Kaliploso Horti Carnival dihadiri Bupati Anas. (Foto/tin)

Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – MENJADI penghasil hortikultura, warga Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring mengembangkannya menjadi kegiatan unik. Yakni, Kaliploso Horti Carnival (KHC). Kegiatan ini menjadi ajang pamer kreasi warga. Tujuannya, memamerkan hasil bumi melalui pagelaran seni.

Meski kali pertama, kegiatan yang digelar, belum lama ini terbilang sukses. Warga dari seluruh RT, bergotong royong membuat gunungan tumpeng berbahan bunga, sayur dan buah.
Selanjutnya, gunungan tumpeng tersebut diarak keliling desa. Bukan hanya gunungan tumpeng, dalam pawai tersebut warga juga mengenakan kostum unik. Terbuat dari bahan tanaman sayur, bunga dan buah. Mereka berpartisipasi mengikuti jalannya pawai.

Tak hanya orang dewasa, anak anak dari usia TK, SD, turut dilibatkan. Warga dari 8 RW dari 23 RT kompak mengikuti acara. Kegiatan semakin meriah dengan kehadiran Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Menurut Bupati Anas, kegiatan Kaliploso Hortikultura Carnaval ini merupakan festival kreatif. Apalagi yang menggagas kadesnya mantan Gapoktan. Sehingga membuat festival di bidang pertanian yang unik. “Saya kira ini bagus, belum ada desa yang menggagas event terkait holtikultura,” puji Anas. Hebatnya lagi, lanjut Anas, kegiatan festival ini hasil swadaya berbasis RT. Sehingga, bisa menjadi contoh desa lain.” Jika ini rutin bukan tidak mungkin menjadi festival di selatan masuk agenda Banyuwangi Festival,” tambahnya.

Kepala Desa Kaliploso Rudi Hartono mengatakan KHC ini bagian dari upaya mengangkat potensi desa. Sehingga warga sadar dengan potensi pertanian, khususnya holtikultura.
“Kegiatan ini juga bagian dari proses edukasi,” ungkapnya.

Lewat kegiatan ini, lanjutnya, pemerintah dan masyarakat berupaya mengenalkan kepada anak anak terkait tanaman buah dan sayur. Lalu, mengajak anak-anak bahwa pertanian ada di sekitar kita. “Bangga menjadi petani adalah satu semangat dalam kegiatan Kaliploso Horti Carnival (KHC) ini,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, festival ini untuk merekatkan masyarakat. Sehingga tercipta semangat gotong royong dan kerukunan warga. Dalam kegiatan ini, kata Hartono, setiap RT membuat satu gunungan tumpeng berbahann sayur dan buah. Dibuat secara gotong royong, selama beberapa hari. Biayanya ratusan ribu hingga jutaan. Seluruhnya, swadaya. Selain menggelar iringan gunungan, warga juga menggelar kegiatan pameran. Berbagai olahan sayuran dan buah dijual. Seperti aneka rujak, parcel buah, rempeyek bayam dan bolu jeruk. Produk UMKM peyek Ombo menjadi produk khas Desa Kaliploso. (tin)