Kisah Wanita Cantik Bangun Usaha Abon Sambal

639

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Sambal merupakan makanan khas Indonesia yang cukup dikenal. Apalagi, mempunyai berbagai varian rasa. Seperti sambal klotok, roa, teri, bawang, bajak, kecap, dan lain-lain. Banyaknya peminat sambal, menjadikan bisnis pembuatan sambal kemasan botol berkembang di pasaran. Adalah Sri Wahyuni, yang akrab disapa Ninik, pengusaha yang sukses berbisnis pembuatan sambal.

Sambal buatan Ninik, berbeda dengan sambal kemasan yang sudah ada di pasaran. Dia memproduksi sambal dalam bentuk abon sambal klotok pedas dengan tiga level. Yaitu, original, pedas, dan super. “Awalnya, abon klotok saya konsumsi sendiri terutama untuk bekal perjalanan ke luar negeri,” kata Sri Wahyuni, Owner Abon Klotok Ning Ninik, kepada Bisnis Surabaya rabu (5/9)

Sri Wahyuni, saat santai sambil membaca tabloid Bisnis Surabaya. (Foto/nanang)

Sebelum terjun dibisnis sambal, Ninik, adalah seorang pelaku multi level marketing (MLM) yang sukses. Dia sering mendapat reward perjalanan liburan ke luar negeri. Seperti Singapura, Malaysia, Thailand, China dan naik kapal pesiar Royal Cruise. Pada saat di kapal pesiar itulah dia  mengenalkan sambalnya ke rekan-rekan perjalanannya.

Walaupun sering ke luar negeri, sesungguhnya dia mengawali usahanya dalam keadaan sulit. Anaknya sakit sinusitis dan sesak nafas selama 3,5 tahun dan sering opname di rumah sakit. Kondisi itu, membuat ibu dua anak ini mengundurkan diri dari pekerjaannya di koperasi karyawan pemerintah kota (pemkot) Surabaya.

Padahal, saat itu istri dari Mulyono, ini juga sedang menjalankan usaha penjualan makanan frozen. Seperti siomay, dimsum, roti maryam, donat kentang, dan sambal yang dijual di kalangan pegawai pemkot yang jadi relasinya. Setelah keluar dari pekerjaannya, wanita cantik warga Siwalankerto Timur ini konsentrasi pada usaha pembuatan sambal.

Awalnya, dia bekerja sama dengan salah satu keluarganya dalam pembuatan sambal. Karena sering kelelahan, akhirnya dia mengerjakan sendiri setiap hari Sabtu dan Minggu. Dia mampu memproduksi 2,5 kg tongkol atau setara 32 botol. “Saya menangani sendiri semua prosesnya, mulai dari belanja bahan di Pasar Pabean sampai pemasaran,” jelas alumni Fakultas Ekonomi Akutansi Unitomo ini.

Produk Abon Sambal Klotok. (Foto/nanang)

Setelah mengikuti seminar bisnis yang diadakan Prof Ebo tentang bisnis bermodal KTP dan sering mengikuti pelatihan di group UMKM, perempuan berhijab ini semakin mantap membangun usaha sendiri di bidang pembuatan abon sambal. “Ternyata menjadi pengusaha itu penghasilannya tidak terbatas. Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya,” tambah Ninik, yang penah ikut Pahlawan Ekonomi (PE) dan mengidolakan Ayu Cookies ini.

Kini usaha yang dirintisnya berkembang pesat. Produknya telah dilengkapi perizinan SIUP, TDP, dan PIRT. Produk tersebut selain di resaler, dan di pasarkan secara online seperti whatsapp, facebook, dan instagram, produknya  juga diterima di pasaran. Seperti, di Patata, Boga Jaya, dan Siola. Di Boga Jaya Bandara mampu terjual sampai 350 botol dalam 2 minggu.

Pernah ada resaler seorang tenaga kerja wanita (TKW) di Taiwan order sambal buatannya. Pesanan seberat  2 kilogram tersebut dikirimnya lewat ekspedisi JNE. Dalam sehari mampu menghasilkan sambal sampai 100 botol. Dia juga telah memperkerjakan 4 orang tetangganya sebagai pegawai harian. Keberadaan pegawai ini sangat memotivasi Ninik, untuk terus berpromosi supaya karyawannya bisa terus bekerja. Karena dia tidak sampai hati kalau harus meliburkan mereka.

Bagi Ninik, harta yang terindah adalah keluarga. Karena itu, impian terbesar Ninik, adalah membahagiakan keluarganya, terutama anaknya. Dia ingin mengajak mereka jalan-jalan ke luar negeri seperti dirinya. Selalu terbayang dalam ingatannya masa-masa sulit yang dialaminya. Termasuk, saat suaminya masih berstatus honorer, dan dia harus tetap berjualan walau dalam keadaan sakit thypus. Juga kenangan terindah saat dia menjalani prosesi wisuda sarjana sambil menggendong anaknya. (nanang)