Awas Malaria & Dengue

17

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – MENDADAK ada kabar, bahwa pada akhir Agustus lalu, 50 pengungsi gempa Lombok Barat menderita penyakit  malaria. Pada akhir minggu pertama September, jumlah penderita di Kecamatan Gunungsari di Lombok Barat menjadi 103 orang. Padahal, sebelum ada gempa bumi yang mengguncang dan menghancurkan ribuan bangunan serta menewaskan lebih dari 515 orang dan ribuan yang luka-luka, keberadaan penyakit malaria tak pernah diberitakan. Ternyata kawasan di Nusa Tenggara Barat/NTB itu menyimpan  bom waktu berupa nyamuk-nyamuk malaria. Meledaknya baru sekarang menjadi kasus KLB (Kejadian Luar Biasa) usai diguncang gempa. Mungkin, waktu itu diketahui terdapat beberapa ekor saja nyamuk malaria. Tetapi diabaikan, bahwa kawannya jauh lebih banyak. Kesempatan menggigit korban sebanyak-banyaknya karena pengungsi tidur terbuka di tenda-tenda. Akibatnya, meledaklah wabah penyakit malaria di tempat pengungsian itu.

Akan tetapi, yang tidur atau bertugas malam hari di lokasi tersebut juga ada petugas maupun relawan. Karenanya, dimungkinkan juga menjadi sasaran gigitan nyamuk Anopheles betina yang membawa bibit parasit plasmodium. Itu berarti, bisa saja bibit penyakit tersebut menyebar ke wilayah lain di negara kita, karena terbawa petugas atau relawan di dalam tubuhnya ketika kembali dari bertugas di Lombok. Meskipun di lokasi pengungsi di Lombok Timur dan utara disemprot dengan cara fogging, bukan berarti bibit nyamuk malaria itu sudah tumpas.

Kita tahu, bahwa penyakit malaria di Jawa Timur/Jatim sudah bisa dikatakan ditumpas pada 1960-an hingga tahun 1980-an. Waktu itu dibantu tenaga kesehatan, unit-unit kendaraan dan obat-obatan dari World Health Organization (WHO). Tetapi sekitar tahun 2000-an, ada kasus penderita malaria disalah satu kabupaten. Teliti punya teliti, bibitnya dibawa warga kabupaten yang pernah bertugas di Papua. Provinsi yang sering dianggap “gudang malaria”. Mungkin di salah satu atau beberapa kabupaten masih ada kantung-kantung penyakit malaria. Atau orang-orang yang menderita malaria. Akan tetapi kita bersyukur, bahwa penyakit itu tidak mewabah.

Jadi, jangan sampai bibit malaria yang dibawa nyamuk anopheles dan menggigit orang-orang yang usai bertugas dalam kerja sosial dari Lombok itu memasuki provinsi kita secara tak sengaja. Orang bersangkutan saat itu mungkin tak merasakan dampak penyakit tersebut karena kesibukan aktivitasnya. Baru ketika usai beraktivitas dan kembali ke rumah asal masing-masing, muncullah penyakit itu. Artinya, Dinas Kesehatan ataupun organisasi-organisasi kesehatan yang bersosial di Lombok, hendaknya segera memberikan obat-obatan anti malaria kepada mereka saat ini. Kita perlu kepedulian terhadap kesehatan mereka yang telah berjuang membantu derita rakyat bagian timur-utara Lombok. Masalahnya, malaria juga dikategorikan sebagai “penyakit pembunuh”. Terutama bagi anak-anak yang rentan tertular. Kalaulah orang bersangkutan merasakan, bahwa sakitnya (seperti panas dan demam) itu akibat malaria. Sebaiknya segera berobat ke dokter di puskesmas atau rumah sakit. Hal itu bukan hanya untuk kesehatan dirinya sendiri, akan tetapi dikawatirkan ada nyamuk anopheles sedang keliling daerah, bisa menularkannya pada keluarganya dan orang-orang lain.

Sementara itu, musim kemarau yang panas sekarang bisa menyisakan genangan-genangan air di waduk atau embung desa atau sisa-sia genangan air dari sungai yang mengering. Tempat-tempat yang bisa saja menjadi sarang berbagai jenis nyamuk. Sedangkan bulan depan, sekitar November tahun ini, musim hujan sudah mulai tiba secara merata. Berarti, sejak bulan-bulan lalu hingga musim hujan tersebut adalah apa yang disebut “musim pancaroba”. Yakni, musim pergantian dari musim hujan  ke musim kemarau dan begitu pula sebaliknya.

Apa hubungannya antara musim dengan penyakit?

Sudah berulangkali dan lazim, dalam musim pancaroba itu meledaklah penyakit demam-berdarah (dengue). Nyamuk-nyamuk jenis Aedes aegypti betina yang membawa virus dengue menjadikan manusia di daerah tropis dan sub-tropis menderita penyakit demam berdarah. Terdapat 4 jenis virus demikian. Kalau seseorang sudah menjadi penderita dan sembuh dari salah virus, masih rentan terhadap virus lainnya. Banyak kematian (terutama anak-anak) akibat demam-berdarah, karena tinggi panas badannya bisa mencapai 40-41 derajat Celcius. Susahnya, belum ada obat terhadap virus itu, kecuali obat-obatan guna meringankan demam dan rasa sakitnya.

Jadi, begitu banyak ancaman dari penyakit yang paling populer saat ini. Pencegahan dari ancaman nyamuk malaria dan terlebih demam berdarah merupakan hal yang utama. Jangan sandarkan kepercayaan pada cara fogging saja. Apalagi bila pelaksanaan dan terutama cairan kimia untuk fogging tersebut diragukan ukuran campurannya. Pada akhirnya, harapan tulus diarahkan kepada Dinas Kesehatan Kota, Kabupaten maupun Provinsi, untuk siap diri bagaimana cara dan kemampuannya demi mengantisipasi agar tidak terjadi wabah penyakit-penyakit tersebut. (amak syariffudin)