Gandrung Sewu : Pelajaran Kembangkan Pariwisata Wilayah

16

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – MENYAKSIKAN Pantai Marina Boom, yang dulunya sebagai pantai bagian dari Pelabuhan Penyeberangan Banyuwangi-Gilimanuk, pada hari itu dipenuhi warna merah dan gemerlap kuning keemasan pakaian penari gandrung Banyuwangi, seolah alunan ombak Selat Bali. Sekilas sudah kelihatan menjadi tontonan yang sangat menarik perhatian pengunjung. Selain hadirnya ribuan penduduk kawasan kabupaten itu, juga ditambah berjejalnya ribuan wisatawan yang berdatangan dari luar daerah maupun luar Pulau Jawa, seolah pagar melingkari arena yang luas. Kira-kira 2000 wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman) di pagi itu menyaksikan pagelaran kolosal berjudul “Gandrung Sewu. Layar Kumendung – 2018”.

“Gandrung Sewu memiliki nilai budaya tinggi, nilai kreatif dan memiliki nilai komersial yang tinggi. Indikatornya jelas. Penerbangan penuh, hotel penuh, rumah makan ramai. Dan itulah pentingnya nilai budaya. Budaya itu semakin dilestarikan, semakin menyejahterakan.” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, saat menyaksikan Festival Gandrung Sewu 2018 di Banyuwangi (20/10) yang diselenggarakan sejak pagi hari. Pengunjung lokal, wisnus (wisatawan nusantara) maupun penyelenggara kunjungan wisman (biro perjlananan umum/travel agencies) setiap tahunnya menunggu acara tersebut. Kata Menpar, tidaklah salah, bila Gandrung Sewu masuk dalam Top 100 Calendar of Events (CoE) Nasional, karena diikuti 1000-1200 personil. Berarti, acara tersebut akan masuk dalam Calendar of Events 2019. “Gandrung Sewu – Layar Kemendung” yang melibatkan 1.173 penari, 64 penampil fragmen dan 65 pemusik sehingga penampilannya 70 persenbtarian dan 30 persen fragmen itu bukanlah berasal dari karangan. Tetapi cerita rakyat tentang kepahlawanan Bupati Banyuwangi pertama, Raden Mas Alit, yang menentang kedatangan pasukan VOC (Belanda) di abad pertengahan. Bupati dan pasukannya menaiki perahu-perahu berlayar (Layar) menyerang pasukan-pasukan VOC di kapal-kapal perangnya, akhirnya gugur yang membuat duka (Kemendung) rakyat Banyuwangi.

Sampai kini, Kabupaten Banyuwangi dibawah pimpinan Bupati Azwar Anas, telah menyumbang 3 events dalam CoE Nasional, yakni sport bersepeda Tour de Banyuwangi Ijen dan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). Kini pagelaran Gandrung Sewu.

Azwar Anas, berterima kasih kepada Presiden Jokowi, beserta jajarannya, karena kabupaten yang dijulukinya “Sunrise of Java” itu mendapatkan percepatan infrastruktur di kawasannya tersebut. Katanya, mulai dari percepatan pembangunan Bandara Banyuwangi, infrastruktur jalan dan dalam waktu dekat bakal ada dukungan dari Bank Indonesia untuk pembangunan home stays di Banyuwangi.

Apa yang dilakukan (lagi) oleh Azwar Anas, untuk kabupatennya itu patut diacungi jempol. Bayangkan, untuk mempersiapkan penari sekian banyak itu latihannya dilakukan setahun sebelumnya. Ketika ada pihak (ormas) tak setuju pagelaran itu, dia jalan terus. Maklum, ada beberapa hal yang harus dilakukannya, yakni: (1) Posisi Banyuwangi di ujung timur pula Jawa. Terjepit dengan populernya Pulau Bali. Sekurang-kurangya ada 3 daerah “terpencil” di provinsi Jawa Timur. Yakni Pacitan, Trenggalek dan Banyuwangi. Namun, dia nekad merintis atau memajukan lapangan terbang yang kemudian menjadi Bandara Banyuwangi. Dia memaklumi potensi wilayahnya bukan hanya sebagai “gudang beras”, akan tetapi pada sektor sosial-budaya yang ada. Yakni, adat istiadat kehidupan asli Jawa bercampur Bali. Budaya “Wong Osing”. (2) Unsur sosial-budaya yang antara lain terwujudkan dalam upacara-upacara adat sampaipun keseniannya memang unik. Jauh berbeda dengan seni budaya (terutama tarian-tarian) dengan yang di Jawa. Juga tidak sama dengan yang di Bali. Termasuk tetabuhannya. Pada pemerintahan Provinsi Jatim dibawah pimpinan Gubernur Sunandar Priyosudarmo, hingga penerusnya, acara perhelatan nasional atau provinsi di Rumah Gubernuran (Gedung Grahadi) yang disuguhkan sebagai kesenian Jatim adalah musik Gandrung Banyuwangi. Termasuk beberapa kali dikirim untuk mewakili group kesenian dari Jatim. (3) Mengangkat ketenaran khas daerahnya di samping sebagai kawasan produsen beras dan pangan lainnya serta beberapa lokasi industri (antara lain pabrik kapal dan pabrik kereta api PT KAI), maka mengangkat seni-budaya khas yang dipunyai Banyuwangi untuk kepariwisataan. Sektor yang bisa cepat membawa duit asal wisatawan dalam maupun luar negeri bagi masyarakat dan pemerintah daerahnya. (4) Berslogan sebagai tempat munculnya matahari di Pulau Jawa (Sunrise of Java), berkembangnya kepariwisataan itu tidak lepas dikaitkan dengan daerah tujuan wisata (DTW) utama di Indonesia. Yakni, Pulau Bali. Dengan demikian, wisatawan usai dari Banyuwangi bisa melanjutkan wisatanya ke Bali, atau sebaliknya. Dia memahami, Bali bisa menjadi DTW di Indonesia dan malahan di Asia Tenggara, terbawa oleh daya tariknya dalam aspek sosial-budaya. Bukan pemandangan alamnya melulu. Di Bali, seni, budaya, adat istiadat, kehidupan sampaipun agamanya menjadi satu kesatuan yang khas Bali. Masyarakat yang terbuka dan ramah. Sama dengan sikap yang ditunjukkan masyarakat di Jogjakarta dan Solo. Khas “wajah Indonesia”!

Masa kini dan masa depan, Banyuwangi disektor kepariwisataannya nampaknya bakal menjadi andalan buat provinsi ini. Terutama bagi wisman. Itu dikarenakan faktor alamnya seperti obyek-obyek wisata Pantai Lampon, cagar alam hutan Alas Purwo dengan pantai untuk water-skiing, cagar alam Meru-Betiri (Sukamade) dan banyak lagi. Ditambah dengan pertunjukan-pertunjukan berasal dari budaya masyarakat setempat. Prospek ke depannya, Banyuwangi pada sekitar tahun 2020 sudah dapat dijangkau dengan lebih mudah lewat jalan tol Surabaya-Banyuwangi yang sekarang mendekati kota Probolinggo. Ataupun peningkatan frekuensi penerbangan Surabaya-Banyuwangi-Jogja-Jakarta atau Denpasar-Banyuwangi. Meskipun seumpama Azwar Anas, tak lagi menjadi bupati disitu karena sudah dua kali menjalani masa tugasnya, namun masyarakat akan mengenang, bahwa sebenarnya pertumbuhan kabupaten tersebut tidak lepas dari oleh pikir dan tangan dinginnya. Terlebih buat para kepala daerah di masing-masing kabupatennya, sebagai contoh pelajaran, bahwa kepariwisataan bisa maju demi memakmurkan masyarakat, kalaulah dipikirkan cara mengenalkannya dan memang punya niat memajukannya demi kepentingan daerah dan masyarakatnya. Antara lain, menggali seni-budaya dan adat-istiadat asli daerah itu. Bukan seni yang dicampuri pengaruh sosial-budaya asing, yang terus-terang nilainya sangat rendah. (amak syariffudin)