Dorong dan Jaga UMKM Makin Mendunia

21

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – SAAT penyelenggaraan Annual Meetings IMF-WBG di Nusa Dua, Bali, pada 8-14 Oktober lalu, tak disia-siakan untuk mempromosikan dan menjual produk-produk industri besar, menengah dan kecil Indonesia dalam ruang khusus pameran “Paviliun Indonesia” seluas 2000 meter persegi di Westin Nusa Dua.Terutama produk usaha-usaha kelas UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) kita. “Ini mempromosikan wajah Indonesia yang tak hanya memiliki kekuatan sumber daya alam. Tetapi juga bersumber daya alam seperti industri kreatif yang akan memberi kesan kepada delegasi,” kata Kepala Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), Triawan Munaf di Nusa Dua (9/10) lalu. Dia optimistis, produk industri kreatif semakin mendunia setelah pameran itu. Optimismenya itu dikarenakan, dalam pertemuan akbar yang dihadiri 34.000 orang delegasi dari 189 negara, akan memberikan dampak signifikan bagi promosi industri kreatif tanah air yang ikut memamerkan produknya. Yakni, ikut sertanya 150 usaha UMKM yang berasal dari 64 pemerintah kabupaten/kota di Indonesia yang memamerkan hasil karya mereka. Termasuk demo pembuatan batik , kerajinan tas, kipas, topeng, seruling dan lain-lain jenis kerajinan. Terlebih lagi pendekatan unsur investasi/permodalan sampaipun akses pasar bisa diraih UMKM dari para pengusaha di luar negeri, mengingat para delegasi itu berasal dari kalangan pengusaha dan badan usaha.

Sejauhmana UMKM pada akhir-akhir ini berperan dalam perekonomian kita, sehingga perlu lebih didorong perkembangannya?

Survei khusus tentang ekonomi kreatif oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, kontribusi ekonomi kreatif tahun 2015 mencapai Rp 852,2 triliun atau naik 4,38 persen dibanding tahun 2014 yang mencapai Rp 784,8 triliun. Namun, kontribusi paling tinggi yang mencapai 41 persen, disusul fesyen dan kriya yang menduduki posisi kedua dan ketiga 18 persen memberikan kontribusi ekonomi kreatif terhadap pendapatan domestik bruto.

Bersamaan dengan peristiwa Pertemuan di Bali tersebut, terjadi peristiwa menarik berkaitan dengan upaya mendorong bisnis UMKM lebih mendunia, adalah ketika CEO Industrial Bank of Korea, Kim Do Jin, menawarkan perluasan akses pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Indonesia dengan berbagai kemudahan. Pernyataan di atas diungkapkan dalam pertemuan bilateral antara CEO Industrial Bank of Korea itu dengan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UMKM, Meliadi Sembiring di Nusa Dua (11/10). Pengalaman pimpinan Industrial bank tersebut, karena di Korea Selatan tercatat lebih dari 20 persen kredit yang memang dialokasikan oleh bank tersebut, sehingga terjadi perkembangan jumlah UMKM Korsel mencapai 99,8 persen.

Sebagian dari produk kriya dan seni karya UMKM kita memang sudah merambah dunia. Terutama yang dari Bali, Jogjakarta, Jepara dan Bandung. Pasarannya selain di Asia, negara-negara Pasifik, Amerika Serikat dan Eropa Barat. Namun masih belum secara besar-besaran.
Dorongan dari pihak Badan Bekraf Kementerian Koperasi dan UMKM untuk lebih “menduniakan” produk-produk UMKM, adalah bertujuan, agar UMKM bukan dikategorikan sebagai badan usaha yang mikro, kecil dan menengah, akan tetapi serendah-rendaknya berkualitas menengah dan bila mungkin meningkat menjadi perusahaan besar. Untuk mencapai peringkat macam itu, mulai dibuka permodalan atau investasi pihak luar serta lebih terbukanya kredit usaha dari pihak perbankan di dalam maupun luar negeri.

Upaya-upaya pemerintah untuk perkembangan maju UMKM memang harus diakui tidak habis-habisnya. Akan tetapi sering terbentur pada permasalahan pengelolaan (management) UMKM bersangkutan. Demikian pula upaya yang sekarang untuk lebih memajukan usaha UMKM melalui pemasaran produk-produknya ke luar negeri, hendaknya aspek pengelolaan UMKM bersangkutan hendaknya ditata rapi dulu. Dulu sering didengar, bahwa ketika terjadi pemesanan dari pembeli yang ada di luar negeri, ternyata pihak UMKM bersangkutan tidak bisa memenuhi target permintaan produknya. Atau pun ada keluhan, ketika pemesanan sudah banyak, mutu produknya tidak lagi stabil, sehingga merugikan pihak pemesan dalam berhadapan dengan konsumennya di luar negeri.

Penataan internal usaha UMKM yang bersiap-siap “mendunia” dalam aktivitas perdagangan, pertama-tama hendaknya meneliti diri-sendiri masing-masing akan kesiapannya sebagai produsen komoditasnya yang berkualitas internasional. Artinya mampu “menjaga” citra usahanya. Terutama, memahami sudahkah produknya tersebut sudah/bisa sesuai selera atau kebutuhan konsumennya. Karena bukanlah industri besar dengan produk machinery secara besar-besaran, maka dengan sendirinya menjelaskan terlebih dulu kepada calon pembelinya (terutama perantara bisnisnya) tentang kesediaan berdasar kemampuannya. Terkecuali untuk benda-benda seni seperti patung, kerajinan tangan tertentu, yang tidak bisa bersifat terlalu komersiil dan punya keterbatasan-keterbatasan tertentu. Beda dengan produk-produk industri besar seperti rokok sigaret kretek/cerutu, mi instant dan beberapa produk makanan (seperti kecap, merica, dan lain-lain) yang bisa kita beli di supermarkets besar di kota-kota besar Australia, di kota-kota besar negara-negara Pasifik, di beberapa negara Eropa Barat. Apalagi di negara-negara Asean.

Dengan demikian, upaya yang dilakukan oleh pemerintah tidak sekedar “mendorong” upaya UMKM untuk mendunia, akan tetapi juga perlu untuk “menjaga” kemampuan kinerjanya dan mutu produknya sesuai yang diinginkan pasarnya. Harus kita hargai, upaya pemerintah mengangkat usaha-usaha UMKM lebih mendunia itu merupakan “menjadikan Indonesia lebih besar.” (amak syariffudin)