Rintis Usaha Madumongso saat Pensiun

643

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – “Muda gembira, tua bahagia, mati masuk surga”. Begitulah kira-kira jawaban yang akan diberikan banyak orang jika ditanya apa keinginannya dalam hidup. Kondisi seperti itu juga yang diinginkan Hari Subagyo, pria kelahiran Surabaya, 1956. Di usia lanjut ini, dia ingin menghabiskan hari-harinya bersama istrinya Dina Fatmaningsih, di rumah seperti kebanyakan orang.

Namun, ternyata menghabiskan waktu dengan diam berpangku tangan tanpa ada kegiatan, membuat laki-laki 62 tahun ini jenuh juga.

“Untuk kesibukan saya membuka usaha pembuatan kue madu mongso. Awalnya, istri saya membuat hanya untuk dikonsumsi sendiri. Tetapi, karena banyak yang pesan, akhirnya kami jualan madu mongso,” kata Hari, Owner Madu Mongso Berkah kepada Bisnis Surabaya Selasa (4/9) lalu.

Hari menunjukkan madumongso produknya

Sebelumnya Hari, adalah seorang profesional yang bekerja sebagai quality manager di PT Philips sebuah perusahaan belanda selama 40 tahun. Dan pensiun pada 2013, kemudian dia diminta bergabung di perusahaan busana muslim Shafira Bandung untuk memperbaiki managemen disana.

Kemampuan Hari, sebagai seorang quality control sangat berguna dalam menjalankan usaha pembuatan produk madu mongso miliknya. Dia sangat teliti mengontrol prosesnya satu persatu. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi sampai pengemasan.

“Untuk menghasilkan madu mongso yang mempunyai kualitas sempurna, dibutuhkan 3 hari 4 jam,” jelas Hari, yang juga ayah tiga anak ini. Untuk menjaga kualitas rasa madu mongso, dia, belajar dan minta bimbingan kepada Chef Hariyanto, dari Hotel Shangrilla Surabaya.

Madumongso buatan Hari, mempunyai ciri khas teksturnya lembut dan masih terlihat partikel ketan hitamnya. Rasa enak, kemasannya juga dibuat sangat menarik. Sehingga layak dijadikan oleh-oleh untuk diberikan kepada keluarga ataupun relasi.

Bagi pria yang pernah bertugas di Singapura, Malaysia, Filipina, China, Belanda, dan Venezuela ini, kemasan bukan hanya sebagai pembungkus. Tetapi juga dimaksudkan sebagai pembeda yang berfungsi sebagai penguat produk.

Ia pernah punya pengalaman tentang kemasan. Hari, mendapat pesanan dari Pakanbaru. Dia menggunakan mika besar biasa. Ternyata sampai di lokasi produk sudah acak-acakan dan tidak rapi susunannya.

Dalam memasarkan produknya, pasangan Hari dan Dina, hanya mengandalkan model marketing tradisional dari mulut ke mulut di berbagai komunitas yang di tekuninya. Seperti arisan, pengajian, hadrah dan lain-lain. Saat Idul Fitri 2017 pesanan madumongso mencapai 65 box. Sedangkan lebaran 2018 mengalami peningkatan sampai 150 box.

Usaha yang dibangun Hari telah berkembang. Bahkan, saat ini mempunyai 4 orang pegawai. Untuk menunjang usahanya, pria yang pernah menjadi dosen terbang di Universitas Petra untuk mata kuliah ilmu terapan ini telah melengkapi usahanya dengan perizinan seperti SIUP, TDP, PIRT.

Sebagai seorang profesional, Hari, menciptakan sistem operasional pada usahanya itu. Dia mulai mendelegasikan sebagian pekerjaan dan tanggung jawab pada karyawannya. “Saya juga ingin bisnis ini jalan, dan pemiliknya bisa jalan-jalan,” tambah Hari, yang juga pengurus karang werdha ini.

Kedepan Hari, ingin berbagi ilmu membantu Kelurahan Dukuh Menanggal, tempat dia tinggal untuk mengkoordinasikan dan membina usaha menengah kecil mikro (UMKM) yang ada di wilayah tersebut. (nanang)