Ini Perjuangan Pelaku UMKM yang perlu Ditiru

577

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Pelaku Usaha Menengah Kecil Mikro/UMKM tahan banting. Salah satunya, Siti Djumaijah. Wanita yang lahir di Surabaya 45 tahun yang lalu itu, seperti orang kebanyakan. Namun, dia memiliki semangat dan kesabaran yang luar biasa. Pembawaannya sabar dan tidak pernah marah.

Siti Djumaijah, seorang pelaku UMKM dibidang makanan dan minuman. Usaha itu dijalaninya di sela-sela aktivitas pekerjaannya sebagai karyawan di pabik sepatu di Surabaya Barat. Jadwal kerjanya tidak seperti pada umumnya yang masuk setiap hari. Dalam 3 bulan ia hanya masuk beberapa hari saja.

Sebenarnya, bukan masalah jam dan hari kerja yang menjadi keresahan hatinya. Tetapi suasana di tempat dia bekerja yang dinilai kurang bersahabat. Dia sering dilecehkan dan dikucilkan beberapa rekan kerjanya hanya karena dia termasuk orang yang kurang beruntung perekonomiannya.

Puding sedot, produksi Siti. (Foto/nanang)

“Ditengah jadwal pekerjaan yang sering libur itu, saya sering ikut pelatihan membuat minuman Pejuang Muda di Kaza setiap Sabtu dan Minggu,” kata Owner UMKM Vidiyah 123 Siti Djumaijah, kepada Bisnis Surabaya Minggu (9/9) kemarin.

Pelatihan yang diikutinya setiap hari Sabtu itulah yang merubah jalan hidupnya. Dia mulai mencoba membangun usaha sendiri dengan membuat aneka minuman dan makanan. Seperti, puding sedot, selasih kelapa jeruk (selaruk), es kopyor, dan aneka juice buah, serta masakan dan snack.

“Minuman puding sedot saya kemas dalam botol, dan memiliki aneka varian rasa seperti strawberry, bubblegum, vanilla, greentea, taro, durian, chocolate dan mochacino. Dengan komposisi 75 persen puding, dan 25 persen air,” jelas istri Vidie Nor Achmadie.

Awalnya, ibu tiga anak ini, kesulitan memasarkan produknya di toko toko. Pernah juga dititipkan disatu tempat tapi barangnya tetap utuh tidak ada yang terjual sama sekali. Sampai dia meminta penjaga tokonya untuk mencicipi. Barangkali rasanya ada yang salah atau tidak enak.

Seiring perkembangan waktu dan dibarengi kerja keras serta kesabaran yang tinggi, produknya bisa diterima di pasaran. Order dari penjualan online melalui jejaring media sosial seperti whatsapp, facebook, dan instagram tiap hari mengalir deras. Belum lagi penjualan offline melalui yang dititipkan di Siola, Balai Kota, dan penjualan keliling di sekolah-sekolah.

Dari penjualan minuman puding sedot kemasan, Siti Djumaijah, mampu mengantongi omzet sekitar Rp 5 juta per bulan. Dan dia berhasil membeli 1unit sepeda motor dan 2 lemari es untuk pengembangan usahanya.

Berbagai pameran untuk mengenalkan produk jualannya kepada masyarakat serta untuk meningkatkan penjualan, juga dilakukannya. Antara lain, di Grand City, World Trade Centre (WTC), dan Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan.

Siti Djumaijah, mengaku kemajuan usaha yang dicapainya saat ini tak lepas dari motivasi dan bimbingan dari teman-temannya sesama pelaku UMKM. Baik yang ada di PM maupun di Surabaya Best Kreatif.

“Tidak berlebihan jika saya berterima kasih kepada Mas Agus Wahyudi, Mas Kisworo dari PM, dan Mas Indra dari Surabaya Best Kreatif. Merekalah yang selama ini menyemangati saya,” tambah Warga Nginden ini.

Harapan wanita berhijab ini sangat sederhana. Selain ingin memberangkatkan umroh orang tuanya, dia juga ingin menjadikan kehidupan perekonomian ketiga anaknya lebih baik lagi. Supaya mereka tidak mengalami kepedihan yang pernah dia rasakan. (nanang)