Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Pelemahan nilai tukar rupiah pada level 15.000 diperkirakan dapat mendongkrak inflasi serta mempengaruhi harga jual barang konsumsi semakin mahal.

Bahkan dikhawatirkan bisa menurunkan daya beli masyarakat (wait and see) terutama masyarakat dengan pendapatan 40 persen akan terbawah. Bila tidak cepat diatasi pemerintah kemungkinan bisa inflasi sebesar 3,8 persen pada kuartal lima ini karena depresiasi rupiah.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira mengatakan depresiasi terhadap rupiah bisa memicuh daya konsumsi masyarakat kian lesu. Apalagi, tak sedikit bahan pangan yang diimpor.

Ia menilai bahwa ada beberapa bahan pangan, seperti bawang putih, gula, dan beras masih ketergantungan pada impor. Pelemahan rupiah dapat menyebabkan harga barang-barang tersebut cenderung naik dan tentu berdampak pada daya beli masyarakat jadi menurun.

“Bila pelemahan rupiah terus berlanjut tentu himbasnya hampir semua lapisan masyarakat terkena dampak. Apalafi paling rentan kelas bawah karena pendapatan terbatas. Itu memengaruhi daya beli kebutuhan masyarakat dari lapisan yang kurang mampu,” jelas Bhima.

Belum lagi pelemahan rupiah berpengaruh terhadap produksi barang di Indonesia. Sebagian besar bahan baku barang produksi di Indonesia masih impor. “Barang-barang banyak diimpor, sementara Indonesia mengimpor banyak menggunakan kapal-kapal asing yang dengan membayar menggunakan dollar AS, bahan baku impor menjadi lebih mahal, biaya produksi barang-barang meningkat dan di sisi lain biaya kebutuhan logistik juga naik tentunya,” tandasnya.

Sehingga daya beli masyarakat saat ini semakin lesu. Jika biaya produksi naik dan daya konsumsi masyarakat menurun, maka kekhawatirannya dapat menekan keuntungan pengusaha domestik.

Sementara itu, VP Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, transmisi dari pelemahan nilai tukar yang berlanjut akan mendorong kenaikan inflasi khususnya dipengaruhi oleh imported inflation. Ya, kenaikan inflasi selanjutnya akan mempengaruhi konsumsi rumah tangga.

Jika inflasi cenderung tinggi maka daya beli masyarakat cenderung menurun. “Namun bila BI dan pemerintah sudah berkomitmen untuk tetap menjaga stabilitas rupiah dalam jangka pendek yang diharapkan dapat mengelola ekspektasi nilai tukar sehingga harapannya dapat meredam transmisi pelemahan nilai tukar rupiah pada inflasi dan tingkatvkonsumsi rumah tangga,” katanya.

Seperti diketahui lemahnya nilai rupiah terhadap dollar, beberapa hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mengantisipasi pelemahan rupiah, yakni mengurangi belanja barang-barang impor, berhemat untuk jangka panjang seperti saat Lebaran, dimana harga barang-barang naik, serta berinvestasi ke barang-barang yang tidak terlalu terpengaruh oleh inflasi seperti emas dan properti.(ton)