Kasih Sayang dalam Lukisan di Artotel

555

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Mengenal seniman lukis modern. Siapa tak kenal Indra Setiawan? Seorang pelukis muda asal Malang yang karya lukisannya penuh dengan warna pop dan figur naif yang akrab dengan seni pop kontemporer yang berwarna cerah tapi tegas. Ada bayangan minim pada unsur kepolosan pada setiap karyanya.

Karya yang dihasilkannya pasti mengundang penikmat seni melakukan dialog menyenangkan tanpa mengharapkan apresiasi yang berlebihan.

Pelukis Indra Setiawan, saat melukis. (Foto/nanang)

Indra Setiawan, tergolong seniman kontroversal. Laki-laki kelahiran Mojokerto ini memberikan sentuhan yang berbeda pada spanduk demo buatannya saat dia diminta tolong petani di Jawa Tengah/jateng pada 2016.

Jika biasanya spanduk demo bergambar tangan mengepal dengan tulisan merah menyala, Indra, justru membuat spanduk bergambar kartun dengan menggunakan tulisan warna lembut yang menyejukkan.

“Banyak orang senang dengan spanduk buatan saya. Kata mereka, sejak bangun tidur kita sering melihat gambar kehidupan yang seram. Karena itu, jangan terus-terusan dijejali gambar yang menegangkan apalagi menakutkan,” kata Pelukis Indra Setiawan, kepada Bisnis Surabaya Jumat (7/9) lalu.

Dengan mengusung thema “The earth without art is just eh”, Jumat (7/9) September Indra, mengadakan pameran seni di Hotel Artotel Surabaya.

Puluhan karya seni lukisan yang berthemakan pop culture atau kasih sayang serta mengandung konsep baru. Yaitu, menggabungkan seni dan teknologi digital yang dituangkan dalam kanvas di pamerkan disana.

“Mencintai itu mengandung makna yang luas. Misalnya, mencintai waktu dan pekerjaan,” kata seniman berambut panjang ini.

Lukisan Indra, kebanyakan bergambar perempuan dengan wajah pirus yang karakternya mengambil inspirasi cerita kartun Korea. Diantaranya, lukisan perempuan yang sedang menantikan seseorang yang tidak pernah pulang sejak kerusuhan Mei 1998, dengan komentar ‘yang ditinggal takkan pernah diam, mempertanyakan kapan pulang’.

Indra, juga memanfaatkan betul momen pameran di Artotel. Biasanya, dia melukis mural hanya di tembok yang ada di jalan atau di gang. Kini dia bisa dengan bebas mencoret- coret tembok ruangan hotel.

“Kapan lagi saya bisa corat- coret tembok hotel, kalau bukan sekarang? tambah Indra. (nanang)