Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Perekonomian Indonesia telah mengalami banyak kemajuan sejak krisis tahun 1997-1998. Dalam 20 tahun terakhir, Indonesia mengalami beberapa tekanan ekonomi dari eksternal.

Reformasi kebijakan yang telah dilakukan di sektor perbankan, moneter, dan kelembagaan, pasca krisis 1997-1998 telah memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia. Hal tersebut menyebabkan kondisi fundamental Indonesia menjadi lebih tahan terhadap guncangan eksternal.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam Peluncuran Buku “Realizing Indonesia’s Economic Potential mengatakan, analisis makroekonomi yang komprehensif dalam beberapa tahun terakhir dan menyingkap kekuatan dasar yang membentuk ekonomi Indonesia.

Selain itu, dijelaskan pula kendala yang dihadapi oleh Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dan rekomendasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta isu-isu yang kemungkinan akan dihadapi oleh para pembuat kebijakan ke depan.

“Indonesia memiliki tiga peluang untuk mengakselerasi perekonomian dalam jangka panjang,” katanya.

Ketiga peluang itu pertama, menurutnya, mengoptimalkan manfaat bonus demografi hingga tahun 2030. Kedua, memanfaatkan perkembangan pesat ekonomi digital di Indonesia. Terakhir, memanfaatkan siklus ekonomi dunia, termasuk memanfaatkan transformasi ekonomi struktural Tiongkok dalam rangka meningkatkan ekspor.

Namun, untuk memanfaatkan peluang ini, Indonesia perlu mengatasi beberapa tantangan struktural. Pertama, peningkatan kualitas sumber daya manusia terutama terkait pendidikan. Kedua, menyesuaikan struktur ekspor Indonesia dari komoditas dan sumber daya alam dan produk yang menggunakan teknologi rendah ke sektor-sektor dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Melalui buku itu, IMF memberikan lima (5) rekomendasi kebijakan untuk perekonomian Indonesia, Pertama, peningkatan rasio pajak secara bertahap dan hati-hati (prudent). Kedua, perlunya membuka sektor ekonomi baru bagi investor swasta, memperbarui peran perusahaan negara dan anak perusahaan, bukan dari sudut pandang ideologi, tetapi dari sudut pandang ekonomi. Ketiga, mengangkat kurva imbal hasil bebas risiko yang dapat dijadikan patokan. Keempat, memperluas basis investor domestik untuk pemerintah daerah, untuk mendukung pengembangan dan pembiayaan investasi, serta mengurangi ketergantungan terhadap aliran modal asing. Kelima, modernisasi regulasi keuangan.

Seperti diketahui, bersamaan dengan peluncuran buku tersebut, Bank Indonesia menggelar diskusi dengan tema “Realizing Indonesia’s Economic Potential”. Diskusi ini menghadirkan pembicara Mirza Adityaswara (Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia), Suahasil Nazara (Kepala Badan Kebijakan Fiskal), Raden Pardede (Pengamat Ekonomi), dan Changyong Ree (Direktur Departemen Asia Pasifik IMF).

Diskusi ini membahas tantangan dan prioritas kebijakan yang dapat ditempuh Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. (ton)