(foto/ilustrasi/ist)

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp 15.000 per dolarnya sebagian kalangan ekonom menganggap bahwa perekonomian ini ada yang tidak benar.

Ada beberapa faktor dari dalam negeri yang menyebabkan terjadinya kondisi seperti sekarang. Sehingga, Pemerintah diharapkan tak hanya semata-mata menyalahkan faktor-faktor eksternal.

Ekonom dari Univeraitas 17 Agustus Surabaya DR Slamet Riyadi menilai, ada yang tidak beres dengan perekonomian Indonesia belakangan ini. Sehingga perlu beberapa faktor untuk perlu dihemat seperti belanja valuta asing dengan tidak melakukan studi banding ke luar negeri misalnya.

Sebab menurutnya menekan jumlah delegasi ke luar negeri agar menyeleksi ketat perjalanan luar negeri oleh pejabat negara dan jajaran BUMN. “Kondisi genting seperti pemerintah perlu melakukan pelarangan bagi BUMN menggelar tarvel fair seraya menggalakkan wisata domestik, dan melarang BUMN melakukan pembayaran dalam dollar,” ujarnya.

Agar tidak dalam merosot terus nilai Rupiahnya, lanjut ia, pemerintah perlu menargetkan seluruh perwakilan di luar negeri (Dubes) untuk memperluas serta membuka pasar baru di masing-masing negara tempat bertugas.

Yang gak kalah pentingnya perlunya mengevaluasi ulang proyek-proyek strategis terutama menguras devisa, seperti belanja pertahanan dan lainya “Kalau kondisi sudah normal, mungkin belanja yang tertunda bisa untuk dievaluasi lagi,” jelas Slamet.

Selanjutnya, perlu dilakukan saat ini oleh pemerintah yakni melakukan evaluasi tim ekonomi. “Sering para menteri yang membuat pasar domestik jadi kebobolan. Dengan gemar melakukan impor padahal pasar domestik masih memadai bahkan mencukupi, namun kebijakan-kebijakan kerap kali impor berdampak terhadap pasar domestik, sehingga tekanan dollar terhadap Rupiah tinggi, tak sebanding dengan input bagi pasar sendiri,” pungkasnya.(ton)