Surabaya, (bisnissurabaya.com) – “Kita harus menjadi orang yang bermanfaat, supaya hidup kita mulia di mata Tuhan dan sesama”. Demikian falsafah yang selalu dijadikan pegangan hidup H Abdulah Pusoro Djoyo Diningrat, pria kelahiran Surabaya 1971 dalam menjalankan berbagai usaha miliknya. Mulai kontraktor, production house/PH, bengkel, sampai warung angkringan.

Berbicara tentang angkringan Mak Joss, Pusoro, panggilan akrab H Abdulah Pusoro Djoyo Diningrat, teringat niat awal mendirikan usaha tersebut. Berawal dari keprihatinan  terhadap banyaknya pemuda yang masih menganggur di kampungnya. Padahal, mereka ada yang sudah berkeluarga.

(foto/patrik)

“Angkringan Mak Joss Bendul Merisi berdiri pada 2013, dimaksudkan untuk menampung para pemuda yang masih nganggur di sekitar wilayah tersebut,” kata H Abdulah Pusoro Djoyo Diningrat, Owner Angkringan Mak Joss kepada Bisnis Surabaya Kamis (30/8) lalu.

Pusoro, membangun angkringan bukan sekedar tempat makan. Tetapi ada sentuhan budaya dan edukasi. Apabila tamu berkunjung kesana, tidak hanya mendapati makanan khas Yogyakarta. Seperti, nasi kucing, aneka sate, aneka bacem, tengkleng, mie rebus, dan wedhang uwuh.

Tetapi juga suasana khas Yogyakarta dan alunan gending Jawa. Suasana tempat dan makanan yang unik membuat serasa benar-benar di Yogyakarta. Harga makanan yang murah terjangkau, membuat angkringan Mak Joss ramai dikunjungi berbagai kalangan. Mulai artis, pejabat, ulama, dosen sampai mahasiswa.

Sederet nama terkenal, seperti artis Sandi Tumewa, Kyai Topan, Kyai Hambali, Ning Sus Ponpes Genggong, Dosen Suko Widodo, Seniman Taufik Monyong, sering berkunjung kesana. Pada 2016, suami dari Hj Naning Prihatiningsih, ini membuka cabang angkringan Mak Joss di Jagir Wonokromo.

Kemudian, 2018 juga meresmikan cabang baru lagi di mall Maspion Square Achmad Yani. Pembukaan cabang baru di mall dimaksudkan untuk menciptakan image bahwa angkringan tidak hanya warung pinggir jalan, tetapi juga layak masuk mall. Saat ini, Pusoro, memiliki 32 karyawan yang bekerja di angkringan Mak Joss, belum termasuk beberapa karyawan yang bekerja incidental menggantikan karyawan tetap yang tidak masuk.

(foto/patrik)

Ada hal yang menarik dilakukan laki-laki ahli ibadah ini dalam perekrutan karyawan angkringan. Yaitu, mau mempekerjakan karyawan yang buta huruf dan memiliki keterbelakangan mental.

“Bagi saya, karyawan adalah aset penting. Karena itu, saya sangat memperhatikan mereka satu persatu. Jika terjadi masalah, saya selalu kumpulkan mereka untuk tabayun untuk menyelesaikan masalah. Untuk mengakrabkan, saya mengadakan gathering ke luar kota pada hari tertentu. Merupakan kebahagiaan tersendiri jika saya bisa memberikan gaji lebih kepada mereka,” jelas laki-laki keturunan Yogya dan Kediri ini.

Sebagai seorang pengusaha, dia mempunyai rahasia dalam menjalankan usahanya. Yaitu, menjalin kedekatan dengan semua orang. Melakukan promosi untuk mengenalkan dan mengingatkan usahanya kepada setiap orang. Menjaga kualitas produk, dan tidak lupa sodaqoh atau berbagi.

Dalam bekerja dia selalu meneladani Rasulullah dalam mengembangkan bisnisnya. Baginya, setiap pekerjaan membutuhkan proses yang tidak instant. Sehingga, setiap pengusaha harus tekun dan gigih. Dari sini, timbullah pernyataan bijak bahwa bekerja itu butuh proses, bukan protes.

Selain aktif menjalankan usaha, pria yang akrab disapa abah ini, juga aktif mengembangkan kesenian religious sholawat. Kelompok sholawat Kanjeng Bungkul dan Kanjeng Alit, sering tampil mendampingi Emha Ainun Najib, dalam acara Bang Bang Wetan di Surabaya.

“Saya selalu menyeimbangkan kegiatan bisnis dan ibadah dalam kehidupan. Saya menjalaninya dengan ikhlas dan tawakal,” tambah Arek Suroboyo ini. Kedepan, Pusoro memiliki impian mulia. Yakni, ingin membentuk jaringan pengusaha yang mau berbagi ilmu untuk mengajari kewirausahaan secara cuma-cuma kepada yang membutuhkan. Seperti, pensiunan, janda, mahasiswa, dan karang taruna. (nanang)