Intan Manulang : Perempuan Lebih Menghayati Pekerjaan

498

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Kisah inspiratif dari seorang yang berprofesi sebagai marketing komumunikasi. Intan Manulang, adalah sedikit dari profesional perempuan yang berkiprah di dunia hotel. Walau Intan, tak menempuh pendidikan dibidang perhotelan, melainkan jebolan Fakultas Psikologi Unair, tak membuatnya mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dibidang tersebut.

Awalnya, wanita keturunan batak yang lahir di Surabaya 1990 ini, mempunyai hobi mendengarkan siaran radio bersama mamanya. Karena itu, dia ingin masuk fakultas komunikasi. Namun, karena disarankan mamanya akhirnya mengambil jurusan psikologi. “Saya pertama kali bekerja sebagai penyiar di Radio Colour merangkap jadi marketing,” kata Marketing Komunikasi Hotel Best Western Pappilion Intan Manulang, kepada bisnissurabaya.com Selasa (9/10) kemarin.

Intan Manulang. (Foto/nanang)

Karena banyak bergaul dengan pelaku bisnis hotel, akhirnya Intan, menerima tantangan untuk berkarir di hotel. Hotel Santika Premire Gubeng adalah hotel pertama dia berkarir, kemudian dilanjutkan dengan Hotel Gunawangsa Merr, terus di Hotel Best Western Pappilion hingga sekarang. Intan, berkeyakinan bekerja di hotel tak hanya bermodalkan wajah cantik dan sepatu hak tinggi. Tetapi harus bekerja keras dan bekerja cerdas.

“Kaum perempuan memiliki kelebihan lebih menghayati pekerjaan, dan lebih sabar dan mengayomi bawahan,” jelas Intan. Karena itu kesetaraan gender di perhotelan, adalah sebuah keniscayaaan. Terbukti, saat ini banyak general manager/GM dan hotel manager/HM hotel di Surabaya dari kaum perempuan.

Contohnya Weni, di Ayola, Nita di The Square, Erlita di Cleo, Ita Tania di Yellow, Santi di Fave Rungkut dan masih banyak lagi. Dan Intan sangat memfavoritkan Santi GM dari Fave Rungkut. Untuk menambah pengetahuan yang menunjang profesinya, Intan, terus  mempertahankan hobby membaca buku psikologi dan bisnis populer yang disukainya sejak dulu.

“Saya juga mengidolakan Boss Virginia Air Richard Branson. Kata-katanya sangat menginspirasi saya. Katanya jika kamu dipercaya untuk melakukan sesuatu, maka jawablah bisa. Jangan menjawab tidak bisa, tetapi pelajari dan lakukan itu,” tambah Intan, yang penghobi makanan mie ini. Bagi perempuan lajang, bisnis hotel masih sangat menjanjikan.

Apalagi jika semua hotel konsisten untuk bertarung dikelasnya. Dan Hotel Best Western Pappilion tempat dia bekerja masih menarik bagi wisatawan domestik maupun internasional. Karena hotel ini merupakan hotel barat yang mengangkat kearifan dunia timur.

Selain tidak mempekerjakan orang bule di Best Western Indonesia, hotel ini kerap menyajikan seni tari diberbagai eventnya. Untuk menjaga nilai-nilai tradisi kearifan lokal batik, Hotel Best Western bekerjasama dengan perajin batik membuka outlet batik di lobby hotel tersebut. Satu hal  yang menarik dan merupakan bentuk kepedulian Hotel Best Western Pappilion kepada kaum difabel tuli. Yaitu, melatih pegawai hotel untuk belajar Amerikan Sign Lenguage (ASL) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Hal ini dilakukan untuk menjamin kualitas prima pelayanan kepada tamu kaum difabel. (nanang)