Menggapai jadi Lumbung Pangan Modern

14

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – MUNGKIN terlalu “sombong” kalau pemerintah sekarang menyatakan, bahwa pada sekitar satu dasawarsa ke depan, Indonesia sudah berada diawal menjadi salah satu lumbung pangan dunia. Namun, apabila dilihat dari data luas lahan pertanian (terutama jenis tanaman padi dan jagung) yang ada sekarang juga dikembangkan, maka “kesombongan” tadi tidak benar. Memang rakyat, terutama para petani, mampu memproduksi beras dan jagung guna kepentingan pengadaan stok pangan di dalam negeri dan sebagian lagi produknya diekspor.

Tetapi, bagaimana kondisi sebenarnya?

Perlu kita kaji dulu berbagai permasalahan terhadap perkembangan pertanian pangan kita (juga di negara-negara Asia Tenggara) dalam era modern ini. Era digital, yang secara cepat maupun lambat sangat berpengaruh terhadap pola dan kebutuhan hidup rakyat. Digitalisasi yang dibawa dengan sangat cepat oleh teknologi globalisasi, sering tanpa pilih-pilih merubah sikap atau pola hidup sehari-hari manusia yang diterpanya. Di Indonesia, sudah banyak anak-anak (juga generasi mudanya) yang tinggal di pedesaan yang lebih terbiasa menguasai tombol-tombol telepon genggam dan computer ketimbang gagang cangkul dan cara mencangkul yang benar. Sangatlah sedikit yang pernah menaiki punggung kerbau untuk membajak lahan persawahan, dibandingkan dengan yang kini duduk disadel sepeda motor. Lalu sudah banyak pula mengenal roti atau makanan cepat-saji ketimbang memahami proses memasak nasi yang lunak dan enak. Akhirnya, para pemerhati kehidupan sosial dan pertanian di pedesaan sudah kawatir, bahwa tenaga pengelola pertanian (petani) dari kalangan generasi muda bakal susut hebat atau bisa-bisa “habis”. Kekawatiran itu tidak hanya di kalangan peduli pertanian kita. Tetapi juga di Filipina, dimana dalam bulan lalu disiarkan stasiun televisinya, mengenai sangat berkurangnya para generasi muda tertarik menjadi petani. Hal itu disebabkan perkembangan maju teknologi, dan terutama yang didapat dari kehidupan perkotaan besar atau kecil.

Menjadilah kebijakan yang benar, kalau Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, berkunjung ke Republik Taiwan, dalam rangka kesepakatan kerja sama antara Indonesia-Taiwan untuk Program Magang Petani bagi generasi muda petani guna memahami teknologi pertanian modern dan inisiatif dalam sektor tersebut. Mentan melakukan pertemuan dengan Manteri Pertanian Taiwan, Tsung-Hsien Lin. “Kami melakukan pertemuan informal dengan Menteri Pertanian Tiawan. Pihak Taiwan menawarkan program magang yang memberikan kesempatan bagi petani Indonesia untuk mempelajari sistem pertanian modern langsung dari petani Taiwan,” ujar Mentan Andi Amran Sulaiman (14/10). Dia nyatakan, kerja sama itu sangat strategis guna mendukung program Kementeriannya dalam menciptakan SDM pertanian yang inovatif. Menurut dia, tanpa SDM dan teknologi. Mustahil sektor pertanian bisa maju dan Indonesia menjadi salah satu lumbung pangan dunia. Karenanya segera program itu dibahas secara intensif. Dalam waktu dekat menurutnya, pelaksanaan pertama dari program itu akan dikirimkan 40 orang petani Indonesia.

Sementara itu, juga sedang dibahas upaya peningkatan SDM kita dalam pengembangan industri gula. Dengan demikian, tenaga kerja, baik pada sektor onfarm maupun sektor hilirisasi, akan dimagangkan di Taiwan. Hal yang terkait dari pertemuan itu ialah rencana investasi Taiwan di sektor industri gula di Indonesia sebesar Rp 20 triliun, dan membuka pasar ekspor buah manggis kita ke negara itu serta kerja sama Pengembangan Rain Water Harvesting System.

Kerja sama sektor pengembangan penanaman, pasca panen, pengelolaan produksi pertanian sampaipun pengelolaan perkoperasian pedesaan dengan Taiwan sudah dilakukan pada awal tahun 1980-an oleh Departemen Pertanian RI dalam pemerintahan Presiden Suharto. Program itu dilaksanakan usai keberhasilan program pertanian Bimbingan Massal (Bimas) yang merupakan antisipasi dampak kekurangan pangan pemerintahan Presiden Sukarno, sampai dengan pengkhianatan Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Bimas dilaksanakan sejak 1970-an yang berhasil mengisi “lumbung pangan nasional”. Istilah yang diungkapkan Suharto, saat itu ialah “kenyang dulu, baru enak” . Karenanya, program Bimas ditingkatkan menjadi Intensifikasi Massal (Inmas) dengan bervariasi bibit unggul padi dan rasanya jauh lebih enak dibanding beras-Bimas (B-1, B-2 dan seterusnya), dan akhirnya Swasembada Pangan. Namun, peningkatan produksi padi itu tidak diikuti oleh para petani untuk peningkatan kemampuan pengelolaan pasca-panen mereka. Dibuatlah program perkoperasian di pedesaan dalam bentuk Badan Usaha Unit Desa (BUUD) dan Koperasi Unit Desa (KUD). Tujuannya adalah program hilirisasi produk panen padi. Saat itu adalah kewenangan Menteri Pertanian, Prof.Dr. Ir. Sudarsono yang semula selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dan penggagas koperasi pedesaan. Menteri itu pula melakukan kerja sama dengan Kementerian Pertanian Taiwan untuk rintisan bentuk keterpaduan kerja antara pola pertanian, kemandirian petani dan pihak-pihak komponen produksi maupun pemegang kebijakan di desa-desa melalui program “Pertanian Terpadu”. Sayang, beberapa tahun kemudian proyek itu berantakan, karena keterpaduan di lokasi (salah satu proyeknya di suatu kecamatan Kabupaten Kediri) tidak terbina unsur birokrasi dan lain-lain.

Ternyata, bahwa selain kegawatan SDM pertanian di masa depan, kini para pakar pertanian justru sedang membahas kegawatan pertumbuhan padi menjadi lebih pendek. Sehingga berdampak mengurangi produk dan mutunya. Kejadian itu sebagai dampak perubahan iklim dunia. Dalam minggu ini di Singapore diadakan International Rice Congress 2018, yang membahas permasalahan tersebut. Mereka berharap pada IRRI (International Rice Research Institute), lembaga penelitian padi internasional yang berada di Filipina, mempunayi varian-varian bibit unggul untuk menanggulangi kasus tanaman padi masa kini. Dulu, IRRI tersebut yang diminta Presiden Suharto, mendatangkan bibit-bibit unggul padi untuk Bimas sampai dengan Inmas.

Kalaulah kelak hasil magang penanaman padi secara modern dari Taiwan itu diterapkan, tidak ada salahnya dipertimbangkan kembali pola Panca Usaha Tani sewaktu untuk program Inmas. Yakni, lima unsur yang harus diterapkan demi suksesnya tata pola tanam padi. Yakni, selain penanaman pada waktu yang tepat, juga (1) Pengolahan tanah secara benar, (2) Pemilihan bibit unggul VUTW (varietas unggul tahan wereng) (3) Pengaturan air irigasi yang baik, (4) Penggunaan pupuk yang tepat (5) Penggunaan pestisida secara benar.

Yang penting, SDM yang dikirim bermagang di Taiwan itu nantinya kembali itu hendaknya menjadi pelopor petani modern di persawahan. Bukan lantas beralih menjadi birokrat meskipun di sektor pertanian. Lebih penting lagi, diharapkan mereka menjadi semacam “penyuluh pertanian” bagi masyarakat petani di desanya. Menjadi motivator dunia pangan. Sehingga tergapailah cita-cita Indonesia dalam kehidupan modern bakal menjadi lumbung pangan dunia. (amak syariffudin)