Mewaspadai Pergolakan Ekonomi China

24

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – NILAI tukar rupiah versus dolar AS menurun atau naik-turun. Tak hanya rupiah. Juga lira Turki sangat terpuruk, lalu duit Argentina nilainya terpuruk, serta beberapa negara ikut-ikutan nilai tukar uangnya dengan dolar AS ikut turun. Bagaikan permainan kartu domino. Dampaknya berendeng. Gara-gara politik Presiden AS, Donald Trumps, yang ingin menguatkan nilai dollarnya melalui berbagai jurus politiknya pada Turki, kemudian dengan China melalui “perang dagang”.

China dalam perekonomian global merupakan negara-ekonomi kedua setelah Amerika Serikat. Hebatnya, perekonomian China dalam bentuk investasi dan perdagangannya, menguasai hampir seluruh negara-negara di Asia Tenggara dan Benua Afrika. Tak ada produknya yang tidak memenuhi pasar perdagangan di negara-negara itu, termasuk hingga ke Australia. Kalaulah anda sempat ke negara Kangguru itu, segala bentuk barang (terutama untuk cinderamata dari boneka koala, topi, sampaipun peralatan sport dan camping) adalah “Made in China”. Namun kini Trumps menetapkan, bentuk barang apapun yang berasal dari Cina dan diimpor ke wilayah AS, dikenakan pajak yang tinggi. Jauh dari pajak yang cukup rendah sebelumnya. Akibatnya, produk-produk China harus dijual mahal, ataupun volumenya berkurang karena harganya menjadi tinggi dan pembelinya berkurang. Trumps berusaha mengangkat ekspor produk Amerika Serikat ke China untuk menjadi seimbang atau melebihi. Sebab selama bertahun-tahun justru produk asal China yang lebih banyak memasuki negaranya.

Indonesia menjadi salah satu pasar potensial investasi dan produk-produk benda, peralatan, buah-buahan tertentu sampaipun makanan kecil ex-China. Malahan mungkin volumenya yang terbesar dibandingkan dengan komoditas impor dari negara lainnya. Guncangan perekonomian China dari dampak “perang dagangnya” dengan Amerika Serikat, sudah merambah Asia Tenggara dan tentu saja Indonesia sebagai negara besar dan berpenduduk banyak. Nilai dolar AS yang meninggi dan situasi ekonomi China, menekan nilai rupiah kita.

Karenanya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, sebagai ahli bidang keuangan kaliber internasional itu, jadi kurang bisa tidur dan sekuat tenaga menekan melandainya nilai rupiah oleh pengaruh perekonomian global tersebut. Dalam seminar yang diadakan Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) bersama Kadin (Kamar Dagang & Industri) Indonesia (14/9) menyatakan, bahwa pemerintah memperhatikan pengaruh situasi ekonomi China.

“Perkembangan China sebagai negara ekonomi kedua (kini) ditekan AS dalam perang dagangnya. Dinamika inilah yang perlu diwaspadai. Bagaimana reaksi dari China untuk menjaga stabilitas perekonomiannya,” kata Menkeu. Diingatkannya kembali ketika krisis keuangan Asia 1997-1998, dimana China membiarkan nilai tukar renminbi (istilah/nama resmi uang China, terutama dalam pembayaran impor/ekspor) dalam kondisi stabil. Hal tersebut menyebabkan renminbi menjadi relatif lebih mahal dibandingkan nilai tukar mata uang regional yang terdepriasi. Langkah itu bertujuan untuk menciptakan stabilitas ekonominya. Sebab kalaulah saat ini atau akan datang China turut mendepriasi uangnya, maka akan terjadilah perlombaan penurunan nilai tukar yang dapat membuat krisis yang lebih buruk. “Itu menunjukkan, bahwa China berkontribusi terhadap stabilitas global yang cukup besar. Dalam 15 tahun terakhir, lokomotif pertumbuhan dunia adalah China. Saya (dulu) bekerja di Bank Dunia, jadi saya tahu, kita mau ke pelosok Argentina sampai Afrika, pasti berhubungan dengan China dalam permintaan komoditasnya,” kata Sri Mulyani.

Diungkapkannya, bahwa sekarang China mengalami gangguan “diserang” dari sisi perdagangan. Untuk menghadapinya, China tentu akan melakukan banyak sekali reaksi dalam kebijakannya. “Jadi, kalaulah sesuatu terjadi dengan perekonomian China, tidak hanya Indonesia, tetapi seluruh dunia akan terkena. Spillover (peluberan) itulah yang perlu menjadi perhatian. Tidak akan ada yang menang dalam perang dagang semacam ini. Semuanya akan mengarah pada pemburukan ekonomi global.” demikian diingatkannya.

Kegundahan perekonomian (keuangan dan perdagangan) di negara kita memang mulai timbul. Yang sekarang sudah mulai terasa dalam nilai tukar rupiah kita. Hal itu akan menghebat kalaulah China mengambil kebijakan (policy) keuangan dan dagangnya menjadi drastis untuk menstabilkan kondisi investasi dan perdagangannya yang ada di luar negeri, maupun stabilitas di dalam negerinya. Kalau menurut Menkeu itu, bahwa di dalam negeri kita perlu memperhatikan empat pilar ekonomi yang menopang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, yakni moneter, fiscal, kegiatan ekonomi dan neraca pembayaran.

Apa yang telah dilaksanakan pemerintah bagi kehidupan perekonomian rakyat, yakni pada kenyataannya membuktikan, bahwa kondisi sandang dan pangan dalam jumlah maupun dalam harga jual atau beli, ternyata stabil. Malahan ada komoditi pangan yang harganya menurun drastsc. Seperti cabe (lombok) dan bawang merah. Sementara itu, bergantian pimpinan Divre Bulog di tiap provinsi melaporkan, stok beras untuk dua bulan ke depan sudah tercukupi. Memang ada kenaikan harga meski tidak besar. Yakni, terhadap barang-barang yang berasal dari impor karena dikenakan kenaikan pajak impor. Ataupun produk-produk dalam negeri. Akan tetapi menggunakan komponen/bahan yang berasal dari impor. Terkecuali harga tinggi bagi barang mewah asal impor, seperti mobil-mewah dan sejenisnya.

Jadinya, kita bisa keheranan, kalau kemudian muncul demonstrasi di satu dua kota, menuntut harga pangan tidak naik dan nilai rupiah tidak merendah. Sudahkah mempelajari apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah harga-harga sandang-pangan melonjak naik? Apakah nilai tukar rupiah kita merendah terhadap dolar AS karena duit kita tak laku? Jadi, adalah bijaksana kalau mempelajari perkaitan perekonomian regional dan mengaitkannya dengan perekonomian global. Terutama sekarang dalam proses “perang dagang” itu. Apabila bertindak, hendaknya berdasarkan kebenaran faktualnya. Jadi, tidak asal berdemo. Apalagi kalau seumpama dilakukan oleh mahasiswa, yang semestinya bakal jadi para intelektual.

Sebab, untuk menjadi intelek harus mau belajar dan memahami masalah dan sebab-musabab hal yang akan didemonya. Terkecuali kalau ramai-ramai berdemo demi kepentingan politik tertentu sambil menjalankan misi yang berslogan “Maju tak gentar membela yang bayar“ . (amak syariffudin)