Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Seorang tamu hotel biasanya saat masuk kamar setelah check-in yang dilihat pertama kali adalah tempat tidur dan kamar mandi. Mereka ingin memastikan kebersihan dan kerapian kedua fasilitas tersebut. Bagi tamu hotel, faktor kenyamanan tidur dan mandi merupakan pertimbangan yang utama selain harga kamar.

Karena itu, setiap hotel berlomba-lomba meningkatkan kualitas pelayanan yang ada di hotel dan selalu menjaga kebersihan dan kerapian fasilitas tempat tidur yang ada dalam kamar. Biasanya mereka mengganti sprei dan sarung bantal setiap ada tamu yang masuk.

Making Bed Competition

Bagi insan perhotelan, Departemen House Keeping merupakan jantungnya hotel. Karena fungsinya yang sangat vital. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya bila karyawan yang ada di departemen ini melakukan mogok kerja. Sudah dapat dipastikan managemen akan kerepotan dan mengeluarkan beaya tambahan untuk mencucikan berbagai fasilitas linen.

Seperti sprei, sarung bantal, handuk, dan keset di tempat lain. Sebagai konsekwensi terjaminnya ketersediaan fasilitas hotel. Berpijak dari hal tersebut, Indonesian House Keepers Associates Jawa Timur (IHKA Jatim) sebagai wadah berhimpun  para eksekutif dibidang housekeeping se-Jatim merasa bertanggung jawab untuk menyediakan dan melatih para house keeper yang berpengalaman.

Making Bed Competition

Setiap tahun mengadakan Making Bed Competition & Towel Art/  Menata tempat tidur  dan seni menghias handuk. “Biasanya, lomba ini dilaksanakan di hotel. Tetapi tahun ini sengaja digelar di mall supaya peserta lebih percaya diri di tengah kerumunan pengunjung,” kata Ketua IHKA Jatim, Imam Maksudi, didampingi Ketua Panitia Arifin Hadi Kurniawan, dan Juri Raharjo Artiono kepada Bisnis Surabaya, Jum’at (2/11) lalu.

Ketua Panitia, Arifin Hadi Kurniawan

Untuk tahun ini, lomba diikuti hampir 200 peserta dari Surabaya, Sidoarjo, Malang, hingga Banyuwangi. Dengan rincian 50 orang kelas SMK, 70 orang diploma, dan 70 orang profesional. Untuk kategori SMK, mereka berlaga dengan penataan 2 pillow (bantal). Sedangkan kelas diploma dan profesional memiliki materi penataan 4 bantal dan art towel yang dilakukan dengan mata tertutup.

Semua peserta dituntut untuk menyelesaikan penataan tempat tidur dalam keadaan rapi dengan ujung jahitan dalam kondisi tertutup, paling lama 4 menit dengan masa tenggang 8 menit. Setelah 8 menit semua peserta harus mengakhiri aktifitasnya dan dinilai hasilnya.

“Lomba ini bukan sekedar menang-menangan. Tetapi lebih ditujukan untuk mensosialisasikan teknik making bed terbaru,” kata Arifin Hadi Kurniawan, yang juga Assisten House Keeping Manager Hotel Majapahit.

Untuk menjamin profesionalitas lomba, panitia menurunkan 9 juri yang berpengalaman dibidangnya. Antara lain Raharjo Artiono yang juga Hotel Manager Hotel Moscha, Andrian dari Hotel Artotel. Semua juri dari praktisi dan bukan akademisi yang hanya menguasai teori semata.

“Ada yang membanggakan dari event ini. Yakni, kehadiran Aldo yang merupakan kaum difabel pada kategori profesional yang menunjukkan keahliannya menata tempat tidur dengan mata tertutup,” tambah Raharjo.

Acara yang diselenggarakan pada 2 November 2018 di Mall Grand City didukung oleh Spring Air, SHS, Liquid Team, Inti Mitra, Kaha, Nano Ceramic, dan Duta Abadi.  General Manager Grand City & Convex Gito Sugiarto, berkenan menabuh gong tanda dibukanya event . (nanang)