Ini Kisah Wanita Penggagas Kampung Kue Surabaya

232

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Di Surabaya, ada Kampung Kue. Bila kita memasuki Jalan Rungkut Lor II Surabaya, jangan kaget. Sebab, banyak ibu-ibu warga kampung itu menjadi pengrajin kue untuk kemudian dijual di depan rumahnya. Mulai dari pastel, lemper, dadar gulung, donat, rogut, bolu pisang, dan almond crispy yang kini menjadi ikon oleh-oleh khas Surabaya. Harga kue tradisionalnya antara Rp 1.000 – Rp 3000.

Keberadaan Kampung Kue tak bisa dilepaskan dari  sosok inspiratif dibalik terciptanya daerah tersebut. Sebut saja, Ibu Choirul Mahpuduah, warga disana. Melalui usaha jajanan yang dirintisnya, wanita 49 tahun ini mampu memberdayakan puluhan ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya. Istri dari Riyadi, ini mulai menceritakan jatuh bangunnya saat merintis usaha kue ini.

Kampung Kue Surabaya. (Foto/fara)

Ibu dua anak ini, memulainya pada 2005 dan memiliki niat untuk mengajak tetangganya agar memiliki kegiatan yang menghasilkan uang untuk kehidupan keluarga. “Daripada ibu-ibu merumpi dan terlilit utang sama rentenir, saya memiliki tekad untuk membuat aktivitas yang dapat mendongkrak perekonomian warga,” kata wanita kelahiran Kediri kepada bisnissurabaya.com Sabtu (6/10) kemarin.

Perempuan yang dulu aktivis buruh ini, juga menyabet berbagai penghargaan. Diantaranya, sebagai penggerak ekonomi masyarakat, pahlawan ekonomi, serta penggerak ekonomi dan penggerak kampung digital. “Harapan saya, semoga kampung kue semakin maju, berkembang, dan tentunya menjadi destinasi wisata kuliner bagi masyarakat,” tambahnya, sambil menjelaskan omzet yang didapat dari usaha kuliner dari kampung kue ini mencapai Rp 15 juta per harinya. (fara)