Keluarga H Ngatoyo, yang harmonis. (Foto/tin)

Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – SIANG itu, seorang lelaki tua bertubuh ringkih menggelar dagangan di sebuah trotoar gedung DPRD. Menjelang  sore, belum ada satupun pembeli datang. Matanya yang keriput hanya bisa menatap bangunan megah  di depannya, gedung wakil rakyat. Cukup ironis.  Wakil rakyat yang seharusnya bisa menyerap aspirasi rakyat, ternyata hanya sebatas janji dan harapan.

Kondisi ini mengetuk hati sosok, H. Ngatoyo untuk perduli terhadap kaum kecil. Sekaligus, memotivasinya maju mencalonkan diri sebagai calon legeslatif DPRD Banyuwangi dari dapil 2 (Blimbingsari, Singojuruh, Rogojampi, Kabat dan Songgon).

Ngatoyo, pria asli suku Tengger, Probolinggo, hijrah ke Banyuwangi mengikuti sang istri. Sosoknya selalu tergerak membantu orang kecil. Senang berbagi menjadi kunci suksesnya dalam hidup. Di lingkungan tempat tinggalnya di Perumahan Dadapan Asri, kabat, pria yang menjadi mualaf tahun 1990 ini dikenal sebagai sosok  low profil dan dermawan.

Selama hidupnya, dia selalu berusaha bisa membantu masyarakat. “ Inilah motivasi saya terjun ke politik agar bisa membantu lebih banyak orang,” tandasnya.

Sejatinya, bidang politik bukan hal baru bagi pria kelahiran, Probolinggo, 30 Desember 1971 ini. H. Ngatoyo mulai terjun ke politik sejak tahun 2004 – 2009 sebagai Sekretaris Golkar Komisariat Kecamatan Sumber. Selanjutnya fakum, memilih menekuni usaha. Kini,  H. Ngatoyo resmi menjadi caleg Partai Hanura Dapil 2. Dia mengusung banyak misi. Di Banyuwangi,  kiprahnya kepada masyarakat cukup dikenal. Aktif memberdayakan warga, mulai lingkungan terdekat sampai masyarakat luas.

Saat ini, bersama sang istri, Novia Rafikasari, dirinya sedang merintis usaha kafe dan resto. Pengelolaannya menggunakan sistem bagi hasil. Usaha tersebut dikelola para janda di lingkungannya yang minim penghasilan. “Sehingga misi saya ke depan lebih banyak menciptakan lapangan kerja bagi orang banyak,” ungkap bapak 5 anak ini.

Ngatoyo banyak membantu warga dalam berbagai kegiatan. Salah satunya tergerak membangun sarana air bersih di Dusun Kopen Laban, Desa Macan Putih, Kabat. Dan, pembangunan TPA di Dusun Kopen Langi, Desa Macanputih, belum lama ini.

Di desa asalnya, H. Ngatoyo juga banyak membantu masyarakat. Salah satunya membantu pembangunan masjid melalui proyek penanaman kubis di lahan yang dia sediakan. Hasilnya murni untuk pembangunan masjid.

Menurut nya kunci kesuksesan adalah kerja keras, jujur dan amanah. Termasuk rajin sedekah dan senang berbagi. “ Bagi saya, membantu orang bukan untuk pencitraan. Kalo pun saya dipercaya sebagai wakil rakyat, saya anggap bonus dan amanah buat saya,” ungkapnya.

Sejak mahasiswa, Ngatoyo senang berorganisasi. Pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum HMI Komisariat HMI FKIP.  Lulus kuliah S1 FKIP Biologi Universitas Unmuh Malang, tahun 1996, Ngatoyo mengajar di SMP Negeri di Kecamatan Sumber, Probolinggo, sebagai tenaga sukarelawan. Kegiatan itu dilakoni selama dua tahun.

“Selain memiliki back ground pendidikan, alasan saya mengajar di sekolah ini, banyak siswa berasal dari desa saya yang belum sadar pentingnya pendidikan. Saya saja bisa sekolah SMP berkat program desa,” ungkapnya.  Hati Ngatoyo tersentuh melihat anak-anak di desanya kesulitan mendapat akses pendidikan. Mengingat jarak dari sekolah mencapai 17 kilometer. Bahkan sebagian warga belum melek pendidikan.

Dari situ, dirinya merintis SMP terbuka di desanya, Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Probolinggo. merupakan desa terpencil dan masuk desa IDT ( Inpres Desa Tertinggal). “Sebelumnya jarak dari sekolah ke SMPN 17 kilometer. Maka harus dan wajib sekolah di SMP terbuka, ini,” kisahnya. Sekolah terbuka ini merupakan program Dinas Pendidikan untuk desa terpencil. “Guru diambil dari SMPN, termasuk saya,” ungkapnya. H. Ngatoyo pun berperan dalam kemajuan desa. Tercatat sebagai ketua LMD.  Lalu, BPD dari tahun1996 sampai 1999.

Saat itu sebagian besar perangkat desa masih ber-SDM rendah. Ngatoyo yang tinggi S1, diharapkan bisa membantu memikirkan kondisi desa. Hasilnya,  desanya menjadi desa paling maju diantara 13 desa lain di kawasan Bromo. Kini, keberhasilan tersebut akan diterapkan juga di Banyuwangi. Baginya, membela wong cilik menjadi amanah. (tin)