Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Difabel bukan halangan. Karena setiap orang pasti ingin terlahir sempurna seperti layaknya manusia normal, Namun, mereka tak bisa menolak takdir bila dilahirkan dalam kondisi yang mengalami ketunaan atau kecacatan. Baik fisik maupun mentalnya. Seperti tuna netra (A), tuna rungu (B), tuna grahita (C), tuna daksa (D), dan tunalaras (E)

Banyak tokoh dunia yang sukses dan menginspirasi berasal dari kaum difabel. Antara lain, Angkie Yudistia (Indonesia) seorang tuna rungu yang berhasil lulus cumlaude dari London School Of Public Relation, Antony Robles (Amerika Serikat) seorang pegulat profesional hanya memiliki satu kaki, Nick Vujicic (Australia) seoranag motivator dunia yang tak memiliki tangan dan kaki, Tony Melendez (Nicaragua) seorang musisi kelas dunia yang tak memiliki tangan, dan Stevie Wonder (Amerika Serikat) seorang penyanyi tuna netra legendaries dunia.

Sukamto (kiri) saat mengantar calon pekerja difabel di Hotel Moscha. (Foto/nanang)

Kepala Sekolah SMA Luar Biasa (LB) Karya Mulia, Sukamto, di kawasan Jalan Achmad Yani Surabaya, mengatakan, sekolah tersebut banyak mendidik siswa tuna rungu (B) yang kebanyakan berasal dari kawasan Indonesia Timur. Dia mengajar disana sejak 1993.

Laki-laki ini tak hanya dikenal sebagai pendidik kaum difabel semata, tetapi dia juga mampu mebuat terobosan untuk anak didiknya. Sejak 1995 dia bekerjasama dengan PT Maspion untuk mempekerjakan 55 lulusan siswa difable yang ada di sekolahnya. Pada 2011 bekerjasama dengan Disnaker Jatim untuk  memagangkan anak didiknya di Carefour, 2017 memasukkan sebanyak 77 alumninya ke Restoran Carl Junior Darmo,  dan memenuhi permintaan pabrik sepatu PT Wangta Agung serta PT Shelter.

Tak hanya itu, dia juga bekerjasama dengan beberapa hotel di Surabaya untuk memasukkan alumninya sebagai karyawan disana. Pada 2016, dia memasukkan dua  muridnya ke Hotel Mercure Darmo. Setahun kemudian, ada satu alumninya bekerja ke Hotel Grand Darmo dan enam orang di Hotel Majapahit, dan pada 2018 ada dua orang di tempatkan di Hotel Moscha.

Kepala Sekolah SMA LB Karya Mulya, Sukamto. (Foto/nanang)

“Kebanyakan mereka di tempatkan di department laundry dan housekeeping,“ kata Kepala Sekolah SLB Karya Mulia, Sukamto, kepada bisnissurabaya.com Rabu (26/9) lalu. Untuk memenuhi permintaan instansi ataupun hotel, seperti Hotel Mercure yang meminta 25 orang alaumni siswa difabel, Sukamto, melibatkan rekannya sesama SLB yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kelompok Kepala Sekolah (MK3S).

Pada awalnya, alumni yang di tempatkan di tempat kerja mengalami kesulitan komunikasi. Namun, seirng perkembangan waktu mereka menjadi terbiasa karena dibimbing senior yang lebih dulu bekerja disana. “Selain bahsa bibir dan bahasa tulis, mereka juga komunikasi menggunakan bahasa isyarat,” jelas Sukamto, yang sering diminta bantuan polisi dan pengadilan sebagai penterjemah atau saksi ahli dalam penanganan kasus.

Ando adalah warga Perak Utara, salah satu alumni siswa difabel yang bekerja di Hotel Moscha mulai 28 Juli 2018 sebagai tenaga housekeeping yang bertugas membersihkan kamar. Laki-laki kelahiran Surabaya 6 November 1990 ini merasa sangat senang bekerja disana, karena dia mendapat hak dan kewajiban yang sama layaknya karyawan normal.

“Managemen Hotel Moscha memperlakukan sama semua karyawan yang ada di hotel tersebut,” tambah Sukamto. (nanang)