Lamongan, (bisnissurabaya.com) – Lamonganoise merupakan titik kumpul para kepala batu yang atas nama seni dan  kerendahan hati menjadi satu. Teaterawan tak  sungkan bersua dan menyapa seorang metalhead. Seorang grunge dengan ramah sekali merangkul musisi yang memegang teguh tradisi.

Pelukis, penyair, penari, pelaku film indie, dan  pelaku seni lain berkumpul, berbagi unek-unek, permasalahan kehidupan, serta gagasan tentang kesenian di era informatika dalam balutan festival dengan semangat kebersamaan.

Suasana acara Lamonganoise. (Foto/ist)

Bermodal semangat gotong-royong, seniman independen mengusung asas Desain It Yourself/DIY berkumpul dan bersenang-senang. Lamonganoise secara tak langsung mampu mewadahi persamaan dalam segala perbedaan. Mereka ber-hulubis kuntul baris untuk memberikan sajian kesenian yang indah dan tidak biasa-biasa saja.

Parikan Jawa ‘wit gedhang awoh pakel, omong gampang nglakoni angel’ dilabrak dengan laku gotong royong untuk memberi bukti bahwa mereka tidak sedang bertong kosong nyaring bunyinya. Kenapa acara ini dinamakan Lamonganoise? ‘’Karena hanya sekedar iseng, kelihatannya keren karena Lamongan kan berakhiran N. Jadi seirama saja dengan Noise yang berawal N,’’ kata Ismail, kepada bisnissurabaya.com Kamis (6/10) lalu.

Makna dari Lamonganoise adalah keinginan membuat sesuatu yang “noise” alias berisik lewat karya seni. Acara Lamonganoise yang pertama berhasil terlaksana pada 16 April 2017. Saat itu, hanya menampilkan band-band indie pop, rock, hardcore, metal, pembacaan puisi, dan MC dari anak teater. Karena responnya bagus pada edisi ke-2 coba ditambah bidang kesenian lain.

Segala yang disebut seni bisa ditampilkan dalam acara ini. Meliputi seni rupa, musik, teater, puisi, tari, dan sebagainya. Seni disuguhkan tak hanya untuk satu segmen saja, jadi ada 1 panggung pertunjukkan yang dikelilingi beberapa pameran seni rupa.

Hajatan Lamonganoise kini menginjak pada bagian ke-3. Pada edisi kali ini, mengusung tema ‘Nandur Kulinan’. Nandur Kulinan yang berarti menanam kebiasaan memiliki makna bahwa semoga Lamonganoise yang ketiga ini bisa konsisten, istiqomah, terus berlanjut dengan konsep yang lebih baik dan thema yang lebih menarik.

Masih sama seperti pada Lamonganoise yang sebelumnya, seni yang ditampilkan adalah seni pertunjukkan, pameran seni rupa, dan screening film. Bedanya pada hajatan kali ini adalah dimunculkannya workshop. Untuk memunculkan upaya saling belajar dan berinteraksi dari pemateri dan penonton.

“Karena awalnya memang ditujukan untuk bersenang-senang. Jadi, lewat uang kita sendiri-sendirilah kita bikin pagelaran itu. Siapa saja boleh menyumbang untuk acara ini. Tapi kita pantang untuk mengemis!” Jelas Ismail, yang didampingi Slamet Niko, yang juga anggota panitia.

Harapan untuk Lamonganoise selanjutnya semoga bisa merespon keadaan Lamongan yang nampak sedang tidak baik-baik saja, lewat seni tentu saja. Karena melalui seni semuanya terasa indah dan menyenangkan. Jika pesan yang kami sampaikan tidak bisa merubah keadaan itu tidak apa-apa.

Karena awalnya memang untuk menginisiasi acara seni dengan semangat kolektifan yang belum pernah ada di Lamongan dan bagaimana berjejaring dengan kawan-kawan baru. “Kami yakin dengan lingkaran kecil yang kelak akan menjadi besar nantinya akan memberi perubahan baru. Kami yang dimaksud disini adalah mereka yang merasa masih muda, menyukai seni, dan tidak diam melihat Lamongan yang tidak sedang baik-baik saja,” tambah Ismail.

Tak semua berasal dari  kalangan seniman, tapi mereka menyepakati bahwa lewat seni, mereka mengutarakan sebuah pesan. Sebuah pesan tentang keinginan melihat Lamongan yang berkeadilan, bersih, gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo, dan baik-baik saja. Sebagaimana filosofi  yang mereka yakini selama ini yaitu panjang umur kekancan nang kesenian. (nanang)