Begini, Derita Warga di Sekitar Sumur Bor Prambangan Gresik

44

Gresik, (bisnissurabaya.com) – Warga di sekitar lokasi sumur bor Prambangan Kebomas Gresik  merasakan imbasnya. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari sebagian warga harus ngangsu (mencari air) ke tempat lain. Ngangsu tersebut dengan cara menggledek atau dengan membeli per jurigen. Untuk gledek yang telah dimodifikasi dari tong besar harganya dipatok Rp 5.000. Sedang yang dari jurigen ukuran 20 liter harganya Rp 1000 – 1.500.

Seperti yang dialami Jun Cahaya, warga RT 6 RW 7 Desa Kedanyang Kebomas. Untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci dia membeli air dengan cara menggeledek. Tiap dua hari sekali dirinya harus menyempatkan beli air. Biasanya, hal itu dia lakukan sebelum berangkat ke tempat kerja.

Warga Kedanyang Jun Cahaya, lagi membeli air dengan cara menggeledek. (Foto/sam)

“Yaaaa……, daripada nggak mandi, nggak cuci  mas, terpaksa ini saya lakukan. Harus beli air yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah saya,” kata Jun Cahaya, kepada bisnissurabaya.com, Senin (22/10) pagi. Disamping itu, untuk menarik geledek cukup menyita tenaga. Sehingga, saat menarik geledekan tampak bulir-bulir air muncul di wajah dan tubuhnya.

Secara umum, warga sekitar tempat sumur bor mengeluh. Pasalnya, debit air di sumur yang mereka miliki menurun debit airnya. Bahkan, tak jarang yang kondisi air di sumurnya habis, tak menyumber lagi.

Kegiatan penjualan air di Sumur Bor Prambangan terus berlanjut. (Foto/sam)

Warga menginginkan Pemkab Gresik, maupun Pemprov Jatim bersikap tegas kepada penjual air bawah tanah di Desa Prambangan, Kecamatan Kebomas yang memanfaatkan sumur bor itu. Apalagi, sekarang bulan-bulan puncak kemarau. Sulit sumber air.

Pasalnya, usaha penjualan air yang memanfaatkan sumur bor dengan diameter lebih besar diatas rata – rata sumur bor milik warga itu sangat berpengaruh. Yaitu, memakan persediaan yang biasanya mengalir ke sumur  milik warga tersebut.

Sejumlah warga lain menyayangkan tak adanya tindakan dari aparat berwenang.  Karena, sumber air disedot besar – besaran yang berlangsung kontinyu siang malam.Tiap hari, berjajar truk tangki membeli air dari sumur bor itu.

Pemilik sumur bor seperti menganggap tak ada masalah. “Apa warga harus demo dulu mas baru mendapat perhatian dari pihak tekait,” tanya Gunadi, warga lain di Desa Kedanyang Kecamatan Kemobas yang sumber sumurnya telah mengering. (sam)