Disaster Risk Management Dikenalkan di IMF-WB

24

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – RASA-rasanya, bencana gempa dan tsunami di Palu, Donggala, Sigi dan Parigi-Moutong tak hanya mengguncang negara, pemerintah dan rakyat Indonesia. Tetapi dampaknya ikut mengguncang kursi-kursi persidangan Annual Meeting dari International Monetary Funds (IMF) – World Bank (WB) di Nusa Dua, Bali, pada 8-12 Oktober 2018. Indonesia mengajukan acara permasalahan “Disaster Risk Management” dalam skala internasional guna menangani bencana alam. “Kami menyadari, bahwa pelaksanaan Annual Meeting itu di dalam konteks Indonesia yang sedang terus mengelola bencana alam yang terjadi baik di NTB, Lombok, Sumbawa maupun di Palu dan Donggala,” ujar Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati di Kantor Kepresidenan (2/10). Menurut dia, mempermasalahkan pengelolaan resiko bencana secara internasional, tentu akan berguna tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga negara lain yang juga sering menghadapi bencana alam seperti Meksiko, Karibia dan negara-negara yang ber pantai Samodera Pasifik.

Topik Disaster Risk Management itu bakal dibahas dalam forum dialog maupun inisiatif pendanaan. “Dan bagaimana koordinasi di level negara maupun support internasional, termasuk dalam hal ini pengenalan instrumen asuransi akan menjadi salah satu topik yang akan dibahas di Annual Meeting itu,” kata Menkeu.

Pentingnya bagi negara kita dalam pergaulan internasional demi menghadapi dan menangani bencana alam, karena setiap peristiwanya bukan hanya korban jiwa dan harta benda terdampak bencana tersebut. Tetapi, membutuhkan dana yang besar, tenaga, keahlian, keterampilan maupun peralatan yang dibutuhkan bagi mereka yang berkewajiban menanganinya ataupun yang menjadi sukarelawan. Kesemuanya dibutuhkan dalam jumlah yang besar dan kerja sama internasional dari negara-negara sahabat.

Indonesia “berpengalaman pahit” menghadapi dan menangani beberapa tragedi bencana gempa diikuti tsunami berskala besar di era global saja. Pertama, gempa berskala Richter 10 diikuti tsunami raksasa berasal dari beberapa puluh kilometer barat Aceh di Samodera Hindia pada 26 Desember 2004. Ibu kota Aceh Darussalam setengahnya disapu bersih, kawasan sepanjang pantai provinsi itu dan sebagian provinsi Sumatera Utara diporak-porandakan. Dampak kerusakan dan korban besar juga melanda Malaysia Barat, Thailand Selatan, Sri Langka, India hingga Somalia. Korban tewas sekurang-kurangnya 280.000 jiwa, dan ribuan lainnya dibawa gelombang ke Samodera Hindia.

Kedua, gempa bumi besar yang melanda Sumatera Barat beberapa tahun kemudian, gempa besar Jogjakarta, Papua dan lain-lain. Dari rentetan gempa jenis tektonik maupun vulkanik, tiba-tiba terjadi gempa besar berskala Richter 6.4 di Pulau Lombok Timur pada (28 Juli 2018). Kemudian Lombok Timur-Utara 7.0 SR (5/8/2018). Tiba-tiba pada 28 September lalu, pada petang hari, kota-kota dan kawasan pedalaman kota Poso, kabupaten-kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi-Moutong, diguncang gempa 7.4 SR diiringi tsunami dari Teluk Palu. Kota Palu yang diterjang tsunami dengan gelombang setingi lebih dari 4 meter, sampaipun ke pedalaman sepanjang Sungai Koro, tanah longsor, ambles maupun lahar lumpur dari dalam bumi. Korban tewas lebih dari 1.420 jiwa dan 113 orang hilang, rumah rusak atau hancur lebih dari 65.733 dan tertimbun lumpur lebih dari 152 rumah. Kerugian diperkirkan Rp 10 triliun. Gempa tektonik itu akibat pergeseran sesar Palu-Koro yang membujur sepanjang sungai Koro dan hampir memotong lebar Pulau Sulawesi. Tetapi dampaknya berendeng. Pada 1 Oktober, gempa terjadi jauh ke selatan, yakni di Pulau Sumba Timur (NTT) sekuat 6.0 SR. Namun, tidak menimbulkan tsunami.

Pendek kata, setiap hari Indonesia diguncang gempa. Meskipun hanya dicatat di Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), karena berskala kecil. Tidak sampai terasa ke permukaan bumi. Masalahnya, letak Indonesia seolah duduk di atas perapian dari lahar panas bumi yang disebut sebagai “Ring of Fire” (Cincin Api), yang memanjang dari bagian Selatan Laut Andaman, ke pesisir dari Aceh hingga NTT, lalu bergabung dengan jalur “Ring of Fire” dari palung Kermadek (Selandia Baru) ke Papua, Maluku, Sulawesi, Filipina hingga ke Jepang dan Alaska, berputar arah selatan hingga palung Peru-Cili. Namun, bumi yang terdiri dari sesar atau lempeng (plate) dimana lahar panas di bawahnya selalu bergerak saling berhimpit, menaik atau menurun, dalam gerak lambat ataupun cepat.

Sebagai contoh, dari utara ke selatan terdapat Eurasion Plate (diawali dari Kutub Utara di Rusia hingga Indonesia), Arabian Plate, Indian Plate, African Plate, Philippine Plate dan Australian Plate. Pergeseran lempeng-lempeng itu yang menjadikan gempa tektonik. Kapan bergeser dan menyebabkan gempa, sampai kini teknologi apapun belum bisa meramalkannya. Termasuk mbah dukun pun tak bisa. Umumnya, lempeng yang berusia lebih tua ditekan ke bawah oleh lempeng berusia muda. Sehingga terjadi proses subduksi seperti di Sulteng itu.

Dalam bukunya “Tsunami,The World’s Most Terifying Natural Disaster” guna memperingati bencana gempa dan tsunami Aceh, Geoff Tibbals (CARE International UK, London, 2005) mengakhiri bab buku itu menyatakan “Tsunamis Is Waiting”: “Kelanjutan kengerian dari tsunami Samodera Hindia 2004, memunculkan pertanyaan-pertanyaan dari bibir para ahli geologi di seluruh dunia, ialah: dimana kejadian selanjutnya?”

Salah satu jawabannya: gempa dan tsunami hebat melanda Prefectur Fukushima (Jepang) pada November 2011 berskala Richter 7.5. yang merusak pusat pengelola nuklir pembangkit listrik, yang hingga kini masih belum dioperasikan sepenuhnya. Ribuan penduduk tewas ditenggelamkan tsunami . Puluhan kapal-kapal nelayan Jepang dilemparkan ke daratan. Belum lagi gempa-gempa besar yang sebagian menyebabkan tsunami, seperti di Kepulauan Karibia, di Meksiko, di Cili, Peru dan lain-lain, serta yang terjadi di daratan Asia Tengah dan Asia Selatan. Kesemua bencana tersebut terjadi dalam dasawarsa lalu.

Dengan demikian, rancangan Disaster Risk Management agar dapat menjadi perhatian dalam pendanaan internasional. Antara lain, diurusi IMF dan WB, bukanlah mengada-ada. Hampir seluruh negara di dunia merasakan bencana tersebut. Kalau bukan dirasakan langsung oleh rakyatnya di negaranya sendiri, mungkin rakyatnya ada yang menjadi korban bencana tersebut di negara orang lain. Atau terhadap investasi negaranya itu di negara yang terdampak bencana.

Beban pembiayaan untuk menangani dampak bencana itu tidak kecil. Perkawanan internasional antara lain adalah melalui kerja sama dan saling membantu secara global, juga sekaligus bisa mengurangi ketegangan politik negara-negara yang bersaing pengaruh. Jadi masuk nalar gagasan pemerintah kita untuk mempermasalahkan kerjasama pendanaan internasional melalui Disaster Risk Management itu. (amak syariffudin)