Tuban, (bisnissurabaya.com) – Suhu panas ekstrim di Tuban, dua bulan terakhir menyebabkan hasil tangkapan nelayan rajungan menurun drastis. Panasnya suhu air laut, mempengaruhi udang dan rajungan untuk migrasi ke area yang suhunya lebih bersabahat. Kondisi ini menyebabkan hasilnya sulit untuk ditangkap. Jika cuaca normal, hasil tangkapan rajungan nelayan tradisional bisa mencapai 15 kg per hari, namun saat ini maksimal hanya lima kilogram.

Kondisi ini dirasakan nelayan di Desa Kradenan, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Sejak dua bulan terakhir, tangkapan hasil laut berupa rajungan menurun drastis akibat cuaca panas. Menurut nelayan, panasnya suhu air laut mempengaruhi udang dan rajungan untuk migrasi ke area yang dingin dan hangat.

Bisa dengan berlindung di dasar laut yang berkarang atau ke lokasi lain yang suhunya lebih bersahabat. Dengan kondisi ini, ikan sulit ditangkap. Jika nelayan tetap memaksakan berangkat melaut, maka hasil tangkapannya cukup menutupi perbekalan atau beaya melaut saja. Karena itu, nelayan di desa setempat sebagian memilih tak melaut.

Nelayan rajungan, Bagiyo, menyatakan, menurunnya hasil tangkapan nelayan rajungan di sepanjang pesisir Tuban dipengaruhi suhu panas yang tinggi, antara 32 derajat hingga 37 derajat celcius. Bila cuaca normal, sekali melaut  mampu menghasilkan tangkapan sepuluh hingga  15 kg rajungan. Sedangkan, saat ini nelayan hanya mendapatkan tangkapan empat hingga lima kilogram.

Pengepul rajungan nelayan, Sartikah, juga mengeluhkan hal serupa. Jika biasanya mereka dapat mengumpulkan rajungan dari nelayan per harinya hingga 300 kg, kini per harinya hanya 70 kg. Karena hasil tangkapan menurun, pengepul pun menaikkan harga rajungan sebesar Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per kg.

Jika sebelumnya harga rajungan dari nelayan mereka beli dengan harga  Rp 70.000 hingga Rp 75.000 per kg, kini naik menjadi Rp 80.000 hingga Rp 85.000 per kg. (sumali/stv)