalau dituduh memasukkan orang-orang Cina ke Indonesia sebagai tenaga kerja dan ternyata banyak yang ‘tenaga kerja ilegal’, Presiden menjawabnya: tenaga kerja (resmi) asal Cina yang masuk ke Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan tenaga kerja Indonesia yang di negeri Cina (lebih kurang 800.000 orang).

Thomas lebih menyoroti kinerja internal kita. “Apa penyebabnya karena factor eksternal? Perang dagang, tekanan mata uang di negara berkembang dan sebagainya, bagi saya pribadi tetap menempatkan tanggung jawab pada faktor internal. Jadi, menurut saya, eksekusi implementasi dari kebijakan-kebijakan terkait investor masing kurang nendang.” ujarnya.

Apa sebenarnya makna masuknya investasi ke Indonesia? Pertama-tama, bahwa pemerintah sudah harus menetapkan, sektor daya alam ataupun teknologi macam apa yang ditawarkan dalam berinvestasi tersebut. Yakni, yang tidak merusak lingkungan atau sumber daya alam kita. Kemudian, teknologi yang memberikan manfaat dalam perputaran perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Yang penting pula, investasi baru memberikan lapangan kerja baru bagi rakyat, terutama bagi generasi penerus kita.

Hal-hal yang tersebutkan di atas sebenarnya sudah benar-benar diatur oleh pemerintah. Hanya saja, kembali lagi situasi yang sedang berlangsung karena “tahun politik” yang dikawatirkan itu. Oleh karenanya, kiranya adalah jadi harapan rakyat, bahwa dari masing-masing Tim Pemenangan Pilpres 2019 untuk “menjaga mulut”. Tidak asal buka mulut, seolah mengajak berkelahi. Apalagi ketika sudah merasa “terdesak” lalu menjadi hanya dengan “bondo nekad” (berbekal nekad) saja, tanpa peduli dampaknya terhadap situasi dan kondisinya dalam kehidupan bermasyarakat kita. Ingat pepatah: “Mulutmu Harimaumu”! (amak syariffudin)