Bunga dari tangkai bawang putih. (Foto/ist)
Gresik, (bisnissurabaya.com) – Kreatif dan inovatif. Dua kata ini dapat menggambarkan sosok ibu rumah tangga pembuat krisan. Krisan adalah nama produk kerajinan tangan yang berasal dari bahan kulit dan batang bawang putih. Kerajinan ini dikembangkan di rumahnya, Kota Baru Driyorejo/KBD Gresik.
Salah satunya Sujila, wanita yang memiliki keterampilan membuat kerajinan bunga berbagai macam bentuk . Dulu, dia seorang kepala sekolah di Sekolah Dasar/SD Negeri Kaliasin 1 Surabaya.  Sekolah ini disebut sebagai penyelamat bumi. Semua limbah yang ada di lingkungan itu dimanfaatkan dengan baik dan dijadikan sebagai sesuatu yang bermanfaat.
Kini, di sekolah itu sudah banyak kerajinan yang dihasilkan. Mulai dari tutup galon, dompet, kotak tissue, tutup botol, tas dan masih banyak lagi. Salah satunya, bunga dari tangkai bawang putih ini yang diterapkan kepada tetangga dan lingkungan sekitar rumah.
Awalnya, cerita Sujila, ketika ibu-ibu di komplek rumahnya ada acara peringatan 17 Agustus yang ingin membeli bros. Tetapi harganya sangat mahal. Karena mahal, akhirnya dia menawarkan bros kepada tetangnya dan mereka menyukainya. Wanita setengah baya ini ternyata juga pecinta lingkungan.
‘’Di rumah saya, ada tanaman hidroponik. Semua limbah apapun dimanfaatkan supaya menjadi sesuatu yang bernilai seni tinggi,’’ kata Sujila, kepada bisnissurabaya.com Jum’at (7/9) siang. Ibu tiga anak ini kemudian meceritakan tentang proses membuat bunga. Mulai dari alat dan bahan. Diawali dengan mengambil tangkai bawang putih, pisau, pewarna dan lem tembak.
Kemudian, potong tangkai bawang agak serong dengan menggunakan pisau. Setelah itu, rebus pewarna kemudian masukkan tangka bawang yang sudah dipotong itu kedalam pewarna tadi. Setelah selesai tiriskan dan dijemur sampai kering.
Proses selanjutnya, kemudian ditata rapi dan direkatkan dengan menggunakan lem tembak. ‘’Kalau bawahnya ingin bagus bisa menggunakan kertas karton yang tebal agar hasilnya maksimal dan bagus,’’ ujar nenek yang memiliki lima cucu ini. Perempuan 61 tahun ini mempunyai harapan agar generasi penerus ilmunya jangan dari buku dan ilmu pengetahuan saja. Tetapi harus melatih skill kreativitas. Karena, jika sudah hidup di lingkungan masyarakat, ilmu matematika, ipa menjadi tidak penting. Yang terpenting kita harus terampil. (nisa)