Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Tindakan pertolongan pertama terhadap korban musibah atau kecelakaan oleh masyarakat awam, sering tak didukung adanya pengetahuan yang memadai. Sehingga bisa membahayakan. Berangkat dari hal tersebut, mahasiswa Departemen Desain Produk Industri (Despro) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya merancang aplikasi seluler panduan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) untuk orang awam.

Adalah Sarah Aghnia Husna, yang menyadari pentingnya pengetahuan mengenai pertolongan pertama tersebut. “Masyarakat sebenarnya memiliki kesadaran pentingnya pengetahuan akan pertolongan pertama. Tetapi, sarana informasi dirasa kurang memadai,” kata gadis berhijab ini.

Sarah Aghnia Husna

Kekurangan tersebut, kata Sarah, terletak pada segi visualisasi, detail penyampaian instruksi, dan bahasa yang sulit dipahami orang awam tentang petunjuk P3K yang ada selama ini. Karena itu, aplikasi yang diberi nama Saraya dengan slogan You Can Help Now ini menawarkan konsep desain yang komunikatif dan familiar.

“Aplikasi ini ingin menyampaikan informasi secara cepat dengan jembatan visual dan mengangkat materi sehari-hari,” tutur mahasiswi asal Malang ini. Sarah juga menekankan, konsep materi yang diusung yaitu dos and don’ts. Sehingga memudahkan pengguna dalam menyerap informasi yang dipaparkan dalam aplikasi.

Menurut Sarah, aplikasi ini melakukan serangkaian riset untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Yaitu, studi eksisting, depth interview, kuisioner, expert review, dan user testing. Aplikasi mobile instruksi medis pertolongan pertama ini diterapkan pada perangkat android dengan ukuran lima inchi. Ilustrasi yang digunakan berupa gaya gambar komik menggunakan outline agar penyampaiannya ringan dan dengan konten teks yang singkat, tapi padat.

Aplikasi P3K

Pemilihan warna pun tak luput dari pandangannya. Dalam penggunaan warna untuk konten ilustrasi, digunakan warna biru tua sebagai warna dasar. Warna merah untuk menandakan materi yang bersifat larangan, dan warna kuning untuk menandakan konten yang bersifat benar atau anjuran.

“Penggunaan satu warna sebagai warna dasar ilustrasi ditujukan agar pengguna fokus pada bentuk dan panduan yang diberikan. Sehingga memudahkan transfer informasi,” paparnya. Selain itu, ia mengatakan, penggunaan warna merah dan kuning sebagai penanda anjuran dan larangan dirasa dapat menonjol dan menarik perhatian pengguna. Sehingga materi tersebut benar-benar mendapatkan sorotan.

Menurut dia, konsep komunikatif dan familiar pada aplikasi Saraya ini telah berhasil dengan nilai rata-rata 4.1 dari 5 dengan standar deviasi 0.6. Bahkan, Sarah mengklaim, aplikasi Saraya sudah komunikatif (80,6 persen) dan familiar (82,6 persen) bagi orang awam. Baik secara konten maupun media. Berkat karya aplikatif yang merupakan Tugas Akhir (TA) ini, telah mengantarkan Sarah, untuk menjadi wisudawan ITS pada 16 September 2018.

Sarah mengungkapkan, masih ada pengembangan-pengembangan yang harus dilakukan kedepan untuk membuat aplikasi ini semakin bermanfaat bagi masyarakat luas. “Pengembangan aplikasi dapat dilakukan untuk mengikat pengguna dan memikat sponsor serta melakukan perancangan aplikasi sesuai jenjang pendidikan dan bertahap. Sehingga materi yang diberikan dapat menjadi sebuah kurikulum yang tersruktur. Terlebih lagi saya sangat terbuka dengan kerjasama dari berbagai pihak,” pungkasnya. (bw)